Perenungan Diri dalam Tapa Bisu Mubeng Keraton Yogyakarta

Tradisi Mubeng Beteng ini sudah ada sejak Sri Sultan HB II.

oleh Yanuar H diperbarui 16 Okt 2015, 02:01 WIB
Abdi dalem Kraton Yogyakarta melakukan laku bisu mubeng benteng Kraton (memutari benteng kraton tanpa bicara) dalam memperingati Tahun Baru 1431 Hijriah di kawasan Pojok Benteng Yogyakarta.(Antara)

Liputan6.com, Yogyakarta - Hari menjelang tengah malam. Ribuan orang sudah berkumpul di Keben Keraton Yogyakarta sejak pukul 20.00 WIB. Lantunan macapat dan doa-doa tak henti mengalun dari bibir para abdi dalem.

Mereka bersiap mengikuti Mubeng Beteng malam 1 Suro, memperingati masuk awal tahun baru kalender Jawa Sultan Hagungan.

Ketua Panitia Tanggap Warsa 1 Mubeng Beteng Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat KRT Gondohadiningrat mengatakan, acara Mubeng Beteng tidak berbeda dengan sebelumnya. Acara dimulai pukul 21.30 WIB.

"Kenduri lalu pembacaan doa dan mocopatan. Nanti 23.50 WIB sudah disiapkan agar barisan tetap rapi terjaga," ujar Gondohadiningrat, Rabu 14 Oktober 2015 malam.

Tepat pukul 23.00 WIB, seiring dengan bunyi lonceng jaga, para abdi dalem lantas berbaris diikuti oleh masyarakat untuk persiapan prosesi Tapa Bisu Lampah Mubeng Benteng Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sekitar pukul 00.00 WIB, bregodo, abdi dalem, dan warga memulai prosesi Mubeng Beteng.

"Awal dari Bangsal Pancaniti, Keben Keraton Yogyakarta ini. Lalu berjalan Mubeng Benteng, jaraknya sekitar 4 kilo," ujar dia.

Gondohadiningrat menjelaskan, tradisi Mubeng Beteng ini sudah ada sejak Sri Sultan HB II, sebagai bentuk bakti masyarakat kepada raja raja. Hal ini menjelaskan Mubeng Beteng ini bukan kegiatan keraton, namun kegiatan yang diinisiasi masyarakat.

"Tapa Bisu Lampah Mubeng Beteng Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah prosesi yang dimaknai sebagai bentuk perenungan diri berupa tirakat atau lelaku. Sekaligus berdoa untuk Yogyakarta maupun Indonesia ke depan yang lebih baik," ujar dia.

(FOTO:Antara)

Saat Mubeng Beteng, masyarakat dilarang berbicara, minum, atau pun merokok. Perjalanan berlangsung dalam keheningan total sebagai simbol keprihatinan sekaligus evaluasi terhadap segala perilaku dan perbuatan selama setahun terakhir. Mereka khidmat mengikuti tapa bisu dengan dikawal anggota kepolisian.

"Banyak dari DIY. Tapi, masyarakat dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat juga ada yang ikut serta," kata dia.

Rute prosesi arak-arakan berawal dari Bangsal Pancaniti, menuju Jalan Rotowijayan, Jalan Kauman, Jalan Agus Salim, Jalan Wahid Hasyim, Suryowijayan, Pojok Beteng Kulon, Jalan MT Haryono, Pojok Beteng Wetan, Jalan Brigjen Katamso, Jalan Ibu Ruswo, dan berakhir di Alun-alun Utara.

Sementara, warga Mawas Klaten, Jawa Tengah Sobirin mengaku, sudah mempersiapkan semuanya termasuk doa-doa yang sudah dihafalkan saat mengikuti prosesi tersebut. Walau pun tidak menggunakan alas kaki, dia sigap mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta.

Ia memilih Keraton Yogyakarta daripada Keraton Solo karena lebih yakin dengan perhitungan kalender Sultan Hagungan.

"Setiap tahun selalu ikut. Sama rombongan dari Boyolali dan lainnya," ujar Sobirin. Ia menuturkan, saat mengelilingi benteng keraton, benar-benar tidak berbicara walau pun disapa orang di jalan. (Mvi/Rmn)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya