Sukses

Peluang Bisnis Busana Plus Size Lewat Kanal Penjualan Online

Liputan6.com, Jakarta - Berkat marakta kampanye body positivity, persepsi masyarakat tentang standar kecantikan tubuh perempuan tak lagi berpatokan dari kurus dan tinggi.

Di Indonesia, menurut riset Kementerian Kesehatan, 1 dari 3 orang perempuan memiliki ukuran pinggang di atas 80cm.

Ini berarti, 33 persen perempuan Indonesia menggunakan ukuran L, XL, atau lebih besar lagi, berdasarkan rata-rata standar ritel. Demikian menurut keterangan resmi yang Tekno Liputan6.com terima, Sabtu (17/10/2020).

Namun sayangnya, ketersediaan busana plus size (sebutan untuk pakaian berukuran lebih besar atau XL ke atas) masih sangat terbatas dan belum memiliki beragam mode fashion terbaik layaknya busana ukuran biasa.

Sadar akan masalah ini beberapa merek fashion lokal hadir menawarkan solusi pilihan khusus untuk busana plus size di Indonesia. Tiga di antaranya Bigissimo, Pofeleve, dan Jeny Plus Size.

Setelah memiliki pengalaman panjang melayani pembeli di Indonesia, ketiga brand ini menjelaskan tentang peluang dan tantangan yang perlu diperhatikan dalam sektor busana plus size.

 

 

 

 

2 dari 3 halaman

Maksimalkan Penjualan Online

Selama pandemi, Bigissimo, Pofeleve, dan Jeny Plus Size memaksimalkan kanal penjualan online untuk menjangkau pembeli.

Menurut prediksi Credence Research, penjualan digital busana plus size melalui website, situs belanja online, atau pun media sosial akan mengalami pertumbuhan tertinggi pada periode 2018-2026.

Hal tersebut disebabkan karena penjual tidak membutuhkan ruangan besar untuk inventaris serta display toko. Penjualan digital juga dapat mengurangi jumlah pembeli yang selama ini merasa sungkan ketika terlihat berbelanja di toko offline busana plus size.

Untuk menjangkau pembeli secara efektif dan profesional, Bigissimo, Pofeleve, dan Jeny Plus Size menggunakan jasa solusi e-commerce SIRCLO.

Melalui SIRCLO, ketiga brand ini mampu menggunakan fitur pembayaran dan update stok secara real-time, sehingga pembeli bisa melakukan pemesanan kapan saja dan di mana saja, bahkan dari luar negeri.

Dengan sistem yang otomatis, mereka bisa mengalokasikan waktu dan aset untuk mengembangkan aspek strategis dan inovasi bisnis.

3 dari 3 halaman

Tantangan Terbesar

Satu hal yang menjadi tantangan terbesar bagi brand busana plus size di Indonesia adalah pemasaran.

Bagi Jeny Chandra, pemilik Jeny Plus Size, melakukan pemasaran melalui media sosial membutuhkan alokasi waktu yang besar dan pengembangan idenya pun tidak mudah. Ini disebabkan pasar yang lebih niche, namun juga perlu mengikuti tren.

Salah satu strategi yang ia tekuni adalah berfokus pada satu platform, yaitu Tiktok, untuk mengikuti tren sosial yang sedang berlangsung di Indonesia.

Sementara itu, Bigissimo mengaku masih mengandalkan teknik pemasaran word of mouth (WOM) dan masih dalam usaha mengoptimalkan strategi iklan digital.

Poppy dari Pofeleve juga mengakui brand harus kreatif membuat konten dan penjelasan produk yang mudah dipahami, terutama karena masih banyak pembeli yang ragu membeli produk tanpa mencoba terlebih dahulu.

Untuk mengatasi keraguan tersebut, Pofeleve menerapkan standar penukaran produk yang fleksibel, agar pembeli tidak merasa kecewa karena kekecilan/kebesaran.

(Isk/Why)