Kemlu Ungkap Perkiraan Letak Kapal Tanker Malaysia yang Hilang

Diduga kuat telah terjadi pembajakan di kapal tanker Orkim Harmony.

oleh Andreas Gerry Tuwo diperbarui 17 Jun 2015, 13:55 WIB
Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemlu, Lalu Muhammad Iqbal dalam diskusi 'Elegi untuk TKI' di Jakarta, Sabtu (18/4/2015). Diskusi tersebut membahas tentang ribuan TKI yang tengah terjerat masalah hukum di luar negeri. (Liputan6.com/Yoppy Renato)

Liputan6.com, Jakarta - Kapal Orkim Harmony dikabarkan hilang di perairan malaysia pada 12 Juni 2015. Lokasi terakhir sekitar 30 mil laut dari Tanjung Sedili timur.

Terkait hal itu, Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Bantuan Hukum Indonesia, Kemeterian Luar Negeri, Lalu Muhamad Iqbal, angkat bicara tentang hilangnya kapal tanker Malaysia, Orkim Harmony. Kapal tersebut membawa 5 orang ABK asal Indonesia.

Iqbal mengatakan, sejumlah langkah telah diambil pemerintah demi menemukan keberadaan kapal tersebut. Termasuk dengan memanggil PT. Yudian Unggul Indonesia, agen yang memberangkatkan ke-5 ABK ini.

Pemanggilan tersebut berbuah manis. Dari keterangan Direktur PT Yudian Unggul Indonesia, diduga kuat telah terjadi pembajakan di Kapal Tanker Orkim Harmony.

"Tanker tersebut dalam pelayaran dari Singapura menuju Kuantan dan membawa kurang lebih 6.000 metrik ton BBM sejenis Pertamax Plus. Pihak owner menduga tanker tersebut menjadi korban pembajakan," ujar Iqbal dalam keterangan tertulisnya kepada Liputan6.com, Rabu (17/6/2015).

Kuatnya dugaan tersebut, kata Iqbal, didasarkan pada pembajakan di jalur Melaka menuju Kuantan pada 4 Juni 2015 lalu.

Selain memanggil perusahaan yang membawa para ABK, komunikasi turut dilakukan pemerintah RI dengan Otoritas Malaysia. Komunikasi ini berhasil mengungkap dugaan di mana kapal tersebut berada.

"KJRI Johor sudah berkoordinasi dengan kepolisian Johor (Malaysia) dan Polri dalam rangka menangani masalah ini," tutur dia.

"Sudah dapat diperkirakan koordinat/posisi akhir kapal di sekitar Laut China Selatan," pungkas dia.

Kapal tersebut membawa 22 awak yang berasal dari tiga negara berbeda. Ke-22 awak kapal itu terdiri dari 16 awak kapal asal Malaysia, 5 dari Indonesia, dan seorang dari Myanmar. (Ger/Yus)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya