Menimang Cawapres Jokowi, JK atau Mahfud?

Pengamat Politik UGM Ari Sujito menimang 2 sosok itu diprediksi bisa menjadi cawapresnya Jokowi.

oleh Yanuar H diperbarui 13 Apr 2014, 06:32 WIB

Liputan6.com, Yogyakarta - Sejak Jokowi mendeklarasikan diri sebagai capres PDIP, sejumlah tokoh disebut-sebut layak menjadi cawapresnya. Lantas siapa yang dinilai pantas mendampingi Jokowi usai PDIP merajai hasil sementara quick count Pileg 2014.

Pengamat Politik Universitas Gajah Mada (UGM) Ari Sujito menimang 2 sosok yang diprediksi bisa menjadi cawapresnya Jokowi. 2 Tokoh itu adalah Jusuf Kalla dan Mahfud MD. Keduanya dinilai mampu menyaingi pamor Jokowi.

Ari menilai JK bisa jadi calon wakil presiden Jokowi karena JK mempunyai dukungan yang besar dari partainya. Selain itu dukungan datang dari faktor asal JK dari luar Jawa juga akan meraup suara nantinya. JK juga tokoh agama akan mendapat dukungan dari kalangan tersebut.

"Pak JK cocok karena pertama dia pasti akan didukung loyalis partainya. JK dari luar jawa akan dapat dukungan dari masyarakatnya. JK juga tokoh NU pasti dapat dukungan juga," kata Ari kepada Liputan6.com di Yogyakarta, Sabtu (12/04/2014).

Selain itu, jelas Ari, tokoh Mahfud MD juga menjadi tokoh yang pas untuk dipasangkan dengan Jokowi. Selain dia dari kalangan NU, Mahfud juga sosok reformis pada bidang hukum. Jika Mahfud MD dicalonkan dari PKB, itu menjadi kekuatan besar.

"Mahfud bisa jadi simbol taktik dari PKB untuk meraup suaranya Rhoma (Irama). Rhoma nggak mungkin capres lah. Rhoma itu pancingan karena massa Rhoma kan banyak. Taktik itu cerdas dari PKB," tutur Ari.

Bahkan Ari menyebut pencapresan Rhoma oleh PKB nantinya akan diwakili tokoh lainnya. Pencapresan Rhoma dan jurkam PKB saat kampanye oleh Ahmad Dhani hanya untuk menaikan perolehan suara saja.

"Masalah Rhoma itu gampang. Tinggal kasih alasan (tidak capres) saja dia nanti. Peran Rhoma dan Dhani itu untuk menaikan suara. Fans Rhoma dan Dhani yang membuat suaranya merapat ke PKB," terang Ari.

Taktik meraih suara dari PKB ini menjadi alasan PDIP untuk berkoalisi dan maju capres dan cawapres. Taktik politik dari PKB itu dinilai sebagai taktik jitu mengalahkan lawan politiknya.

"Taktik cerdas meraih suara. Dahsyat itu. Bahkan PKS saja kalah. Mereka dapat suara dari loyalis mereka saja," pungkasnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya