Sukses

Kenali 3 Modus Penipuan WhatsApp Ini Biar Tak Jadi Korban

Liputan6.com, Jakarta - Aplikasi WhatsApp kini dipakai lebih dari 2 miliar pengguna di dunia. Saking banyaknya pengguna WhatsApp, kejahatan siber pun marak terjadi menyasar platform chatting milik Meta ini.

Jika kamu adalah pengguna WhatsApp, kamu patut berhati-hati terhadap berbagai upaya penipuan yang bisa mengambil alih akun kamu.

Berikut adalah sejumlah cara yang dipakai hacker yang harus dicurigai agar tak jadi korban penipuan.

1. Penjahat Menyamar Jadi Orang Tersayang

Orang tua kerapkali diminta untuk berhati-hati dengan adanya penjahat yang menyamar jadi orang terkasih seperti anak mereka, untuk meminta uang.

Di Inggris, orang mengalami kerugian hingga 50.000 Euro karena ditipu di WhatsApp oleh orang yang mengatasnamakan anak-anak korban.

Para penipu ini kerap menggunakan nomor baru yang berpura-pura sebagai anak mereka. Ada juga yang akun WhatsApp diretas dan dipakai untuk menipu orang-orang disekitar.

Dalam modus operandi seperti ini, penipu biasanya akan meminta uang ke korban. Selanjutnya, para orang tua akan mentransfer uang yang diminta tanpa curiga bahwa mereka telah jadi korban penipuan.

Oleh karenanya, jika ada yang meminta uang dalam jumlah tertentu dengan menyamar sebagai orang terkasih, berhati-hatilah. Pastikan dulu identitas si peminta bantuan adalah orang yang kita kenal.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 3 halaman

2. Meminta Kode Verifikasi

Pengguna juga harus berhati-hati terhadap metode pengambilalihan akun dengan meminta kode verifikasi. Biasanya hal ini terjadi ketika pengguna mendapatkan sms dari WhatsApp berisi kode verifikasi untuk login.

Kode tersebut merupakan kode two-factor authentication yang memungkinkan pengguna login ke akun WhatsApp mereka di perangkat berbeda.

Selanjutnya, ada pesan dari anggota keluarga atau teman yang bilang mereka tidak sengaja mengirim kode login WhatsApp ke nomor kita dan meminta untuk memberikan kode tersebut.

Kalau ada yang seperti ini, jangan pernah balas atau merespon permintaan atas kode login tersebut. Pasalnya, pesan tersebut mungkin berasal dari teman yang akun WhatsApp-nya sudah diretas.

Sekali saja kamu memberikan kode login tersebut ke pihak lain, di situlah akun WhatsApp kamu sudah diambil alih. Untuk itu, pastikan untuk tidak memberikan kode login 6 digit yang berasal dari WhatsApp ke pihak lain, siapa pun.

 

3 dari 3 halaman

3. Link Palsu

Salah satu bentuk penipuan WhatsApp adalah phishing. Pesan jahat bernama serangan phishing yang menjanjikan berbagai penawaran menggiurkan dari web yang kelihatannya asli dan terpercaya ke calon korban. Misalnya seolah dari bank, media sosial, atau platform lainnya.

Padahal sebenarnya website tersebut adalah website palsu yang menyerupai website layanan aslinya. Jika sekali saja pengguna mengklik link hingga memasukkan data, berbagai informasi detail kartu kredit atau kredensial akun perbankan bisa diambil alih.

Dalam kondisi tertentu, penjahat phishing juga bisa menelepon korban dengan cara menyamar sebagai staf layanan terpercaya untuk memberikan informasi pribadi si korban.

Baik melalui panggilan atau website palsu, si penipu kerap kali meniru entitas terpercaya agar terlihat berasal dari layanan resmi. Entitas atau lembaga yang kerap dipalsukan mulai dari bank, Facebook, e-commerce, dan lain-lain.

Untuk melindungi diri dari kejahatan semacam ini, pastikan untuk tidak mengklik link apa pun yang dikirim dari pihak tidak resmi.

(Tin/Isk)

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.