Kisah Teuku Feroz: Menjembatani Akses Pendidikan Tinggi untuk Anak-Anak Aceh

Ia menginisiasi berdirinya Ekadanta Learning Center

Diterbitkan 20 Mei 2026, 15:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bagi sebagian besar siswa SMA di Pulau Jawa, mendengar nama Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), atau Universitas Gadjah Mada (UGM) mungkin sudah menjadi hal yang lumrah sejak kecil.

Namun, realita yang sangat berbeda harus dihadapi oleh anak-anak muda di ujung barat Indonesia, Provinsi Aceh. Selama bertahun-tahun, jumlah mahasiswa asal daerah ini yang berhasil menembus perguruan tinggi negeri (PTN) papan atas nasional tergolong sangat minim.

Ketimpangan ini terekam jelas dalam ingatan Teuku Feroz Taufan. Pada tahun 2015 ketika ia masuk ITB, hanya ada 19 siswa dari seluruh Provinsi Aceh yang berhasil lolos melalui jalur tes tulis.

Angka tersebut justru terus merosot hingga menyisakan empat orang saja pada saat ia lulus di tahun 2019. Aceh bahkan sempat menjadi sorotan karena mencatatkan nilai ujian kompetensi yang terendah di Sumatra.

Ironisnya, hal ini terjadi di tengah guyuran dana Otonomi Khusus (Otsus) triliunan rupiah yang salah satu peruntukan besarnya adalah untuk sektor pendidikan. Banyak siswa di daerah yang sebenarnya memiliki potensi, namun kalah saing karena tidak terbiasa dengan strategi dan pola ujian masuk PTN.

“Aceh menjadi provinsi termiskin, dan nilai TKA di pertengahan tahun 2010an itu terendah di Sumatra. Jadi, itu memang cukup memprihatinkan. Jadi, saya merasa ini nih yang perlu dibantu dulu agar lebih banyak anak-anak Aceh yang diterima di kampus negeri papan atas nasional,” ujar dia membuka percakapan.

Lahirnya Ekadanta: Gotong Royong Alumni untuk Pendidikan Aceh

Melihat kondisi yang memprihatinkan tersebut, Feroz tidak tinggal diam. Berangkat dari latar belakang keluarga yang menjunjung tinggi nilai pendidikan dan pengalamannya mencicipi beasiswa sejak SMA, ia merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu.

Pada akhir tahun 2019, bersama beberapa rekan sesama alumni ITB, ia menginisiasi berdirinya Ekadanta Learning Center, sebuah lembaga pendidikan yang dirancang khusus untuk menjadi jembatan bagi siswa SMA di Aceh agar mampu menembus PTN favorit.

“Saat itu kami fokus dulu ke Banda Aceh dan inilah yang realistis, yakni mendorong anak-anak SMA atau SMK tembus kampus top,” jelasnya.

Feroz memilih Banda Aceh sebagai focus program karena anak-anak dari berbagai desa di Aceh rata-rata pergi ke kota tersebut untuk menempuh pendidikan yang lebih baik

Perjalanan merintis Ekadanta tentu tidak mudah. Feroz harus melakukan brainstorming, menyusun data, hingga mengetuk pintu rumah para alumni senior asal Aceh di Jakarta untuk menggalang dana awal.

Pada angkatan pertama, program ini berjalan 100% gratis untuk 40 siswa terbaik di Banda Aceh yang disaring ketat melalui jalur tes. Hasilnya pun luar biasa; tingkat siswa asal Aceh yang berhasil masuk ITB melonjak hingga 300% pada tahun tersebut.

Kini, Ekadanta telah memasuki tahun ketujuh dan berjalan secara mandiri. Melalui peta jalan (roadmap) yang matang, Feroz menerapkan sistem subsidi silang dan diversifikasi pendapatan, termasuk menjalin kerja sama dengan sekolah-sekolah untuk melatih para guru agar dampak yang dihasilkan bisa lebih masif dan berkelanjutan.

Geluti Dunia Profesional sebagai Konsultan

Di luar dedikasinya yang tinggi untuk tanah kelahirannya, Feroz adalah seorang profesional muda yang memiliki karier cemerlang. Lulus dari Teknik Mesin ITB pada Juli 2019, ia langsung direkrut melalui jalur talent pool kampus sebelum proses wisuda resminya.

Ia memulai kariernya selama empat tahun di EQUITEK, sebuah perusahaan Konsultan Manajemen dan Teknologi, dengan menangani berbagai proyek transformasi untuk BUMN-BUMN besar seperti Pos Indonesia, Krakatau Steel, hingga RSCM.

Kariernya kian melesat saat memutuskan pindah ke Altha Consulting pada Oktober 2023. Di perusahaan keduanya ini, ia fokus pada strategi, transformasi proses bisnis, dan teknologi untuk sektor logistik BUMN.

Berkat kompetensinya, Feroz berhasil mendapatkan promosi ganda, dari posisi Manajer di tahun 2023 menjadi Senior Manager pada September 2025.

Di tengah padatanya jadwal pekerjaan utamanya, termasuk rutinitas bepergian dari Jakarta ke berbagai kota setiap minggu, posisi manajerial ini justru memberinya ruang dan fleksibilitas untuk tetap mengontrol operasional Ekadanta di luar jam kerja.

 

Buah Manis Tempaan Beasiswa Tanoto Foundation

Keberhasilan Feroz dalam menyeimbangkan karier profesional dan aksi sosialnya diakui tidak lepas dari peran besar Tanoto Foundation. Saat masih berkuliah di tingkat satu, ia berhasil terpilih sebagai penerima beasiswa prestasi yang kala itu bernama National Championship Scholarship (NCS).

Bagi Feroz, Tanoto Foundation memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar bantuan finansial, yakni kurikulum pengembangan diri (Self Development) yang sistematis dan terstruktur.

Selama menjadi penerima beasiswa, Feroz ditempa melalui berbagai program sosial seperti mengajar di panti asuhan, hingga pelatihan kepemimpinan intensif.

Di sanalah ia mengasah soft skill krusial yang digunakannya hingga hari ini: kemampuan melakukan presentasi, bernegosiasi, dan cara memengaruhi orang lain (how to influence people).

Ilmu-ilmu manajemen program dan komunikasi yang ia dapatkan dari Tanoto Foundation-lah yang menjadi pondasi kokoh baginya saat harus meyakinkan dinas pendidikan, kepala sekolah, hingga para donatur alumni demi memajukan Ekadanta.

“Kemampuan seperti ini tidak saya lihat pada program beasiswa lain, yang mungkin lebih berfokus pada pemberian uangnya saja. Di Tanoto Foundation ini, programnya dibuat secara sistematis,” jelas dia.

Harapan untuk Para Pemuda Aceh

Sebagai anak muda Aceh yang pernah merasakan langsung tantangan menembus perguruan tinggi terbaik nasional, Teuku Feroz menyimpan harapan besar agar semakin banyak generasi muda dari daerah dapat memiliki kesempatan dan kepercayaan diri untuk bersaing di tingkat nasional.

Menurutnya, tantangan terbesar bukan semata soal kemampuan akademik, melainkan keterbatasan akses terhadap informasi, pendampingan, serta lingkungan belajar yang mampu mendorong siswa berkembang secara maksimal. Banyak pelajar di Aceh sebenarnya memiliki potensi besar, namun belum mendapatkan arahan dan strategi yang tepat untuk menghadapi persaingan masuk perguruan tinggi favorit.

Karena itu, Feroz menilai pembangunan pendidikan tidak bisa hanya berfokus pada siswa semata, tetapi juga perlu memperkuat kualitas guru, budaya belajar, serta keterlibatan para alumni untuk ikut berkontribusi membantu generasi berikutnya.

Melalui Ekadanta, ia berharap semakin banyak anak muda Aceh yang berani memiliki mimpi besar dan melihat bahwa menembus kampus-kampus terbaik di Indonesia bukan sesuatu yang mustahil. Baginya, keberhasilan satu anak dari daerah dapat membuka jalan dan kepercayaan diri bagi banyak siswa lainnya.

Feroz juga berharap semakin banyak lulusan perguruan tinggi yang nantinya kembali membawa ilmu, pengalaman, dan jejaring yang mereka miliki untuk membangun Aceh dari berbagai bidang.

“Kalau semakin banyak anak Aceh yang bisa masuk kampus-kampus terbaik, lalu kembali membangun daerahnya, dampaknya akan sangat besar untuk masa depan Aceh,” pungkas Feroz.