Sukses

Indosat Ooredoo: Industri Telekomunikasi Tidak Sehat, Perlu Regulasi Baru

Liputan6.com, Solo - Tarif menjadi salah satu hal krusial di industri telekomunikasi. Tidak jarang ditemukan perang tarif di antara operator telekomunikasi untuk menggaet pengguna. 

Menanggapi isu ini, Arief Mustain - Director & Chief Innovation and Regulatory Officer -  Indosat Ooredoo pada acara kumpul media di Solo, Rabu (11/12/2019) menyebut industri telekomunikasi merupakan industri dengan regulasi ketat dan pemerintah sebagai regulator berperan penting di dalamnya.

"Sebuah korporasi (telekomunikasi) gak bisa berdiri sendiri, karena ini highly regulated, (di dalamnya) ada struktur, dll," kata Arief. 

Meski Arief menyoroti model struktur industri telekomunikasi di Indonesia yang dinilai tidak sehat dan perlu diregulasi ulang, ia sudah melihat tanda-tanda pemerintah akan menerbitkan regulasi baru. 

"Saat ini tarifnya memang lagi disiapkan PP (Peraturan Pemerintah). Ada isu, apakah perlu ada harga (tarif) dasar untuk menyehatkan pasar, biar gak ada banting-bantingan harga (tarif)," ujar Arief. 

Sebagai pemain di industri ini, Indosat Ooredoo tentu berharap supaya pemerintah dapat segera merealisasikan wacana ini.

Melengkapi pernyataan Arief, Vikram Sinha, Director & Chief Operating Officer Indosat Ooredoo mengatakan pelanggan di rentang usia muda tidak lagi memiliki pola pikir "harga murah, kualitas bagus". Ia melihat mereka menginginkan layanan dengan nilai tarif yang sepadan dengan harganya (value for money). 

"Mereka mencari kualitas bagus dengan nilai yang sepadan, bukan layanan murah berkualitas," tutur Vikram.

2 dari 2 halaman

Strategi Indosat Ooredoo untuk 2020

Pada kesempatan yang sama, Ahmad Abdulaziz A A Al-Neama, President Director & CEO Indosat Ooredoo mengatakan, pada 2020 mendatang perusahaan akan melanjutkan strategi tiga tahunan yang telah mulai diterapkan.

"Kami ingin menjadi perusahaan telekomunikasi yang dapat pelanggan andalkan," ujar Ahmad menegaskan strategi perusahaan pada sesi presentasi di hadapan awak media.

Hal itu, kata Ahmad, akan dapat diwujudkan melalui mesin pertumbuhan (growth engine) baik untuk pasar B2C maupun B2B. 

"Untuk pasar B2C, perusahaan ingin menjadi pemimpin pasar dengan cara menyampaikan nilai yang sepadan dengan harganya (value for money) serta meraih kepercayaan pelanggan (customer trust)," tutur Ahmad.

Kemudian mesin pertumbuhan pasar B2B, lanjut Ahmad, direalisasikan dengan cara bergerak lebih giat daripada kompetitor. Selanjutnya Ahmad menjelaskan, ada empat enablers yang menjadi fondasi mesin pertumbuhan tersebut. 

"Pertama kami akan membangun jaringan seluler bermutu video, yang kompetitif. Lalu kami akan mempercepat kemampuan digital untuk pertumbuhan masa depan," tutur pria yang berpengalaman di Ooredoo Group sejak 2004 itu. 

Peningkatan efisiensi belanja modal (capex) dan belanja operasional (opex) juga menjadi salah satu enabler perusahaan. 

Sebagai gambaran, anggaran belanja modal tahun 2019 sekitar 10,7 triliun rupiah. Per September, perusahaan telah menghabiskan sekitar 8,7 triliun rupiah. 

Terakhir, operator seluler yang identik dengan warna kuning itu akan melalukan eksekusi menyeluruh (end-to-end) secara regional.

(Why/Ysl)

Loading
Artikel Selanjutnya
Telkomsel Bayar Pajak Tertinggi di KPP Wajib Pajak Besar Empat
Artikel Selanjutnya
Setyanto Hantoro, Pejuang Tangguh yang Kini Jadi Dirut Telkomsel