Hitler Sedang Nyenyak Tidur Ketika Isyarat Kekalahannya Muncul

Hari ini 70 tahun pendaratan sekutu di Normandia, Prancis. Invasi laut terbesar yang mengubah sejarah, termasuk nasib Nusantara.

oleh Elin Yunita Kristanti diperbarui 06 Jun 2014, 17:57 WIB
Adolf Hitler (Plhits.com)

Liputan6.com, Normandia - Hari ini, Jumat (6/6/2014), bertepatan dengan peringatan 70 tahun pendaratan tentara Sekutu di Normandia, Prancis, atau yang dikenal sebagai D-Day. Kala itu,  6 Juni 1944, terjadi invasi laut terbesar dalam sejarah, dengan hampir 3 juta tentara menyeberangi Selat Inggris dari Britania Raya ke Prancis yang diduduki oleh tentara Nazi Jerman.

Invasi ini berakhir dengan dibebaskannya Paris, dan jatuhnya kantong Falaise pada akhir Agustus 1944. D-day adalah hari yang menentukan sejarah dunia, sinyal kejatuhan Adolf Hitler dan Nazi. Dan setahun kemudian, Perang Dunia II berakhir.

Kekalahan Jerman, kemudian Jepang, membuka peluang bagi kemerdekaan sejumlah negara-negara jajahan, termasuk Indonesia.

Di mana sang fuhrer saat isyarat kejatuhannya muncul? Ternyata Hitler sedang tidur siang. Dan para pembantunya tak ada yang bernyali membangunkannya.

Seperti Liputan6.com kutip dari situs The West Australian, keputusan orang dekat Hitler tak membangunkan pemimpinnya mungkin memiliki pengaruh besar pada sejarah abad ke-20.

Sebab, meski kekuatan luar biasa dari gabungan pasukan Rusia, Inggris, dan Amerika Serikat, situasi bisa saja berbalik.

Bagi Sekutu, kegagalan D-Day sama sekali tak diterima. Jika para serdadunya dipukul mundur ke lautan -- saat mereka menyebut pantai-pantai Normandia -- Jerman bisa saja berada dalam posisi tak tergoyahkan.

Dengan mengantongi kemenangan, bisa saja yang kemudian terjadi, Jerman bisa saja melakukan perjalanan damai dengan Rusia. Lalu, Josef Stalin yang tak kalah brutal dengan Hitler menyerang dari timur -- yang bakal membuat negara-negara Eropa lain terjepit.

Saat fajar menyingsing pada 6 Juni 1944, peluang Jerman muncul sebagai pemenang masih sangat besar. Punya pasukan kuat, tank-tank dalam posisi siap dan siaga menghadapi serangan mendadak dari pihak Sekutu. Armada udara, Luftwaffe, telah menyiagakan pesawat dan pasokan untuk merespons secara maksimum kejadian seperti itu.

Terlambat, Hitler...

Laporan News Corp mengisahkan, panglima tempur paling sohor AS, Jenderal Dwight David "Ike" Eisenhower tahu benar soal itu. Meski dengan percaya diri ia meyakinkan pasukannya untuk berjuang habis-habisan menuju kemenangan, diam-diam ia menyiapkan sebuah surat minta maaf 'kalau-kalau ia kalah'.

Di sisi lain, Adolf Hitler dengan penuh semangat telah menyiapkan pasukan paling elit untuk menghadapi invasi. Masalahnya, diktator itu dikenal punya temperamen yang meledak-ledak. Jadi, ketika laporan pertama tentang pendaratan Sekutu diterima pihak Jerman lewat pesan radio pada pukul 04.00, ia sedang tidur.

Dan tak ada yang berani membangunkannya. Di samping itu, cuaca di atas Normandia kala itu diperkirakan bakal buruk. Pihak Jerman mengira, laporan itu adalah strategi pengalihan musuh. Hanya tipuan. Mereka percaya, serangan sesungguhnya akan datang di area utara sekitar Calais.

Berdasarkan hitung-hitungan kekuatan, kekuatan pasukan dan tank Jerman sesungguhnya bisa merespon serangan Sekutu dalam hitungan menit. Alih-alih hanya duduk dan menunggu.

Sebanyak 10 ribu tentara Jerman yang berlindung di pos penjagaan dari beton (pillboxes) dan parit di perbatasan harus menghadapi 175.000 pasukan Sekutu yang datang dari arah pantai.

Hanya satu orang -- jenderal tua yang disepelekan bernama Marsekal Lapangan Rundstedt berani mengambil inisiatif. Dengan melampaui wewenangnya, pada pukul 07.00, ia memerintahkan dua divisi tank cadangan secepatnya menuju Caen, menghadang pasukan sekutu.

Lalu ia mengontak pusat komando. Jawabannya. "Tidak, ia tak boleh mengerahkan tank. Dia harus menunggu komando dari Hitler," demikian laporan News Corp.

Saat Hitler akhirnya merasa perlu mengambil tindakan, pada pukul 16.00, ia menyetujui pengerahan pasukan ke Caen.

Namun, terlambat. Perintahnya untuk menggerakkan tank datang setelah pasukan Inggris, AS, Kanada, dan pasukan tentara pembebasan Prancis telah mengatur diri pasca-kekacauan yang terjadi di pantai. Perlengkapan Sekutu seperti tank, persenjataan berat, dan amunisi telah ditempatkan di di sekitar Selat Inggris.

Akhir cerita, surat Jenderal Eisenhower berisi permintaan maaf akibat kalah perang tak jadi dikirim.

Dalam peringatan D-Day, Presiden Amerika Serikat Barack Obama memuji keberanian pasukan Sekutu menghadapi berondongan senapan Nazi untuk membebaskan Eropa, yang membuka jalan bagi sejarah baru.

Foto dok. Liputan6.com


"Dari Eropa Barat ke Timur; dari Amerika Selatan ke Asia Tenggara; selama 70 tahun gerakan demokrasi menyebar. Negara-negara yang sebelumnya terbutakan oleh rasa takut, mulai merasakah anugerah kebebasan. Kemerdekaan," kata Obama dalam peringatan D-Day tahun ini. (Yus)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya