Jakarta Pernah Menjadi Kota Tahi?

Konon asal mula nama Batavia berasal dari kata mambet tahi alias bau tahi. Benarkah Jakarta pernah menjadi kota tahi?

oleh Fadjriah Nurdiarsih diperbarui 15 Apr 2016, 16:31 WIB
Batavia Lama (Wikipedia)

Liputan6.com, Jakarta Apabila saat ini Jakarta dicitrakan sebagai ibu kota yang kejam pada orang miskin, ternyata dulu Jakarta pernah mendapat julukan Kota Tahi. Benarkah demikian? Konon bahkan di Jakarta ada tempat yang bernama Gang Tahi.

Alkisah ketika bala tentara Mataram menyerang Batavia, pihak kompeni sudah kehabisan peluru. Benteng Belanda hampir saja dapat direbut. Tiba-tiba pihak kompeni mengisi meriam-meriamnya dengan kotoran manusia dan menembakkannya ke arah pasukan-pasukan Mataram. Karena tidak tahan pada baunya, bala tentara Mataram itu lari mengundurkan diri sambil berteriak, “Mambet tahi! Mambet tahi! (bau tahi).”

Dari situlah, katanya, muncul nama Batavia. Itulah kisah-kisah yang kita jumpai dalam dongeng-dongeng tradisional Jawa seperti Babad Tanah Jawi dan sebangsanya. Bahkan dalam kitab Serat Baron Sakender disebutkan bahwa Kota Batavia dibagi menjadi dua bagian, yakni Kota Tahi dan Kota Inten.

Nah, apa yang ada dalam bayangan Anda? Tentu saja ini menggelikan dan aneh lantaran kita tahu benar nama Betawi berasal dari kata Batavia dalam pengucapan Melayu. Namun, apakah episode soal melempar kotoran manusia kepada musuh itu juga sebuah dongeng?

Nyatanya tidak. Cerita itu bukanlah rekaan orang Jawa untuk menutupi kegagalan mereka menyerbu Batavia.

Pada 1628 dan 1629 Kerajaan Mataram pernah dua kali menyerang Batavia. Begitu dahsyatnya pertempuran tersebut hingga muncullah kisah “Mambet Tahi” tersebut. Salah satu pertempuran paling “berdarah” dan “kotor” terjadi di sekitar kawasan Benteng Tepi Selatan, VOC, yang saat ini terletak di kawasan Stasiun Kota, Jakarta Utara.

Jan Pieterzoon Coen sendiri sudah bersiap-siap menghadapi serangan dari Mataram itu. Ia membelah Kota Batavia menjadi dua bagian. Di utara, berbatasan dengan pantai adalah Puri atau Kastil Batavia, sementara di sebelah selatan dibangun permukiman penduduk. Kastil Batavia dikelilingi benteng pertahanan, sementara di seluruh bagian kota dibuat parit-parit pertahanan yang airnya umumnya diambil dari aliran Sungai Ciliwung.

Waktu mulai terdengar bakal adanya serangan lagi, JP Coen memerintahkan dibangun parit baru yang membelah bagian paling selatan kota. Parit luar itu kelak dikenal dengan nama Zuider-Voorstad.

Di sisi selatan, tepat di tepi Ciliwung, dibangun benteng yang menjulang di atas tembok. Benteng ini dipimpin oleh Sersan Hans Maagdelijn, sehingga dikenal dengan nama Benteng Maagdelijn.

Serangan Mataram dihadapi pasukan JP Coen dengan gagah berani. Menurut keterangan van Rechteren seorang VOC yang datang ke Batavia pada September 1629, pada gelombang serangan ketiga tanggal 21 September 1928, terjadilah kehabisan peluru dan meriam-meriam diisi dengan kotoran manusia. Ia rupanya mendengar kisah itu dari penduduk setempat.

Raffles dalam bukunya yang terkenal, History of Java, menceritakan bahwa pasukan Belanda dalam Benteng Maagdelijn kehabisan peluru, sehingga mereka menggunakan batu dan benda-benda lain sebagai isi meriam.

Rafles juga menulis, “...even this resource failed; and as a last expedient, bags of the filthiest ordure were fired upon the Javans whence the fort has ever since borne the name of Kota Tai... [Jilid II, 1817, hlm 154).

Dalam Historical Sites of Jakarta, Adolf Heuken menyitir sebuah kisah berbahasa Jerman yang diambil dari tulisan Johan Neuhoff berjudul Die Gesentshaft der Ost-Indischen Geselschaft in den Vereinigten Nederlandern an den Tatarischen Cham yang diterjemahkan dari naskah Belanda 1666. Tulisan itu menceritakan sebuah batalion VOC yang nyaris hancur lebur oleh serangan bergelombang para prajurit Mataram. Di tengah krisis makanan, ketiadaan amunisi, serta runtuhnya semangat bertempur para pasukan, tiba-tiba seorang tentara bayaran asal Pfalz, Jerman, yang bernama Sersan Hans Madelijn memerintahkan pasukannya menyiramkan tinja ke tentara Mataram yang sedang berusaha memanjat tembok benteng.

Hendi Jo dalam Zaman Perang menyebutkan, demi mendapat serangan aneh dan menjijikkan itu, para prajurit tempur Mataram berloncatan dan lari lintang pukang. Sambil menutupi hidungnya, mereka menghindari Benteng Selatan seraya menggerutu, “O seytang orang Ollanda de bakkalay samma tay.” Ini adalah ungkapan bahasa Melayu Kuno yang berarti, “Dasar setan, orang-orang Belanda dia berkelahi pakai tahi.

Menurut Heuken, ini mungkin kata-kata Melayu pertama yang pernah tercatat dalam buku Jerman. 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya