Sukses

Taiwan Bantah Dapat Tekanan AS untuk Blokir Bisnis TSMC dan Huawei

Liputan6.com, Jakarta - Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) menyebut akan tetap memproduksi chip untuk Huawei. Hal ini dikonfirmasi setelah pemerintah Taiwan menegaskan tidak ada tekanan dari Amerika Serikat (AS) untuk melarang TSMC berbisnis dengan Huawei.

Juru bicara Taiwan Cabinet, Kolas Yotaka, mengatakan pemerintah AS belum meminta Taiwan untuk membekukan aliran suplai chip TSMC ke Huawei.

"Pemerintah kami belum menerima permintaan apa pun dari pemerintah AS untuk menghentikan suplai TSMC ke Huawei," katanya, seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (5/11/2019).

TSMC merupakan produsen chip terbesar dengan klien mulai dari Apple hingga Qualcomm. Huawei merupakan konsumen terbesar kedua setelah Apple.

Perusahaan semikonduktor tersebut berperan penting sebagai produsen paling maju dalam menggerakkan industri elektronik global dan sangat dibutuhkan oleh Huawei. Membekukan Huawei pun diprediksi dapat mengganggu lebih dari sepuluh persen pendapatan tahunan TSMC.

Seperti diketahui sebelumnya, Kementerian Perdagangan AS pada Mei lalu memasukkan Huawei ke dalam daftar hitam perdagangan. Hal ini membuat perusahaan-perusahaan AS tidak bisa menjual produk kepada Huawei.

Beberapa perusahaan besar AS seperti Intel dan Micron Technology telah memulai kembali bisnis dengan Huawei. Setelah melihat peraturan lebih terperinci, mereka memutuskan dapat menjual beberapa produk berdasarkan undang-undang kontrol ekspor.

2 dari 2 halaman

Perusahaan AS Bakal Segera Kembali Berbisnis dengan Huawei

Sekretaris Kementerian Perdagangan Amerika Serikat (AS), Wilbur Ross, mengatakan perusahaan-perusahaan AS akan kembali menjual komponen kepada Huawei dalam waktu dekat. Hal ini diungkapkan olehnya dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg.

Dikutip dari Reuters, Ross mengungkapkan lisensi yang dibutuhkan akan segera terbit. Selain itu, katanya, pemerintah AS telah menerima 206 permintaan lisensi tersebut.

"Ada banyak yang mengajukan, dan terus terang lebih banyak daripada yang kami kira," kata Ross.

Huawei belum memberikan komentar terkait laporan baru ini.

(Din/Why)

Loading
Artikel Selanjutnya
Senat AS Loloskan RUU Perlindungan Hak Asasi Manusia Hong Kong, China Geram
Artikel Selanjutnya
2 Tentara AS Tewas dalam Kecelakaan Heli di Afghanistan, Taliban Klaim Tembak Jatuh