Sukses

Krisis, Iflix Akan Dijual ke Perusahaan Tiongkok?

Liputan6.com, Jakarta - Platform streaming video Iflix dikabarkan sedang dalam pembicaraan terkait kemungkinan penjualannya.

Dikutip dari Nikkei Asian Review, Senin (15/6/2020), pembicaraan tentang penjualan Iflix dilakukan untuk menghindari krisis setelah kedua pendirinya hengkang.

Menurut sumber yang dekat dengan Iflix dan industri, platform video on demand Iflix menargetkan akan menutup kesepakatan penjualan pada akhir bulan Juni ini.

Berdasarkan kabar yang dihimpun Nikkei Asian Review, pembeli potensial Iflix dipercaya merupakan beberapa perusahaan yang bermarkas di Tiongkok.

Sekadar informasi, sebelumnya Chairman Iflix Patrick Grove dikabarkan meninggalkan perusahaan belum lama ini.

Pendiri lainnya, yakni Luke Elliot, juga mundur dari posisinya di dewan perusahaan di hari yang sama. Keduanya juga merupakan co-founder dari Gatcha Group, pemilik saham terbesar Iflix.

Tidak hanya itu, dua direktur lain Iflix mengundurkan diri pada 9 April, yakni David Nairn dan Mark Andrew Licciardo.

2 dari 3 halaman

Berencana IPO

Sebulan setelah Grove dan Elliot meninggalkan perusahaan, Iflix menunjuk Ryan Shaw dan John Zeckendorf sebagai anggota dewan direksi.

Perubahan dewan terjadi mendekati tenggat waktu IPO Iflix pada 31 Juli mendatang.

Nikkei Asian Review menyebut, pada 2018, Iflix menderita kerugian sebesar USD 158,1 juta karena harus bakar uang tunai sebesar USD 25,5 juta.

Disebut-sebut, per September 2019, Iflix memiliki cadangan kas sebesar USD 12,7 juta. Sejak itu, Iflix belum mengumumkan pendanaan baru.

3 dari 3 halaman

Sempat PHK Karyawan karena Covid-19

Perusahaan rencananya akan listing IPO tahun ini, namun pada bulan April lalu, Iflix dikabarkan melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap sejumlah stafnya.

Saat itu, CEO Iflix Marc Barnett mengatakan, PHK tersebut merupakan respon atas ketidakpastian akibat pandemi Covid-19.

"Industri tidak kebal terhadap kondisi yang tidak pasti. Keputusan kami untuk mengurangi jumlah karyawan dilakukan dengan penuh pertimbangan dan untuk memangkas biaya, sehingga perusahaan bisa bertahan di tengah ketidakpastian," kata Barnett saat itu.

(Tin/Isk)