Indonesia Dorong Kerja Sama Keuangan Syariah di Forum Halal

Indonesia meluncurkan Halal Expo Indonesia untuk memperkuat kerja sama perdagangan dan investasi halal.

Diterbitkan 08 Juli 2026, 23:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia resmi meluncurkan Halal Expo Indonesia di Jakarta dengan target memperdalam kerja sama perdagangan dan investasi halal dalam kerangka Developing Eight (D-8) yang bertujuan meningkatkan perdagangan intra-blok hingga USD 500 miliar pada 2030 pada Rabu (8/7/2026).

PT Permodalan Nasional Madani (PNM) tampil sebagai salah satu representasi nyata ekosistem keuangan syariah inklusif Indonesia, melalui sesi HEI Talk bertajuk 'Social Collateral, Real Impact: Rethinking Poverty Alleviation through Islamic Finance'.

"Dampak dari keuangan syariah yang diterapkan PNM di hadapan delegasi dari 9 negara anggota D-8 termasuk Bangladesh, Malaysia, Turki, Mesir, Nigeria, Pakistan, Iran, dan Azerbaijan," ujar Direktur Operasional dan Hubungan Kelembagaan PNM Lalu Dodot Patria Ary.

Menurut dia, keuangan syariah yang dirancang dengan tepat mampu menjadi instrumen nyata pengentasan kemiskinan, bukan sekadar produk di atas rak.

"Dari 16,1 juta nasabah Mekaar yang dilayani melalui 58 kantor cabang di 36 provinsi dan lebih dari 6.600 kecamatan, sebanyak 74 persen melaporkan peningkatan pendapatan setelah bergabung, 72 persen kini memiliki peran nyata dalam pengambilan keputusan rumah tangga, dan 90 persen merasakan dampak kemandirian finansial secara langsung," ucap Dodot.

"Sejak 2017, program ini berkontribusi terhadap kenaikan konsumsi rumah tangga nasional sebesar Rp 55,81 triliun dan pertumbuhan ekspor pengusaha binaan PNM yang melampaui USD 3 miliar," sambung dia.

 

Inovasi yang Dihadirkan

Dodot menjelaskan, yang membuat model ini distinktif di mata forum internasional adalah inovasinya dalam menggantikan agunan fisik dengan social collateral ketika kelompok perempuan saling menjamin satu sama lain setiap minggu, akuntabilitas komunitas menggantikan tumpukan dokumen, sebuah mekanisme yang justru selaras dengan prinsip tanggung renteng dalam keuangan syariah.

Dodot menegaskan, PNM tidak datang ke forum ini untuk memamerkan angka, melainkan untuk mengubah cara dunia memandang perempuan prasejahtera.

"Enam belas juta perempuan tidak pernah meminta untuk diselamatkan. Mereka hanya ingin diberi ruang untuk bertumbuh dan tidak lagi dipandang sebelah mata. Ketika kepercayaan diberikan, mereka mampu mengubah kehidupan keluarga bahkan komunitasnya. Itulah hakikat pembiayaan ultra mikro berbasis syariah," ucap dia di hadapan para delegasi.

Pernyataan tersebut merangkum filosofi PNM, perempuan di desa-desa terpencil Indonesia yang tak pernah memiliki rekening bank bukan kelompok yang perlu diselamatkan, melainkan kelompok yang selama ini tak diberi kesempatan dan PNM hadir untuk membuka pintu itu, setiap minggu, di setiap sudut terpelosok di Indonesia.

"Kehadiran PNM dalam forum ini menegaskan posisi Indonesia bukan hanya sebagai tuan rumah tetapi sebagai laboratorium hidup keuangan syariah yang inklusif dan berdampak," kata dia.

"Dengan 73 persen portofolio produk PNM Mekaar yang telah berbasis syariah dan model pembiayaan dengan tiga modal finansial, intelektual, dan sosial, PNM membawa pesan kepada dunia bahwa jalan menuju ekonomi halal global yang kuat dimulai dari hal paling sederhana yaitu duduk bersama seorang perempuan prasejahtera setiap minggu, dan bertanya, apa yang dibutuhkan untuk tumbuh," jelas Dodot.