Sukses

Samsung dan Apple Jalin Kerja Sama soal Distribusi Konten iTunes

Liputan6.com, Jakarta - Samsung dan Apple menjalin kerja sama baru. Berdasarkan keterangan Samsung, perusahaan akan menambahkan sebuah aplikasi untuk smart TV besutannya, agar para pengguna bisa menonton konten yang dibeli dari layanan iTunes Apple.

Dilansir Reuters, Selasa (8/1/2018), kesepakatan ini diprediksi sebagai langkah pertama Apple untuk mendistribusikan layanan televisi terbarunya ke berbagai perangkat yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan lain.

Selain itu, kerja sama ini juga merupakan bagian dari perubahan strategi berkelanjutan bagi Apple, mengingat penjualan hardware yang sedang tidak begitu baik, terutama di Tiongkok.

Melemahnya bisnis hardware, membuat Apple harus memperkuat bisnis berbagai layanannya yang lain, termasuk penyimpanan iCloud, selain bisnis konten film, televisi, dan musik.

Apple pun telah mengumumkan beberapa perjanjian penting untuk konten TV original, termasuk acara baru dengan Oprah Winfrey.

Kesepakatan dengan Samsung pun bisa menjadi langkah selanjutnya bagi Apple untuk mendistribusikan kontennya ke berbagai perangkat.

Berdasarkan kesepakatan baru ini, Samsung akan menambahkan sebuah aplikasi di dalam TV miliknya, sehingga pengguna bisa menelusuri dan memainkan film dan acara TV yang ada di iTunes. Pengguna pun bisa membeli konten baru iTunes melalui aplikasi tersebut.

Samsung mengatakan juga akan menambahkan software AirPlay 2 milik Apple, sehingga para pemilik iPhone bisa menampilkan konten mereka dari perangkatnya di TV Samsung.

Sejauh ini belum banyak yang diketahui soal perjanjian baru Apple dan Samsung ini, termasuk kemungkinan pembagian keuntungan dan biaya yang dikeluarkan kedua perusahaan.

Adapun kesepakatan dengan Samsung, merupakan kedua kalinya kerja sama serupa bagi Apple. Pada November 2018, dilaporkan bahwa Apple Music akan tersedia di speaker pintar Echo Amazon.

Apple sendiri menjual speaker pintar HomePod yang merupakan kompetitor langsung Echo.

2 dari 3 halaman

Penjualan di Tiongkok Lesu, Apple Pangkas Proyeksi Pendapatan

Apple mengumumkan pemangkasan proyeksi pendapatannya untuk kuartal I tahun fiskal 2019, yang berakhir pada 29 Desember 2018. Proyeksi pendapatan dipangkas menjadi US$ 84 miliar atau sekitar Rp 1.198 triliun, dari awalnya berkisar antara US$ 89 miliar dan US$ 93 miliar.

CEO Apple Tim Cook, dalam keterangannya menyebut melemahnya penjualan iPhone di Tiongkok sebagai pemicu penurunan proyeksi pendapatan tersebut. Hal ini sekaligus langkah yang tidak biasa, karena merupakan kali pertama Apple memangkas proyeksi pendapatan dalam 15 tahun terakhir.

Langkah Apple ini dinilai menimbulkan kekhawatiran tentang prospek perusahaan di Tiongkok, yang merupakan pasar smartphone terbesar di dunia. Hampir 20 persen penjualan Apple berasal dari Tiongkok.

"Pendapatan iPhone yang lebih rendah daripada prediksi, khususnya di Tiongkok, menyebabkan penurunan semua pendapatan kami," tulis Cook dalam suratnya kepada para investor.

Mengutip laporan dari Reuters, Cook menegaskan tidak ada pengaruh pemerintah Tiongkok dalam masalah ini, meski mungkin ada sejumlah konsumen yang tidak memilih iPhone atau perangkat Apple lainnya karena merupakan produk perusahaan Amerika Serikat (AS).

AS dan Tiongkok saat ini sedang terlibat dalam perang dagang. Perselisihan kedua negara semakin ditambah dengan penangkapan salah satu petinggi Huawei beberapa waktu lalu.

"Masalah yang jauh lebih besar adalah melemahnya ekonomi Tiongkok, dan tensi perdagangan juga semakin menekan," tutur Cook.

Cook juga menyoroti tantangan perusahaan di sejumlah pasar berkembang utama. Namun, memang Tiongkok memberikan dampak besar.

"Faktanya, sebagian besar kekurangan pendapatan merujuk pada kinerja kami, dan lebih dari 100 persen penurunan pendapatan global year-over-year, terjadi di Tiongkok, mencakup iPhone, Mac, dan iPad," ungkapnya.

3 dari 3 halaman

Isu Melemahnya Penjualan Apple

Persoalan pemangkasan ini dinilai tidak begitu mengejutkan, jika mengingat langkah yang diambil Apple beberapa waktu lalu.

Perusahaan pada November 2018, mengatakan tidak akan lagi mengumumkan data penjualan iPhone dan produk hardware lainnya. Langkah ini membuat banyak investor khawatir tentang penurunan penjualan iPhone.

Selain itu, penjualan beberapa produsen komponen yang jadi mitra Apple juga diprediksi melemah.

Pada November 2018, Cook mengungkapkan pertumbuhan di pasar berkembang melemah, seperti Brasil, India, dan Rusia, karena lebih rendah daripada estimasi kuartal I perusahaan. Namun kala itu, Cook mengatakan tidak akan menempatkan Tiongkok dalam kategori negara dengan pertumbuhan bermasalah.

Pernyataan Cook itu terjadi sebelum ada perubahan dalam ekonomi Tiongkok, yang disebabkan tensi perdagangan dengan AS.

(Din/Isk)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

MUI Menyambut Baik Jika Abubakar Baasyir Dibebaskan

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
iPhone 2019 Bakal Usung Port USB-C?
Artikel Selanjutnya
Soal Privasi, Ini Sindiran Menohok Apple Kepada Kompetitor