117 Prajurit Satgas Pemadam Kebakaran Hutan Terkena ISPA

Prajurit yang kembali dari medan asap sesegera mungkin dipulihkan kesehatannya oleh tim medis TNI.

oleh Audrey Santoso diperbarui 28 Okt 2015, 22:21 WIB
Seorang komandan pleton TNI memberikan arahan jelang keberangkatan menuju Riau di Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta, Selasa (27/10/2015). TNI kembali memberangkatkan 1000 personil untuk membantu BNPB di Riau. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Liputan6.com, Jakarta - TNI akan merotasi Satgas Pemadam Kebakaran Hutan dan Lahan setiap 40 hari sekali. Sebab, saat ini, 117 dari 1.059 prajurit yang berangkat ke daerah asap pada kloter pertama terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Sekitar 2 bulan, mereka bertugas untuk memadamkan kebakaran hutan.

"Setelah saya adakan pengecekan dari 1.059 prajurit, 117 terkena ISPA. Makanya saya rolling, setelah 40 hari saya ganti," kata Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo usai acara Peresmian Serah Terima 1.000 Rumah Dinas Prajurit TNI di Batalyon Kavaleri (Yonkav) 7 Kodam Jaya, Cijantung, Jakarta Timur, Rabu (28/10/2015).


Ratusan anggota TNI yang tergabung dalam Satgas Pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan bersiap berangkat menuju Riau di Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta, Selasa (27/10/2015). Satgas ini rotasi dari pasukan terdahulu. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Menurut dia, prajurit yang kembali dari medan asap sesegera mungkin dipulihkan kesehatannya oleh tim medis TNI. Ini mengingat tenaga mereka terkuras setelah bekerja di tengah asap pekat mulai dari fajar menyingsing hingga langit kembali gelap.

"Begitu anggota kembali, mereka harus di-recovery kesehatannya. Mereka bekerja siang malam bukan melawan musuh, tapi asap," ujar mantan Kepala Staf Angkatan Darat ini.


Seorang petugas pemadam dari Kementerian Kehutanan Indonesia, bersama anggota TNI menyemprotkan air ke hutan lahan gambut di Parit Indah Desa, Kampar, Riau, Rabu (9/9/2015). Kebakaran lahan menyebabkan kabut asap di sejumlah wilayah. (REUTERS/YT Haryono)

 

Sejauh ini, tambah dia, TNI telah mendirikan 'rumah sakit' lapangan, 'dapur' lapangan dan menyiagakan kapal perang untuk mengangkut personel dan mengevakuasi warga. Selain itu, TNI menyulap kantor desa menjadi rumah singgah. Bagi warga yang merasa sesak akibat asap, dapat singgah di situ dan menghirup udara segar.

"Kemudian kita sediakan rumah-rumah singgah mulai dari kantor-kantor desa, jendelanya ditutup plastik agar asap tidak masuk lalu ada penyaring udara, fan, oksigen tapi belum menyeluruh," terang Gatot. (Bob/Ado)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya