Wasekjen Gerindra: Dugaan BEM UBK Jangan Digeneralisasi ke Seluruh Mahasiswa

Mahardika meminta dugaan penerimaan uang yang dikaitkan dengan aksi mahasiswa di BEM Universitas Bung Karno diusut sesuai proses hukum agar tidak mencoreng gerakan mahasiswa.

Diterbitkan 29 Juni 2026, 20:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra, M. Mahardhika Suprapto atau Mahardhika Soekarno, menyampaikan keprihatinannya atas informasi yang beredar mengenai dugaan keterlibatan oknum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Bung Karno (UBK) dalam penerimaan sejumlah uang yang dikaitkan dengan aksi mahasiswa.

Menurut Mahardhika, apabila dugaan tersebut terbukti melalui proses hukum, kasus itu tidak hanya menyangkut individu yang terlibat, tetapi juga berpotensi mencederai kepercayaan publik terhadap gerakan mahasiswa.

"Saya sangat prihatin apabila informasi yang berkembang tersebut benar adanya. Jika dugaan itu terbukti, persoalan ini bukan hanya menyangkut satu atau dua orang, tetapi juga menyangkut kepercayaan publik terhadap gerakan mahasiswa sebagai agen perubahan dan kekuatan moral bangsa," ujar Mahardhika di Jakarta, Minggu (28/6/2026).

Mahardhika, yang juga menjabat Ketua Dewan Kehormatan DPP Gerakan Pemuda Marhaenis, mengatakan dirinya memiliki ikatan emosional dengan Universitas Bung Karno sebagai putra almarhumah Rachmawati Soekarnoputri, pendiri kampus tersebut.

Namun, ia menegaskan sudah tidak lagi memiliki keterlibatan dalam pengelolaan Universitas Bung Karno maupun Yayasan Pendidikan Soekarno sejak Rachmawati Soekarnoputri wafat pada 2021.

"Sejak Ibu Rachmawati wafat, saya sudah tidak lagi berada dalam struktur pengelolaan yayasan maupun universitas. Karena itu, saya tidak mengetahui secara langsung dinamika internal yang terjadi saat ini. Namun, sebagai putra pendiri, tentu saya merasa sedih apabila kampus yang dibangun dengan cita-cita besar kini menjadi perhatian publik akibat pemberitaan seperti ini."

 

Berharap Ada Evaluasi

Mahardhika berharap pihak universitas dan yayasan melakukan evaluasi terhadap pembinaan organisasi kemahasiswaan agar nilai-nilai yang diwariskan pendiri Universitas Bung Karno tetap terjaga.

"Saya berharap evaluasi dilakukan secara menyeluruh agar nilai-nilai yang diwariskan pendiri universitas tetap menjadi pedoman. Kampus memiliki tanggung jawab besar untuk membentuk karakter dan integritas mahasiswa, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan tetap terjaga."

Ia juga mengingatkan agar dugaan yang melibatkan oknum tidak digeneralisasi kepada seluruh mahasiswa maupun organisasi kemahasiswaan.

"Saya tidak ingin dugaan terhadap oknum tertentu kemudian digeneralisasi kepada seluruh mahasiswa ataupun seluruh organisasi kemahasiswaan. Jika memang ada oknum yang terbukti melakukan pelanggaran, biarlah diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Jangan sampai karena ulah segelintir orang, nama baik ribuan mahasiswa Universitas Bung Karno maupun gerakan mahasiswa Indonesia ikut tercoreng."

Menurut Mahardhika, gerakan mahasiswa harus tetap menjaga independensinya sebagai kekuatan moral bangsa.

"Gerakan mahasiswa harus tetap independen. Kritik terhadap pemerintah adalah hak konstitusional yang harus dihormati. Namun, independensi itu harus dijaga agar tidak kehilangan legitimasi di mata masyarakat ataupun terkooptasi oleh kepentingan politik maupun kepentingan ekonomi tertentu."

Ia menilai fungsi utama mahasiswa adalah mengawasi, mengkritisi, dan mengevaluasi kebijakan publik secara objektif.

"Gerakan mahasiswa sebaiknya mengawasi dan mengevaluasi pelaksanaan program-program pemerintah secara objektif. Kritik yang konstruktif akan memperkuat kualitas kebijakan publik, bukan melemahkan semangat untuk membangun bangsa."

Mahardhika juga menyinggung sejumlah aksi mahasiswa yang belakangan mengangkat isu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Menurutnya, penyampaian pendapat merupakan hak konstitusional, namun kritik sebaiknya diarahkan pada aspek transparansi, akuntabilitas, efektivitas, dan pengawasan pelaksanaan program.

"Perbedaan pandangan merupakan bagian dari demokrasi. Yang terpenting adalah bagaimana kritik tersebut tetap dibangun secara objektif, bertanggung jawab, serta benar-benar bertujuan memperbaiki pelaksanaan kebijakan demi kepentingan masyarakat."

Menutup pernyataannya, Mahardhika menegaskan bahwa pandangannya bukan untuk menyudutkan mahasiswa maupun Universitas Bung Karno, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap marwah gerakan mahasiswa.

"Sejarah Indonesia membuktikan bahwa mahasiswa selalu menjadi salah satu kekuatan moral bangsa. Kekuatan mahasiswa tidak pernah lahir dari besarnya dana yang dimiliki, melainkan dari keberanian berpikir, integritas, kejujuran, serta keberpihakan kepada rakyat. Saya berharap Universitas Bung Karno kembali menjadi rumah bagi lahirnya pemimpin-pemimpin bangsa yang menjaga idealisme, bukan menggadaikannya. Itulah cita-cita yang saya yakini diwariskan oleh almarhumah Ibu Rachmawati Soekarnoputri ketika mendirikan Universitas Bung Karno, dan saya berharap nilai-nilai itu akan terus hidup dalam setiap generasi mahasiswanya."