Kasus Bunuh Diri Remaja Gara-Gara ChatGPT Kembali Jadi Sorotan, OpenAI Buka Suara!

OpenAI bantah tuduhan kasus remaja bunuh diri. Perusahaan menegaskan remaja tersebut telah melewati fitur keamanan dan diduga memiliki riwayat penyakit mental.

Diterbitkan 28 November 2025, 12:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Matthew dan Maria, orangtua Adam Raine, menggugat OpenAI dan CEO Sam Altman pada Agustus 2025. Namun, perusahaan membantah tuduhan kelalaian atas kasus bunuh diri remaja 16 tahun tersebut.

Melalui dokumen tanggapan yang diajukan ke pengadilan, perusahaan menegaskan mereka tidak dapat dimintai pertanggung jawaban atas kematian Adam.

Mengutip Tech Crunch, Jumat (28/11/2025), OpenAI mengklaim selama kurang lebih sembilan bulan penggunaan, ChatGPT mengarahkan Raine untuk mencari bantuan lebih dari 100 kali.

Dalam gugatan, keluarga Raine menuding ChatGPT memberi petunjuk teknis terkait berbagai metode bunuh diri, mulai dari overdosis obat hingga keracunan karbon monoksida. Bahkan menyebut rencana itu sebagai “bunuh diri yang indah”.

OpenAI menyatakan, Adam memanfaatkan celah untuk melewati sistem pengaman, sebuah tindakan yang disebut sebagai pelanggaran terhadap ketentuan layanan. Dalam aturan tersebut, pengguna dilarang mengabaikan langkah-langkah perlindungan atau mitigasi keamanan yang telah disediakan.

Perusahaan juga menekankan halaman Frequently Asked Question (FAQ) mereka memperingatkan agar pengguna tidak mengandalkan output ChatGPT tanpa verifikasi mandiri.  

“OpenAI berusaha mencari-cari kesalahan orang lain, termasuk yang mengejutkan, mengatakan Adam sendiri melanggar syarat dan ketentuannya dengan berinteraksi dengan ChatGPT sesuai dengan cara yang diprogramkan unuk bertindak,” ujar Jay Edelson, pengacara yang mewakili keluarga Raine, sebagaimana dikutip dari Tech Crunch.

Dalam dokumen pengadilan, OpenAI menyertakan kutipan dari catatan percakapan Adam dan ChatGPT yang diajukan secara tertutup sehingga tidak dapat diakses publik. Perusahaan mengklaim, log percakapan menunjukkan konteks yang lebih lengkap, termasuk riwayat depresi dan pikiran bunuh diri Adam yang telah muncul jauh sebelum ia menggunakan ChatGPT.

Gugatan Atas Kelalaian ChatGPT

OpenAI menyatakan, Adam memiliki riwayat depresi dan keinginan bunuh diri yang sudah ada sebelum ia menggunakan ChatGPT, dan ia sedang mengonsumsi obat yang dapat memperburuk keinginan bunuh diri.

Edelson mengatakan tanggapan OpenAI belum cukup menanggapi kekhawatiran keluarga tersebut.

“OpenAI dan Sam Altman tidak memiliki penjelasan apa pun mengenai jam-jam terakhir kehidupan Adam, ketika ChatGPT memberinya semangat dan kemudian menawarkan untuk menulis surat bunuh diri,” ucap Edelson, menambahkan.

Sejak gugatan keluarga Raine dilayangkan, tujuh gugatan lain menyusul. Gugatan-gugatan tersebut menautkan perusahaan degan tiga kasus bunuh diri tambahan serta empat pengguna yang mengalami apa yang disebut sebagai 'episode psikotik' akibat berinteraksi dengan AI.

Kasus serupa turut dialami Zane Shamblin (23), dan Joshua Enneking (26) yang dilaporkan melakukan percakapan berjam-jam dengan ChatGPT sebelum mengakhiri hidup mereka. Sama seperti kasus Raine, chatbot tersebut gagal mengurungkan niat mereka. 

KONTAK BANTUAN

Bunuh diri bukan jawaban apalagi solusi dari semua permasalahan hidup yang seringkali menghimpit. Bila Anda, teman, saudara, atau keluarga yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit, dilanda depresi dan merasakan dorongan untuk bunuh diri, sangat disarankan menghubungi dokter kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan (Puskesmas atau Rumah Sakit) terdekat.

Bisa juga mengunduh aplikasi Sahabatku: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.icreativelabs.sahab atku

Atau hubungi Call Center 24 jam Halo Kemenkes 1500-567 yang melayani berbagai pengaduan, permintaan, dan saran masyarakat.

Anda juga bisa mengirim pesan singkat ke 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat surat elektronik (surel) kontak@kemkes.go.id.

Fitur Baru ChatGPT Terungkap, OpenAI Uji Grup Chat untuk Kerja Tim dan Diskusi Bareng AI

Di sisi lain, OpenAI mulai melakukan uji coba fitur grup chat untuk ChatGPT di beberapa negara. Pengguna dapat membuat ruang obrolan bersama teman atau rekan kerja, lalu berkolaborasi langsung dengan bantuan ChatGPT dalam percakapan.

Fitur baru ChatGPT ini masih dalam uji coba untuk pengguna terbatas di Jepang, Korea Selatan, Selandia Baru, dan Taiwan. Perusahaan mengatakan, pengguna gratis, Plus, dan Team versi web dan aplikasi sudah bisa mengakses fitur ini.

Dikutip Tech Crunch, Senin (24/11/2025), uji coba ini dirancang OpenAI untuk mengeksplorasi bagaimana orang-orang menggunakan percakapan grup di ChatGPT.

"Kami ingin memahami bagaimana percakapan kelompok dapat membantu orang bekerja sama dan menyelesaikan tugas," tulis OpenAI di situs mereka.

Sebelumnya, perusahaan rumornya sedang mengembangkan fitur mirip pesan langsung (Direct message).

OpenAI menegaskan, privasi tetap dijaga. Obrolan pribadi dan memori ChatGPT pribadi tetap sepenuhnya bersifat privat. Chat grup hanya dapat diakses melalui undangan, dan setiap anggota dapat keluar kapan saja. Sebagian besar peserta dapat mengeluarkan peserta lain, meskipun pembuat grup hanya dapat keluar secara sukarela.

Untuk pengguna di bawah 18 tahun, OpenAI menerapkan penyaringan konten dengan perlindungan tambahan dan kontrol orang tua.

Dalam pembaruan di situs resmi, raksasa kecerdasan buatan (AI) ini menyebut pengguna dapat menyusun kerangka atau meneliti topik baru bersama-sama, membagikan artikel, catatan, dan pertanyaan, nantinya ChatGPT dapat membantu meringkas dan mengelola informasi.

Fitur obrolan grup merupakan langkah terbaru dalam transformasi bertahap OpenAI dari asisten AI sederhana menjadi platform sosial.

OpenAI Peringatkan Bahaya AI, Tapi Tetap Genjot Pengembangan Superintelligence

OpenAI memperingatkan bahaya dari sistem AI yang berkembang tanpa kendali, pada saat yang sama mereka malah berlomba dengan teknologi raksasa lain untuk menciptakan apa yang disebut sebagai superintelligence.

Dilansir ZDnet, Kamis (14/11/2025), dalam unggahan blog berjudul “AI Progress and Recomendation”, OpenAI memaparkan visi tentang manfaat luas dari AI tingkat lanjut bagi manusia, sekaligus mengakui adanya risiko besar di balik perkembangannya.

Visi Utopis OpenAI

Menurut OpenAI, perkembangan AI superintelligence dapat membawa kesejahteraan yang lebih merata untuk manusia.

“Kami berharap masa depan menawarkan cara baru dan semoga lebih baik untuk menjalani hidup yang memuaskan, dengan lebih banyak orang akan merasakannya,” tulis perusahaan itu.

Namun, OpenAI juga mengakui transisi ekonomi dan sosial akibat kemajuan AI tidak akan mudah.

"Memang benar bahwa pekerjaan akan berbeda, transisi ekonomi mungkin sangat sulit dalam beberapa hal, dan bahkan mungkin kontrak sosial ekonomi fundamental harus berubah. Namun, di dunia yang berlimpah, kehidupan orang-orang bisa jauh lebih baik daripada saat ini," ujar CEO OpenAI, Sam Altman, dalam blog pribadinya.  

Altman menggambarkan AI superintelligence sebagai sesuatu yang akan menyebabkan beberapa gangguan sosial (menghilangkan beberapa kategori pekerjaan). Altman menilai AI tetap akan membawa kemajuan besar bagi manusia dalam jangka panjang.

OpenAI juga memperkirakan AI akan mempercepat berbagai penemuan baru, membantu masyarakat, mendorong kemajuan di bidang-bidang sains, serta memperluas akses pendidikan personal bagi seluruh murid di dunia.

Infografis 4 Rekomendasi Chatbot AI Terbaik. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)