Kisah Kakek Renta, Merajut 300 Topi untuk Para Bayi Prematur

Seorang kakek tergerak hatinya untuk merajut topi yang akan diberikan pada bayi prematur. Usia tak menghalanginya untuk membuat suatu karya.

oleh Mulyono Sri Hutomo diperbarui 23 Nov 2016, 14:00 WIB

Liputan6.com, Jakarta Semakin bertambahnya usia, tentunya manusia mengalami kemunduran fungsi tubuh, seperti pandangan kabur, pelupa atau pikun. Tak hanya itu, lambat untuk mempelajari suatu hal yang baru juga dialami oleh lansia. Namun hal tersebut sepertinya tidak berlaku untuk seorang pensiunan berusia 86 tahun yang belajar merajut sendiri agar dapat menghadiahkan topi rajut buatan tangan untuk para bayi prematur.

Seperti dilansir dari laman Inside Edition, Ed Moseley, seorang kakek berusia 86 tahun yang sedang berjuang melawan kanker, tergerak hatinya untuk menjadi seorang relawan. Hal ini bermula ketika salah seorang staf Dogwood Forest Assisted Living di Georgia, Amerika Serikat meminta para penghuninya yang kebanyakan manula, membuat topi rajut untuk para bayi prematur.

Tapi, yang menjadi masalah adalah ia tidak tahu bagaimana caranya merajut.

"Selama saya hidup, saya tidak pernah merajut," kata Moseley. "Perusahaan mengatakan itu adalah sebuah rencana yang bagus untuk membantu para lansia untuk keluar dari masalah," lanjutnya.

Saat itulah ia mengulurkan tangan pada putrinya yang membelikannya sebuah perlengkapan merajut yang disertai dengan buku petunjuk penggunaannya.

Benar saja, Moseley yang seorang mantan insinyur, berlatih dengan cepat, dan mulai membuat sebuah topi rajut untuk bayi prematur.

Pada awalnya, butuh waktu hampir tiga jam untuk membuat satu topi rajut kecil, tidak termasuk waktu yang dibutuhkannya untuk memulai setelah menjatuhkan jahitan. Sekarang, ia sekarang dapat menyelesaikan setiap topi rajut kecil dalam waktu satu jam setengah.

"Saya bisa menonton TV sambil merajut secara bersamaan," katanya.

"Semua orang punya benang! Wanita-wanita harus piawai merajut benang," ungkapnya dengan nada gembira.

Seiring berjalannya waktu, para penghuni lain pun mulai tertarik untuk membuat topi rajut untuk bayi yang terlahir prematur. Target awal Moseley adalah menghasilkan 150 buah topi, namun hampir seluruh penghuni mulai mengisi sofanya dengan topi, dan kemudian banyak topi mulai berdatangan dari berbagai tempat.

Simak kelanjutan artikel dan tayangan videonya dengan mengeklik tautan berikut ini.

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini.

**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya yang sedang populer: Unik, Restoran di China Gunakan Kertas Sebagai Pengganti Panci Yuk, berbagi di Forum Liputan6.

Penulis

Lydia Viera Arumdhita - Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya