Sukses

Arab Saudi Gelar Turnamen PUBG Mobile

Liputan6.com, Jakarta - Arab Saudi sedang menggelar festival Jeddah Season tahun ini. Festival ini merupakan ajang bagi pemerintah negara tersebut memperkenalkan Arab Saudi sebagai salah satu tujuan turis paling populer di dunia.

Salah satu acara yang diadakan dalam festival ini adalah turnamen PUBG Mobile. Acara ini digelar oleh General Sports Authority atau badan pemerintah yang bertanggung jawab di bidang olaharaga.

Dikutip dari Arab News, Rabu (26/6/2019), turnamen PUBG Mobile ini digelar sejak 15 hingga 21 Juni. Pemenang dalam turnamen ini adalah Ahad Uz Zaman yang berhasil mengalahkan 49 peserta lainnya.

Pria berumur 20 tahun itu menuturkan bahwa dirinya masih mahasiswa dan memang banyak menghabiskan waktu untuk bermain PUBG Mobile. Dia pun mengaku kerap dimarahi sang ibu karena kebiasanannya tersebut.

"Ibu saya sering marah menanyakan alasan saya selalu memainkan gim ini setiap saat. Jadi, saya sangat senang bisa menggunakan kemampuan PUBG Mobile yang dimiliki (untuk turnamen) dan membuatnya bahagia," tuturnya.

Turnamen yang digelar tidak hanya PUBG Mobile, tapi juga beberapa judul gim lain, seperti Tekken, Super Smash Bros dan Fifa. Peserta turnamen ini pun beragam, tidak hanya laki-lakiu tapi juga perempuan.

Salah satunya adalah Lujain Mohammed yang menuturkan turnamen ini merupakan kali pertamanya mengikuti kompetisi. Dia mengatakan bahwa sejak kecil dirinya memang sangat senang bermain video gim.

Sejumlah peserta juga menyambut baik turnamen PUBG Mobile ini. Peserta bernama Amani Al-Ghoraibi mengaku turnamen ini bagus sebab memungkinkan penggemar PUBG Mobile bertemu dan berbagi pengalaman bermain.

2 dari 3 halaman

Irak Resmi Blokir Fortnite dan PUBG

Terlepas dari hal tersebut, gim PUBG ternyata tidak selalu mendapatkan sambutan positif di negara timur tengah. Buktinya, pemerintah Irak telah memutuskan melarang gim Fornite dan PUBG beredar di negaranya.

Dikutip dari Reuters via PC Gamers, Kamis (25/04/2019), dampak negatif yang diberikan oleh gim tersebut berimbas pada faktor kesehatan, budaya, dan keamanan masyarakat Irak.

Tidak hanya itu, gim ini juga disebut membawa nilai negatif faktor sosial dan ancaman moral kepada anak-anak termasuk remaja.

Moqtada al-Sadr, seorang ulama dan mantan kepala milisi Tentara Mahdi juga memberikan peringatan, gim PUBG ini membuat pemainnya ketagihan dan dia meminta pemerintah untuk melarang peredaran gim ini di Irak.

"Apa yang kamu dapatkan, jika kau membunuh satu atau dua orang pada gim PUBG? Gim ini bukanlah gim intelijen atau gim militer yang memberikan cara benar untuk berperang" ungkap al-Sadr minggu lalu.

Keputusan pemerintah Irak menimbulkan reaksi negatif dari warganya, menurut berita yang beredar hal ini dipicu bukan karena warganya tidak bisa bermain gim Fornite dan PUBG lagi.

3 dari 3 halaman

Diminta Fokus Terhadap Masalah yang Lebih Penting

Lebih lanjut, masalah ini berawal karena warga Irak merasa keputusan larangan gim tersebut harusnya bukan keputusan utama yang diperhatikan oleh pemerintah.

Pemerintah harus fokus terhadap kekerasan sektarian, kekurangan infrastruktur, dan ketidakseimbangan politik terlebih dahulu.

Sejak memerintah pada September 2018, pemerintah hanya mampu mengatasinya dengan menerbitkan satu Undang-undang dan Undang-undang anggaran federal 2019 yang disahkan pada Januari.

(Dam/Isk)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: 

Loading
Artikel Selanjutnya
PUBG PC Bakal Perbaiki Kualitas Suara
Artikel Selanjutnya
Gelar Turnamen Peringatan HUT Ke-74 RI, PUBG Mobile Galang Dana untuk Veteran