Gara-gara Harga Minyak, Shell Pecat 6.500 Karyawan

Penurunan harga minyak mentah dunia semakin memberi dampak ke produsen minyak.

oleh Liputan6 diperbarui 01 Agu 2015, 08:00 WIB
Royal Dutch Shell apa memecat 6.500 karyawannya tahun ini.

Liputan6.com, New York - Penurunan harga minyak mentah dunia semakin memberi dampak ke produsen minyak. Royal Dutch Shell apa memecat 6.500 karyawannya tahun ini. Perusahaan minyak asal Inggris, Centrica, juga bakal melakukan hal yang sama sebanyak 6.000 karyawan.

Selama dua bulan terakhir harga minyak bergerak di bawah US$ 49 per barel. Seperti ditulis CNNMoney, Sabtu (1/7/2015), revolusi energi yang terjadi di Amerika Serikat dan banyaknya produksi minyak dari negara OPEC membuat stok berlimpah.

Padahal, permintaannya sedang turun akibat pelemahan ekonomi global. Shell meyakini harga minyak bakal turun lagi.

"Penurunan harga minyak ini akan bertahan dalam beberapa tahun ke depan," kata CEO Shell, Ben van Beurden, dalam keterangan tertulisnnya. "Rencana (pemecatan) ini merefleksikan realitas pasar sekarang."

Perusahaan asal Belanda itu mengalami penurunan laba pada semester kedua 2015 yang cukup tajam. Shell juga bakal memangkas modal investasinya tahun ini sebanyak US$ 3 miliar. Rencana tersebut mendapat respon posiif pasar. Harga saham Shell terdorong naik 2,5 persen dalam perdagangan bursa London.

Turunnya harga minyak memang menekan kinerja perusahaan migas. Perusahaan lainnya Halliburton memutuskan untuk memberhentikan 6.400 pegawainya.

Halliburton akan memberhentikan sekitar 6,5 hingga 8 persen dari seluruh pegawainya di dunia setelah harga minyak kembali menurun. Sebanyak 6.400 pegawai akan terkena dampak dari keputusan perusahaan global itu untuk menghemat anggaran.

Reporter: Elsa Analet

(Elsa/Ndw)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya