Sejak 2015, Lebih dari 100 Remaja di Kota Ini Berusaha Bunuh Diri

Para pemuda tanggung itu didera banyak persoalan. Mulai dari masalah keluarga, obat-obatan, kekerasan, hingga minuman keras.

oleh Khairisa Ferida diperbarui 22 Agu 2016, 08:00 WIB
Attawapiskat, kawasan pemukiman bangsa Aborigin (BBC)

Liputan6.com, Ottawa - Ketika Justin Trudeau mulai berkuasa sebagai Perdana Menteri Kanada pada April 2013 lalu, ia berjanji untuk memperbaiki hubungan negara dengan First Nation -- bangsa Aborigin yang lebih dulu berada di negara itu jauh sebelum kulit putih tiba. Mereka telah mengalami diskriminasi selama berabad-abad.

Salah satu kaum adat ini menghuni kawasan Attawapiskat di utara Ontario. Secara fisik, daerah ini sulit dijangkau membuatnya nyaris jarang dikunjungi pun secara politis mereka kerap terabaikan.

Selama bertahun-tahun belakangan, Attawapiskat menjadi bahan berita yang cenderung pilu didengar. Sejumlah perempuan dilaporkan hilang atau dibunuh dalam beberapa dekade terakhir sementara upaya bunuh diri meningkat secara dramatis.

Dikutip dari laporan jurnalis BBC, Stephen Sackur, Senin, (22/8/2016) pada Oktober 2015 lalu seorang perempuan bernama, Sheridan Hookimaw (13 thn) menuju ke tempat pembuangan sampah sebelum akhirnya menggantung diri.

Sejak saat itu, kurang lebih 100 dari 2000 populasi Attawapiskat melakukan upaya bunuh diri. Kebanyakan dari mereka adalah remaja, termasuk di antaranya seseorang yang baru berusia 11 tahun.

Kurang lebih 100 dari 2000 populasi Attawapiskat yang sebagian besar remaja melakukan upaya bunuh diri (BBC)

Jackie Hookimau, seorang guru yang berasal dari suku Cree yang juga merupakan bibi dari Sheridan mengajak Sackur berkeliling di Attawapiskat.

"Itu adalah instalasi pengolahan air. Satu-satunya tempat untuk mendapatkan air minum. Air yang keluar dari keran sangat beracun, warga tidak akan memakainya untuk mandi, terlebih meminumnya. Kami mendapat semua penyakit di sini mulai dari ruam hingga kanker," jelas Jackie.

Trek membawa Sackur dan Jackie ke sebuah gedung olahraga. Di sana terdapat sejumlah peralatan gym, beban, dan beberapa peralatan olahraga lainnya.

Dan di tempat itu pula Sackur bertemu Skylar Hookimaw (19 thn), kakak laki-laki Sheridan.

"Itu (kematian Sheridan) seperti tidak nyata, seperti tidak pernah terjadi, namun faktanya itu terjadi," ungkap Skylar sebelum akhirnya keheningan muncul beberapa saat.

Sackur tak mampu menahan diri untuk bertanya, "Mengapa ini kerap terjadi?," selidik wartawan itu.

"Masalah keluarga, bullying, obat-obatan, alkohol. Anak-anak merasa mereka ditinggalkan sendirian, seperti mereka tak ada artinya," jawab kakak laki-laki Sheridan itu.

Pada April lalu, 11 remaja tercatat berusaha melakukan aksi bunuh diri dalam satu pekan. Satu hari sebelum Sackur tiba di Attawapiskat, seorang gadis menyayat pergelangan tangannya sehingga ia harus dilarikan ke kota demi mendapat perawatan sementara satu pekan sebelumnya anak laki-laki dilaporkan berupaya gantung diri.

Menyusuri Sungai Attawapiskat, Jackie bercerita bahwa di sungai inilah mereka telah memancing, berburu angsa dan karibu sepanjang generasi yang sudah tak terhitung banyaknya. Dan di sungai yang sama pula mereka saling menghibur diri dengan bermain air, menyelam, atau sekadar bercanda.

"Anda tidak akan pernah tahu, tapi gadis-gadis itu berjuang. Generasi muda kami hilang. Mereka merasa tidak dihargai. Mereka merasa terputus dengan budaya mereka dan mereka membutuhkan bantuan," tegas Jackie.

Menanti bantuan datang

Lingkungan di Attawapiskat (BBC)

PM Kanada, Justin Trudeau mengklaim bantuan terhadap First Nation "tengah dalam perjalanan". Tak hanya itu ia juga menjanjikan sebuah awal baru yang menyegarkan antara pemerintah Kanada dengan 1,4 juta bangsa Aborigin di negara itu termasuk mengelontorkan lebih banyak dana, lebih fokus pada pendidikan dan kesehatan mental.

Trudeau juga melakukan penyelidikan terhadap fakta yang terjadi di kalangan kaum adat di era Kanada modern di mana tingkat kekerasan terhadap perempuan lazim terjadi. Dalam 30 tahun terakhir lebih dari 4000 perempuan adat dikabarkan hilang atau dibunuh.

Selanjutnya terungkap bahwa terdapat celah-celah yang tidak "menguntungkan" kaum perempuan di Kanada. Polisi, pengadilan, layanan sosial, semua institusi ini memiliki catatan kegagalan demi kegagalan yang memalukan dalam rangka melindungi, menyelidiki, menuntut, hingga peduli pada kasus kekerasan perempuan.

Di Calgary, sebuah kota kaya ternak dan minyak di barat Kanada, Sackur bergabung dengan keluarga Joey English, perempuan berusia 25 tahun yang tewas secara misterius. Tubuhnya yang sudah terpotong-potong ditemukan di sebuah taman kota pada Juni lalu.

"Ini seperti ketika Anda menyayat diri Anda sendiri dan Anda tidak bisa mengontrol aliran darah, itulah yang saya rasa," ujar ibu Joey, Stephanie mengenang kematian putrinya.

Hal senada diungkapkan nenek Joey, Patsy. "Saya sangat muak dengan sistem peradilan. Sangat lelah. Keluarga kami, saudara kami butuh bantuan,".

Di luar sebuah gereja kecil di Kanada, terdapat sebidang tanah yang menjadi tempat perayaan festival dan pameran tahunan Stampede. Ini adalah tanah bagi semua suku Aborigin mulai dari Blackfoot, Kainai, Cree, dan banyak lagi.

"Kami diajarkan untuk diam. Namun tak ada lagi cara untuk membuat kami diam," ujar Sandra Manyfeathers, adik dari Jacky Crazybull yang tewas dibunuh dalam festival Calgary Stampede sembilan tahun lalu.

Setiap tahun, puluhan perempuan Aborigin Kanada dibunuh atau menghilang secara misterius. Beberapa dari tubuh mereka ditemukan di sungai yang mengalir melalui jantung Winnipeg, salah satunya adalah Tina Fontaine (15 thn) pada Agustus 2014 lalu.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya