Sukses

Cerita Bos Astra Kepincut Go-Jek hingga Kucurkan Rp 2 Triliun

Liputan6.com, Jakarta - Astra secara resmi mengumumkan investasinya senilai US$ 150 juta atau setara Rp 2 triliun kepada salah satu perusahaan unicorn Tanah Air, Go-Jek.

Pendanaan ini diklaim sebagai investasi terbesar yang dikucurkan Astra untuk perusahaan di bidang digital.

Selain itu, menurut Founder dan CEO Go-Jek Nadiem Makarim, investasi senilai Rp 2 Triliun dari Astra merupakan kucuran dana terbesar yang diterima Go-Jek pada putaran investasi kali ini.

Lantas bagaimana cerita dan alasan di balik investasi antar dua perusahaan lokal ini?

Presiden Direktur Astra International Prijono Sugiarto mengatakan, ada sejarah tersendiri di balik investasi Rp 2 triliun tersebut.

"Ada historinya, ini satu proses. Andre (Andre Soelistyo, Presiden dan Co-Founder Go-Jek) dan Nadiem datang tiga tahun lalu. Saya lihat, Nadiem itu usianya masih muda ya beda-beda tipis dengan anak-anak kita tetapi punya semangat dan kegigihan tinggi untuk memajukan Go-Jek," tutur Prijono  saat konferensi pers penandatanganan kerjasama investasi Go-Jek dan Astra di Jakarta, Senin (12/2/2018).

Prijono juga bercerita kalau dirinya sempat membaca majalah Fortune dan melihat di majalah tersebut ada 56 perusahaan yang mengubah dunia.

"Di daftar itu ada Apple, Microsoft, Google, dan ada Go-Jek juga masuk satu-satunya dari Indonesia dan mungkin dari Asia Tenggara dengan peringkatnya yang waktu itu nomor 17," kata Prijono.

Dia kembali berujar, tak masalah berada di peringkat berapa Go-Jek berada. Biar bagaimanapun, kata Prijono, ada satu perusahaan Indonesia yang sudah mengubah dunia.

"Satu atau dua bulan lalu Andre dan Nadiem datang lagi dan ada fundraising, menawarkan kami untuk kolaborasi. Manajemen Astra berembuk dan kami memutuskan untuk bergabung dengan Go-Jek," katanya.

 

1 dari 3 halaman

Benang Merah Awal Kolaborasi

Prijono juga mengatakan, ada satu benang merah yang menjadi awal kolaborasi. Di Go-Je,k ada sekitar 600 ribu pengemudi ojek dan 200 ribu pengemudi mobil Go-Car. Sementara Astra kuat dengan bisnis otomotifnya.

"Untuk roda empat memiliki pangsa pasar 56 persen dengan jumlah 600 ribu roda empat. Kendaraan roda dua memiliki pangsa pasar 75 persen dengan jumlah 4,5 juta unit. Kami juga memiliki bisnis lain seperti jasa keuangan seperti leasing dan asuransi umum," kata Prijono.

"Ada benang antara Go-Jek dengan Astra. Ada 4.000 yang bisa membantu tugas Go-Jek melayani konsumen," ujarnya.

Untuk itulah, Astra memutuskan berinvestasi sebesar Rp 2 triliun di Go-Jek. "Kami ingin ikut membantu menjadikan Go-Jek lebih terkenal, nggak hanya nomor 17 (di daftar majalah Fortune)," ujar Prijono.

 

2 dari 3 halaman

Nadiem Menyambut Baik

Nadiem pun menyambut baik investasi yang diberikan Astra. "Bagi kami ini sangat bersejarah karena satu, Astra merupakan perusahaan lokal. Astra telah menjadi pionir untuk menjadi statement bahwa ekonomi digital Indonesia itu real," katanya.

Nadiem juga menambahkan, baginya, kucuran dana dari Astra menjadi pintu bagi perusahaan lain untuk ikut serta berinvestasi pada startup digital Tanah Air.

"Ini bersejarah karena kalau Astra melakukan ini, perusahaan lain akan mengikuti. Paradigma perusahaan lain berubah, bukan 'should I' tetapi 'when' dan 'how much'," tutur Nadiem.

"Terakhir, secara spirit Astra perusahaan yang mempekerjakan banyak orang, demikian juga Go-Jek. Karena spirit employment sama, sisi itu sudah klop. Ada jutaan orang yang nafkahnya tergantung ekosistem kami," ujar Nadiem.

(Tin/Jek)

Artikel Selanjutnya
Anak Usaha IPC Berencana Melantai di Bursa pada 10 Juli
Artikel Selanjutnya
Bank Mandiri Tambah Pasokan Kartu E-Money Jelang Lebaran