Neraca Dagang Agustus Diprediksi Surplus US$ 445 Juta

Hingga saat ini belum ada penguatan permintaan dari ekspor maupun impor secara signifikan, termasuk peningkatan daya beli masyarakat rendah.

oleh Fiki Ariyanti diperbarui 15 Sep 2016, 08:20 WIB
Suasana bongkar muat peti kemas di JICT, Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (22/10/2015). Mendag Thomas T. Lembong memproyeksikan, kinerja ekspor hingga akhir tahun akan turun 14% dan impor turun 17% secara year on year. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Kepala Ekonom PT Maybank Indonesia Tbk, Juniman memperkirakan surplus neraca perdagangan Indonesia di Agustus 2016 sekitar US$ 445 juta atau lebih rendah dari realisasi bulan sebelumnya sebesar US$ 598,3 juta. Faktornya karena kinerja ekspor belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

"Neraca perdagangan Agustus ini masih surplus US$ 445 juta. Pertumbuhan ekspor negatif 8,46 persen (yoy) dan impor negatif 9,63 persen (yoy)," ujar Juniman di Jakarta, Kamis (15/9/2016).

Secara bulanan, ia memprediksi nilai ekspor mengalami kenaikan menjadi US$ 11,65 miliar di bulan kedelapan dari sebelumnya US$ 9,58 miliar di Juli 2016. Sementara impor naik dari US$ 8,91 miliar menjadi US$ 11,21 miliar.

"Kinerja ekspor dan impor secara nominal (MoM) meningkat karena faktor musiman setelah libur Lebaran. Jadi bukan karena masalah apa-apa, hanya ada carry over di Agustus setelah libur panjang Lebaran," jelas Juniman.

Dia berpendapat, hingga saat ini belum ada penguatan permintaan dari ekspor maupun impor secara signifikan, termasuk peningkatan daya beli masyarakat masih lemah.

"Sampai akhir tahun diperkirakan ekspor dan impor masih tetap turun. Jadi pertumbuhannya masih negatif, sehingga perkiraan kami neraca perdagangan surplus US$ 5,5 miliar sampai US$ 7 miliar sampai akhir tahun ini," paparnya.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo memperkirakan surplus neraca perdagangan yang lebih rendah, sekitar lebih dari US$ 150 juta di Agustus 2016. "Ekspornya meningkat cukup tinggi tapi impornya juga naik. Jadi Agustus ini neraca dagang surplus US$ 150 jutaan," jelas Perry.

Diakui Perry, meski masih bermasalah dengan ekspor beberapa komoditas, namun ekspor barang manufaktur mengalami perbaikan, termasuk peningkatan harga minyak kelapa sawit.

Sementara dari sisi impor, sambungnya, terjadi peningkatan di impor bahan baku, di samping impor barang konsumsi. Ini menandakan kegiatan produksi dalam negeri kembali menggeliat karena bahan baku bukan hanya diperoleh dari domestik.

"Impor non migas juga naik, tapi jangan dilihat buruk karena peningkatan impor bahan baku menandakan kegiatan produksi di dalam negeri meningkat. Justru ini pertanda yang baik," kata Perry.(Fik/Nrm)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya