Sukses

Teori Konspirasi Baru: Kawat di Masker Dianggap Antena 5G

Liputan6.com, Jakarta - Teori konspirasi mengenai hubungan teknologi jaringan 5G dengan Covid-19 ternyata terus berkembang. Terbaru, ada berita yang menyebut kawat di masker merupakan bagian dari teknologi 5G.

Dikutip dari Forbes, Senin (13/7/2020), kabar yang berkembang di media sosial menyebut kawat yang ada di masker ternyata antena 5G. Kabar ini pun dengan cepat menyebar di warganet, terutama di Amerika Serikat.

Menurut teori konspirasi yang beredar itu, kawat pada masker digunakan untuk melacak orang dengan memanfaatkan sinyal 5G dan di beberapa kasus membuat orang menjadi sakit.

Padahal, kawat di masker berguna untuk membuatnya tetap menggantung dengan baik di hidung pengguna. Selain itu, kawat membuat masker terasa lebih ketat, sehingga tidak ikut bergerak saat penggunanya bernapas.

Meski terdengar tidak masuk akal, sejumlah warganet ternyata mempercayai kabar tersebut. Bahkan, beberapa di antaranya sempat mengunggah video atau foto di media sosial yang menunjukkan aksi mereka merusak masker dan mengeluarkan kawat itu.

Sebagai informasi, konspirasi yang menyebut 5G merupakan penyebab Covid-19 memang sudah terdengar sejak beberapa bulan lalu. Akibat kabar semacam ini bahkan ada upaya perusakan antena 5G di beberapa negara.

2 dari 3 halaman

Smartfren Tanggapi soal 5G Dituding Jadi Biang Kerok Covid-19

Sebagai informasi, beberapa waktu orang-orang yang percaya teori konspirasi menuding jaringan 5G merupakan penyebab tersebarnya virus corona baru dan penyakit Covid-19.

Di luar negeri seperti Belanda, bahkan banyak orang yang ikut membakar menara BTS 5G karena percaya teori konspirasi ini.

VP Technology Relations & Relations & Special Project Smartfren Munir Syahda Prabowo menyebut, rumor atau isu terkait dengan 5G sudah cukup banyak beredar, bahkan jauh sebelum adanya Covid-19.

Salah satu rumornya adalah, jika ada segerombolan burung yang lewat di frekuensi 5G, burung-burung tersebut akan berjatuhan dari udara.

Munir pun memberikan penjelasan dari segi teknis. Menurut dia, pada prinsipnya, untuk sampai ke pengguna, frekuensi bisa menggunakan beberapa band (pita frekuensi).

3 dari 3 halaman

Gelombang Frekuensi Berpengaruh ke Lingkungan?

Ia pun menjelaskan, saat ini pilihannya ada frekuensi yang sangat tinggi, yakni 26Ghz, 28Ghz, dan 3,5GHz atau bisa juga menggunakan band rendah. Di Indonesia, pita frekuensi rendah digunakan untuk menggelar layanan 3G dan 4G.

"Secara umum, itu dari sisi ilmu frekuensi. Makin tinggi frekuensi, dampaknya seperti gelombang mikro, di mana frekuensi tinggi berpengaruh ke lingkungan. Namun itu juga bisa dibatasi. Artinya, kalau semuanya terukur tidak ada masalah," kata Munir saat memberikan penjelasan.

Munir mengatakan, sejauh ini pita frekuensi sudah digunakan untuk jaringan radio dan semuanya tidak ada masalah karena sifatnya yang terukur dan dapat dikendalikan.

"Untuk teknologi 5G, saya pribadi masih ragu apa hubungannya dengan Covid-19," tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Munir juga memberikan penjelasan mengenai rencana Smartfren untuk menguji coba penerapan 5G untuk penggunaan konsumen individual yang harus ditunda karena Covid-19.

"Kalau ditanya 5G terdampak Covid-19, tentu iya karena 5G di dunia masih dalam perkembangan belum mature 100 persen. Smartfren rencananya mau lakukan trial kedua untuk layanan pelanggan," tutur Munir.

Namun, karena Covid-19, uji coba 5G untuk melayani konsumen individu pun harus ditunda.

"Harusnya April ini bisa trial, tetapi karena Covid akhirnya tertunda, sampai kapannya belum tahu karena (sejumlah alat) harus impor dari luar negeri. Jadi harus menunggu hingga Covid mereda," katanya.

(Dam/Isk)