UNHCR Berterima Kasih ke Indonesia Soal Pengungsi Rohingya

UNHCR juga paham, pemerintah Indonesia tidak bisa sendirian dalam menampung para pengungsi.

oleh Silvanus Alvin diperbarui 20 Mei 2015, 13:49 WIB
Perwakilan UNHCR Thomas Vargas di Kantor Wapres, Jakarta, Rabu (20/5/2015). (Liputan6.com/ Silvanus Alvin)

Liputan6.com, Jakarta United Nation High Commissioner of Refugees atau Kantor Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) berterima kasih atas tindakan pemerintah Indonesia yang sudah menampung para pengungsi Rohingya.

"Saya berterima kasih atas respons baik dari pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk membantu kebutuhan kemanusiaan dan setuju kebijakan pemerintah untuk saling bertanggung jawab," kata perwakilan UNHCR Thomas Vargas, di Kantor Wapres, Jakarta, Rabu (20/5/2015).

Vargas mengatakan, pemerintah manapun tidak bisa membiarkan begitu saja pengungsi Rohingya yang terkatung-katung tanpa nasib yang jelas. Sebab, masalah ini merupakan masalah kemanusiaan.

"Yang paling penting ‎ialah berpikir bagaimana selamatkan orang-orang atau pengungsi Rohingya ini. Karena ada sekitar 1.000 saya juga tidak tahu jumlah pastinya. Penting menyelamatkan mereka, itu yang paling utama," tutur dia.

UNHCR juga paham, pemerintah Indonesia tidak bisa sendirian dalam menampung para pengungsi. Vargas pun mengajak negara-negara terkait untuk turun tangan. Salah satunya adalah Myanmar, karena masyarakat Rohingya berasal dari negara tersebut.

"‎Bagaimana pemerintah negara-negara terkait berbagi tanggung jawab untuk merawat mereka," ujar Vargas.

Vargas menuturkan, UNCHR juga akan turun tangan membantu pemerintah yang menampung pengungsi Rohingya.

Menurut Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi, jumlah imigran gelap yang terdampar di Aceh sebelumnya mencapai 1.346 orang. Sementara data pengungsi yang ada di Indonesia hingga Maret 2015, mencapai 11.941 orang.

Pemerintah Indonesia memberikan tempat tinggal sementara, hingga kebutuhan pakaian, makanan, hingga pelayanan kesehatan.

Pengungsi Rohingya merupakan salah satu masalah kemanusian yang‎ ‎paling disorot dunia saat ini. Sebab Myanmar tempat penduduk Rohingya tinggal, menolak memberi kewarganegaraan bagi etnis tersebut.

Pada Juni dan Oktober 2012, kerusuhan bernuansa etnis pecah di negara bagian Rakhine, Myanmar. Puluhan ribu warga Rohingya kemudian meninggalkan wilayah mereka. Kekerasan etnis ini menewaskan ratusan orang dan membuat 140 ribu warga minoritas tersebut kehilangan tempat tinggal. (Mvi/Mut)

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya