Sukses

Snap Matikan Aplikasi Pelacak Lokasi Zenly pada Februari 2023

Liputan6.com, Jakarta - Snap, bakal menutup aplikasi pelacak lokasi Zenly mulai tahun 2023 atau lebih tepatnya resmi dimatikan pada 3 Februari tahun depan.

"Sudah lebih dari 3.000 hari sejak awal Zenly dan hanya 60 hari tersisa sebelum ini berakhir. Tetapi cinta kami kepada kalian akan tetap berkembang lebih kuat," tulis Zenly di akun Twitter resminya.

Di laman resmi Zenly sendiri, dikutip Selasa (6/12/2022), perusahaan menyebutkan apabila pengguna menyukai platform tersebut, maka mereka diarahkan untuk menggunakan Snap Map di Snapchat.

Mengutip Tech Crunch, fitur utama dari aplikasi Zenly memungkinkan pengguna melacak lokasi temannya. Ketika pengguna membuka aplikasi, teman dan anggota keluarga yang berteman di Zenly dapat dilihat sedang berkumpul di mana.

Zenly juga sempat mengembangkan peta buatan mereka sendiri. Tim pengembangannya hanya terdiri dari 10 orang yang terlibat dalam proyek pemetaan.

Peta yang dihadirkan pun juga berbeda dari Google Maps atau Apple Maps, di mana mereka menampilkan visual lucu dan ikonik seperti animasi mobil, kapal, bebek karet, truk, makhluk laut, dan lain-lain.

Startup Zenly sendiri didirikan di 2011 dengan tim yan berbasis di Paris. Di tahun 2017, perusahaan tersebut diakuisisi oleh perusahaan induk Snapchat, Snap.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Terdampak PHK Snap

Di awal 2022, platform ini sudah memiliki 35 juta pengguna aktif bulanan, meski aplikasi ini tidak sebesar Snapchat.  Lalu di tahun 2022 juga, CEO dan salah satu pendiri Antoine Martin memilih meninggalkan perusahaan.

"Kami bergabung dengan Snap lima tahun lalu dan kami mulai mengerjakan Zenly 11 tahun lalu. Saya ingin move on. Dan saya belum memiliki kesempatan untuk mengambil cuti ayah yang lama," ujarnya dalam sebuah wawancara.

Beberapa bulan kemudian, Snap memutuskan bahwa mereka akan menutup Zenly, sebagai bagian dari serangkaian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Selain itu, diketahui bahwa platform ini tidak memiliki strategi monetisasi.

Namun di sisi lain, mereka memutuskan tidak mau menjualnya ke perusahaan lain atau membuat perusahaan spin-off.

3 dari 4 halaman

Snap Lepas Karyawan

Snap sendiri beberapa bulan lalu melepaskan 20 persen karyawannya dalam rangka mengatur ulang bisnis mereka untuk mengurangi pengeluaran biaya dan menghadapi penurunan penjualan.

Hal ini dikonfirmasi Snap pada Rabu (31/08) bahwa dari sekitar 6.400 karyawan yang bekerja di perusahaan, lebih dari 1.000 karyawan di antaranya dibebastugaskan (PHK).

Berita tersebut disampaikan dalam surat untuk karyawan yang diunggah di website Snap Inc. Dan Evan Spiegel selaku CEO menyatakan kalau penjualan saat ini tidak sesuai dengan proyeksi yang direncanakan.

“Sayangnya, mengingat tingkat pertumbuhan pendapat kami saat ini yang lebih rendah, sudah menjadi jelas bahwa kami harus mengurangi struktur biaya untuk menghindari kerugian berkelanjutan yang signifikan,” tulis Spiegel.

Spiegel juga mengatakan Snap sedang melakukan pengaturan bisnis ulang agar dapat fokus pada pertumbuhan komunitas, pertumbuhan pendapatan, dan augmented reality.

 

4 dari 4 halaman

Saham Snap Meningkat

Spiegel menyebutkan bahwa segala hal yang tidak berkontribusi terhadap ketiga area tersebut akan diberhentikan atau dikurangkan jumlah penerimaan investasinya.

Platform menunjuk asal masalah penurunan penjualan iklan dari perubahan sistem kontrol privasi ketat yang diluncurkan Apple dan membuat beberapa investor yang memasang iklan khawatir.

Setelah pemberitahuan PHK ini dimunculkan, Snap memberi pernyataan mengenai saham mereka yang meningkat hampir 9 persen menjadi $10.88.

Dengan munculnya keputusan ini, karyawan Snap yang telah berkembang lebih dari 5.600 pekerja di beberapa tahun terakhir, lebih dari 1.000 di antaranya diberhentikan. Angka ini terhitung lebih besar dari angka tahun sebelumnya.

(Dio/Ysl)

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS