Top 3: Heboh Foto Pernikahan Dini Bocah 13 Tahun

Pengantin laki-laki tanpa nama itu baru saja menamatkan pendidikannya di salah satu SD di Jeneponto, sementara mempelai perempuan lebih tua.

oleh Ahmad YusranYuliardi Hardjo PutroArya Prakasa diperbarui 15 Jun 2016, 20:01 WIB
Ilustrasi Pernikahan (Ok Magazine)

Liputan6.com, Makassar - Kabar pelaksanaan pernikahan dini di Desa Gantarang, Kecamatan Kelara, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, yang dipublikasi di dunia maya, belum lama ini menghebohkan banyak netizen.

Lantaran dinilai tak masuk akal, hal itu mengundang amarah warga Turatea -- sebutan Jeneponto di Sulawesi Selatan.

Hingga malam hari ini berita tersebut berhasil menyita banyak perhatian pembaca Liputan6.com, terutama di kanal Regional, Rabu (15/6/2016).

Dua berita lainnya yang tak kalah populer adalah ular piton yang nyaris menelan bocah berumur lima tahun di Bengkulu dan seni menulis aksara kuno di atas kertas daun yang disebut daluang.

Berikut berita-berita terpopuler yang terangkum dalam Top 3 Regional:

1. Foto 'Pernikahan Bocah' Viral di Medsos, Warga Jeneponto Resah

Foto hoax pernikahan dini yang menghebohkan netizen dan warga Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. (Istimewa)

Foto pasangan suami istri (pasutri) yang mengenakan pengantin adat Bugis-Makassar menjadi viral di media sosial.

Bagaimana tidak. Dalam foto tersebut nampak kedua mempelai pengantin yang masih sangat belia.

"Celakanya lagi karena salah satu media online di Makassar langsung copas atau copy paste dan menyiarkan anak umur 13 tahun menikah. Pertama anak usia 13 tahun belum punya kartu tanda penduduk (KTP) sebagai syarat utama pernikahan di negara ini," ujar Alimuddin Daeng Lau, mantan Ketua Himpunan Mahasiswa dan Pelajar Turatea (HMPT) Komisariat UMI kepada Liputan6.com, Senin, 13 Juni 2016.

Adalah Iwank Saputra, sang fotografer yang menyebarkan foto pengantin bocah tersebut di Facebook, 5 Juni 2016 lalu.

Iwank menyatakan, bahwa pengantin laki-laki tanpa nama itu baru saja menamatkan pendidikannya di salah satu SD di Jeneponto, sementara mempelai perempuan lebih tua setahun.

Selengkapnya...

2. Ular Piton 10 Meter Nyaris Telan Bocah 5 Tahun di Bengkulu

Ilustrasi ular piton. (Sumber Shutterastock via content-loop.com)

 

Senin dini hari, 13 Juni 2016 sekitar pukul 01.30 WIB, Rafli yang tengah tertidur pulas di dalam pondok bersama kedua orangtuanya Franky Irawan dan Anita Wardhani tiba tiba menjerit ketakutan.

Franky dan Anita yang terbangun sontak kaget melihat putranya dalam kondisi terlilit ular dengan mulut yang menganga, siap memasukkan bagian kaki Rafli ke dalam mulutnya.

Dengan sekuat tenaga, pasangan orangtua itu berupaya menarik kepala dan kaki ular sambil mengeluarkan tubuh anak mereka yang terus menjerit.

Lebih dari setengah jam hingga sang ular berhasil ditaklukan 8 warga menggunakan senjata parang. Mereka memenggal kepalanya hingga putus dan diseret ke luar pondok.

Selengkapnya...

3. Daluang, Kertas Kuno Pengikat Mantra

Daluang hadir sebelum teknologi kertas yang digunakan sekarang ini. (Liputan6.com/Aditya Prakasa)

Seniman asal Bandung, Edi Dolan mempertahankan seni menulis di atas kertas daun yang disebut daluang.

Untuk menciptakan daluang, Edi terlebih dahulu menguliti batang pohon Saeh atau mulberry yang ditanamnya sendiri di pekarangan rumah. Kemudian, kulit Saeh itu direbus dengan air abu gosok agar kadar gulanya hilang.

"Digulung diikat dulu, digodognya (direbus) pakai air abu gosok untuk mengurangi kadar gula, dan mengawetkan kertasnya. Lalu direndam di air abu gosok itu, diangkat lalu dimasukkan ke plastik rapat. Jadi, fragmentasi lendir si kulitnya jadi rapat," tutur Edi.

Edi mengatakan, kertas daluang diciptakan sebelum pabrik kertas ada di Indonesia. Menurut dia, orang-orang zaman dulu menciptakan alat tulis dari mengolah alam di sekitarnya.

Edi mengaku diajari seorang pakar mengenai daluang hingga proses pembuatannya pada 2007. Hingga kini, Edy membuat mandiri daluang yang digunakannya untuk menulis replika naskah kuno.

Selengkapnya...

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya