Sukses

Apple dan Android Bakal Jadi Target Ransomware Berikutnya?

Liputan6.com, Negeri Sembilan - Ransomware, salah satu jenis malware yang paling ditakuti saat ini, terus melahirkan varian terbaru yang berpotensi menjadi risiko bagi keamanan data, baik personal maupun perusahaan. Sejak muncul di Rusia pada 2005 hingga 2006, para peretas (hacker) berhasil mengantongi uang tebusan dari para korbannya dalam jumlah yang sangat besar.

Seiring dengan makin beragamnya varian ransomware yang terdeteksi, target yang menjadi sasaran malware ini juga diyakini akan meluas. Kalau selama ini ransomware utamanya lebih mengancam para pengguna PC berbasis Windows, ke depannya target serangan ransonware akan berubah.

Keyakinan itu muncul saat digelarnya Cyber Security Summit Apac 2015 di Port Dickson, Negeri Sembilan, Malaysia akhir pekan lalu. Para pakar dan peneliti yang menjadi pembicara dalam pertemuan yang digagas vendor perangkat lunak antivirus asal Rusia, Kaspersky Lab, memperkirakan dalam beberapa bulan ke depan serangan itu akan terjadi.

"Akan ada lebih banyak serangan ke platform non-Windows," ujar Vitaly Kamluk, salah seorang peneliti di Kaspersky dalam presentasinya.

Program jahat komputer jenis ransomware yang menyandera dokumen dan meminta tebusan uang ke korban, telah mengeksploitasi celah keamanan pada sistem operasi Windows dan Linux. Tahun depan, malware ini diprediksi Kamluk akan mengincar pengguna perangkat mobile, terutama ponsel pintar.

Menurut dia, dari analisis yang dilakukan Kaspersky, ransonware dalam beberapa bulan ke depan diperkirakan bakal menargetkan serangannya ke sistem operasi buatan Apple. Apalagi varian ransomware yang menyerang platform mobile juga sudah mulai terlihat.

"Bukan tidak mungkin sistem operasi Apple seperti Mac OS X akan jadi sasaran pada 2016," lanjut Kamluk.

2 dari 3 halaman

Popularitas Apple dan Android

Hal ini sangat dimungkinkan sebagai salah satu upaya para peretas dalam memperluas target mereka dengan memanfaatkan popularitas produk Apple serta sistem operasi mobile secara umum.

Alasan mengapa Apple yang akan menjadi sasaran ransomware bisa diterima nalar, jika melihat kepada tujuan serangan mereka: uang. Karena para pengguna Apple bersedia membeli produknya dengan harga lebih mahal, mereka juga kemungkinan akan dipaksa membayar lebih kepada peretas yang mencuri informasi penting.

"Para peretas melihat pengguna perangkat Apple lebih makmur, sehingga dianggap akan lebih rela membayar uang tebusan demi mendapatkan kode deskripsi untuk membebaskan dokumennya," jelas Kamluk lagi.

Karena itu, Kaspersky memperkirakan uang tebusan yang dikenakan bakal lebih tinggi ketimbang terhadap pengguna perangkat lain.

Pun demikian halnya dengan Android. Popularitasnya sebagai platform mobile, akan menjadikan Android sebagai target utama peretas dunia maya lewat ransomware. Apalagi dengan populasi Android yang terus tumbuh, diyakini akan membuat nasibnya sama seperti Windows yang jadi target serangan.

Keyakinan ini didukung oleh bukti munculnya varian pertama program jahat ransomware pada 2014 yang benar-benar mengunci dokumen pengguna Android. Modusnya, malware ini menyamar sebagai aplikasi codec untuk memutar video porno.

Menurut analisis Kaspersky, ransomware di Android pada 2016 diprediksi akan terus tumbuh jumlahnya, bahkan bakal menjadi tren dalam isu keamanan siber.

3 dari 3 halaman

Pergeseran Motif Peretas

Munculnya program jahat seperti ransomware diakui tidak lepas dari mulai bergesernya motif para peretas saat ini. Mereka kini tak lagi membobol jaringan komputer untuk mempromosikan ideologi, kebebasan berbicara, berekspresi, atau kebebasan informasi.

Kini mereka mengganggu sebuah situs web atau layanan internet tak hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu, prestise, atau mencari tantangan. Sasaran mereka pun sudah berubah, yang kini lebih menyasar pada lembaga keuangan.

"Itulah yang membedakan peretas terdahulu dengan sekarang. Kini motif mereka adalah mengumpulkan uang, sehingga akan sangat merugikan," tegas pakar keamanan Kaspersky, Sergey Lozhkin dalam perbincangan dengan Liputan6.com akhir pekan lalu.

Agar tidak mengalami kerugian lebih besar, Lozhkin menyarankan para korban untuk tidak pernah memberi tebusan guna memperoleh kembali dokumen yang telah disandera peretas tersebut.

Sebagai langkah pencegahan untuk menyelamatkan data, antara lain pengguna harus memperbarui antivirus. Dalam hal ini, Kaspersky mengklaim bahwa pihaknya telah merilis lebih dari 14 ribu kode untuk membuka enkripsi.

Produsen perangkat lunak antivirus ini juga menyarankan para pengguna PC dan Internet untuk meningkatkan kesadaran mereka atas ancaman kejahatan dunia maya yang selalu mengintai, seperti ransomware ini. Salah satunya dengan selalu melakukan back up data penting dan sebisa mungkin disimpan pada media penyimpan data offline.

(ado/why)