UPN Veteran Jakarta Genjot Akreditasi Internasional dan Mobilitas Akademik Global

Internasionalisasi UPN Veteran Jakarta dibangun melalui empat tahapan, yakni preparing, engaging, enhancing, dan recognizing.

Diterbitkan 01 Juli 2026, 16:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) mempercepat agenda internasionalisasi melalui 10 program strategis. Program tersebut mencakup bidang pendidikan, penelitian, kerja sama, mobilitas akademik, rekognisi global, serta pengembangan sarana dan prasarana.

Rektor UPN Veteran Jakarta, Prof. Dr. Anter Venus, mengatakan program strategis internasional dan transformasi sarana dan prasarana menjadi langkah penting dalam membawa UPNVJ dari identitas lokal dan nasional menuju posisi yang lebih kompetitif di tingkat internasional. Melalui akselerasi sejak 2023 hingga 2026, sejumlah target yang semula diproyeksikan tercapai pada 2026 mulai terealisasi lebih awal.

“Percepatan tersebut berjalan beriringan dengan penguatan infrastruktur kampus, layanan digital, fasilitas pendukung pembelajaran, serta rencana pengembangan kawasan pendidikan dan layanan kesehatan terpadu di Tangerang,” ujar Venus, Rabu (1/7/2026).

Venus menjelaskan, internasionalisasi UPNVJ dibangun melalui empat tahapan, yakni preparing, engaging, enhancing, dan recognizing. Tahap awal dilakukan dengan merekonseptualisasi visi universitas menjadi kampus yang unggul, berkualitas internasional, inovatif, berdaya saing, dan beridentitas bela negara untuk pembangunan masyarakat Indonesia.

“Karena kita berada di sentrum Indonesia, di pusat budaya, pusat kekuasaan, dan pusat rujukan pendidikan, maka visi UPNVJ tidak bisa sekadar bersifat lokal atau nasional. Visi kita harus global,” jelas Venus.

Venus menilai, langkah tersebut memang tidak mudah bagi UPNVJ yang baru berstatus perguruan tinggi negeri sejak 2014 dan mulai beroperasi secara efektif pada 2015. Namun, usia kelembagaan yang relatif muda tidak menjadi hambatan untuk bergerak lebih cepat.

“UPNVJ justru melihat sumber daya, posisi geografis, dan jejaring kelembagaan sebagai modal untuk mengejar target internasionalisasi secara lebih terukur,” terang Venus.

Fondasi penguatan mutu mulai dibangun sejak 2022 melalui rekognisi FERCAP untuk Komisi Etik serta sertifikasi ISO sebagai dasar tata kelola organisasi yang lebih terstandar. Berbekal fondasi tersebut, UPNVJ memperluas langkah menuju kurikulum internasional, akreditasi internasional, pemeringkatan global, kerja sama akademik lintas negara, serta penguatan ekosistem riset.

“Di bidang standar mutu dan rekognisi, UPNVJ mencatat perkembangan signifikan melalui akreditasi internasional sejumlah program studi. Proses ini dimulai dari FIBAA pada 2023, berlanjut pada akreditasi penuh pada 2024, kemudian diperluas melalui ASIIN pada 2025, IABEE untuk Fakultas Teknik, serta IAHE untuk Fakultas Kedokteran,” ucap Venus.

Venus mengungkapkan, saat ini terdapat 18 program studi atau sekitar 40 persen dari total program studi di UPNVJ yang telah memperoleh akreditasi internasional. Akselerasi tersebut menjadi penanda bahwa tahapan internasionalisasi tidak berjalan secara linier, melainkan saling bertaut dan dapat dicapai lebih cepat.

“Kita sebetulnya menargetkan seluruh program ini benar-benar mencapai performa pada 2026. Namun, faktanya beberapa capaian sudah mulai terlihat sejak 2023 dan 2024. Ini menunjukkan bahwa organisasi bergerak lebih cepat daripada jadwal awal,” ungkap Venus.

 

Mobilitas Akademik

Pada aspek mobilitas akademik, UPNVJ terus mendorong partisipasi mahasiswa dalam program pertukaran internasional. Melalui program IISMA, UPNVJ telah mengirimkan 26 mahasiswa ke berbagai perguruan tinggi yang masuk dalam jajaran 100 universitas terbaik dunia.

Di sisi lain, UPNVJ juga menerima mahasiswa asing dari sejumlah negara, antara lain Kazakhstan, Malaysia, dan Thailand, untuk mengikuti program pertukaran selama satu semester. Penerimaan mahasiswa internasional turut menjadi bagian penting dari agenda tersebut.

“Saat ini, mahasiswa asing di UPNVJ berasal dari berbagai negara, seperti Timor Leste, Libya, Yaman, India, dan Pakistan. UPNVJ menargetkan jumlah mahasiswa internasional terus bertambah hingga mencapai sekitar dua persen dari total mahasiswa,” tutur Venus.

Penguatan internasionalisasi juga dilakukan melalui pembukaan kelas internasional. Salah satu program yang sedang disiapkan adalah kerja sama double degree atau joint degree dengan Ablaikhan University, Kazakhstan, pada bidang Hubungan Internasional.

Dari sisi kapasitas pengajar, UPNVJ mulai menjalankan program adjunct professor sejak 2025. Melalui program ini, dosen atau profesor dari perguruan tinggi luar negeri mengajar secara tetap di UPNVJ selama satu semester.

“Mereka berasal dari sejumlah negara mitra, antara lain Malaysia dan Jepang. Program ini berbeda dari skema visiting scholar karena para pengajar internasional terlibat lebih intensif dalam proses pembelajaran,” kata Venus.

Pada bidang riset dan publikasi, UPNVJ terus mendorong dosen memperbanyak artikel pada jurnal bereputasi internasional, termasuk yang terindeks Scopus dan Web of Science. Penguatan publikasi tersebut turut berdampak pada posisi UPNVJ dalam pemeringkatan SINTA. Selain itu, universitas juga menargetkan jurnal-jurnal internal dapat naik kelas menuju indeksasi internasional.

“Kerja sama internasional UPNVJ juga terus diperluas dengan berbagai perguruan tinggi dan lembaga dari Malaysia, Rusia, Amerika Serikat, Belanda, Australia, serta sejumlah negara lainnya. Kerja sama tersebut diarahkan agar aktif dan produktif, terutama dalam bidang pengajaran, penelitian, pertukaran akademik, serta pengembangan kapasitas kelembagaan,” ujar Venus.

Pada aspek pendanaan, UPNVJ mencatat capaian penting melalui hibah riset internasional. UPNVJ juga termasuk perguruan tinggi negeri badan layanan umum yang menonjol dalam penerimaan kerja sama internasional di bidang riset.

“Tahun ini, hibah riset internasional yang berhasil diserap mencapai sekitar Rp 1,5 miliar, termasuk kerja sama penelitian dengan mitra dari Belanda dan Australia melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat,” pungkas Venus.