Sukses

Jepang dan Eropa Kirim Pesawat Eksplorasi Planet Merkurius

Liputan6.com, Jakarta - Rencana Badan Antariksa Eropa (ESA) dan Badan Antariksa Jepang (JAXA) untuk meneliti Planet Merkurius  akhirnya sukses terwujud.

Kedua lembaga antariksa tersebut, telah mengirimkan pesawat luar angkasa khusus dalam roket Ariane 5 pada Sabtu (20/10/2018).

Pesawat luar angkasa ditugaskan untuk melakukan eksplorasi penelitian planet Merkurius dalam kurun waktu tujuh tahun ke depan.

Adapun misi penelitian Merkurius diketahui menghabiskan dana sebanyak US$ 1,5 miliar (setara dengan Rp 22,7 triliun).

JAXA dan ESA mengungkap, pesawat luar angkasa tersebut bernama BepiColombo, yang mana terinspirasi dari ilmuwan Italia bernama Giuseppe "Bepi" Colombo.

Menurut ESA, misi eksplorasi Merkurius bisa dikatakan sebagai salah satu misi paling menantang yang pernah dilakukan. Pasalnya, Merkurius adalah planet terdekat dengan Matahari.

Planet ini bahkan memiliki temperatur ekstrem, serta graviti yang berat sehingga dapat menarik Matahari lebih dekat dan menciptakan radiasi solar yang berbahaya.

2 dari 3 halaman

Tiba di Merkurius 2025

BepiColombo nantinya akan mengikuti jalur elips yang panjang dari Bumi melewati Venus, sebelum akhirnya mencapai orbit Merkurius pada 2025.

Saat tiba di Merkurius, BepiColombo akan melepas dua satelit probe--Bepi dan Mio--yang nantinya akan langsung terjun ke permukaan planet untuk menginvestigasi medan magnetik Merkurius.

Satelit probe dirancang untuk bisa beradaptasi dengan temperatur mulai dari 430 derajat Celcius (dari hadapan Matahari secara langsung) hingga -180 derajat Celcius.

Probe Bepi akan beroperasi dari orbit dalam Merkurius, adapun Mio akan berada di orbit luar untuk mengumpulkan data yang nantinya akan mengungkap struktur internal planet, permukaan, dan evolusi geologis.

 

 

3 dari 3 halaman

Planet Merkurius Sempat Transit di Matahari

Merkurius sendiri sempat transit di Matahari pada 2016. Sebagaimana dilansir dari Mirror, Kamis (5/5/2016), meski transit di orbit Matahari, bukan berarti manusia di Bumi bisa melihat lebih dekat seperti apa permukaan Merkurius.

“Pada jarak terdekatnya nanti, kita tidak bisa melihat detail menakjubkan dari Merkurius seperti geologi permukaan, kawah, tebing, dataran rendah, pegunungan atau lembah. Kita hanysa bisa menyaksikan transit Merkurius dalam bentuk titik hitam kecil ketika ia 'menyeberangi' lingkaran cahaya Matahari,” tutur pihak ESA menerangkan.

Transit Merkurius akan terjadi pada pagi hari waktu Amerika Serikat. Badan Antariksa Eropa tersebut mengungkap, semua penjuru dunia bisa menyaksikan transit Merkurius dalam waktu yang berbeda.

Merkurius sendiri merupakan Planet yang posisinya berada dekat dengan Bumi dan Matahari. Hanya saja, ukurannya lebih kecil jika dibandingkan dengan Bumi.

Sekadar informasi, Merkurius terakhir kali transit di Matahari pada akhir 2006. 

(Jek/Isk)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Live Streaming EMTEK GOES TO CAMPUS 2018 di Surabaya

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
5 Sisi Positif Perang Nuklir Menurut Sains
Artikel Selanjutnya
Ada Planet Yatim Piatu, Ukurannya 40 Kali Lebih Besar dari Jupiter!