7 Soundtrack Film Indonesia yang Lebih Populer dari Filmnya, Wajib Masuk Playlist

Pernah dengar lagunya tapi belum nonton filmnya? Simak soundtrack film Indonesia yang lebih populer dari filmnya, dari Dealova hingga Berakhir di Aku.

Diterbitkan 07 Oktober 2026, 16:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Soundtrack film Indonesia yang lebih populer dari filmnya menunjukkan bahwa sebuah lagu bisa hidup jauh melampaui layar bioskop. Ada lagu yang lebih dulu dikenal publik, ada pula yang dibuat khusus untuk film lalu terus diputar hingga puluhan tahun kemudian.

Melansir dari buku The Sounds of Commerce: Marketing Popular Film Music (1998) karya Jeff Smith, lagu populer sejak lama dimanfaatkan industri film sebagai alat promosi sekaligus sumber pendapatan tambahan. Karena itu, tidak mengherankan jika sebuah lagu kadang mendapat perhatian lebih besar daripada filmnya.

Daftar ini disusun berdasarkan jejak data yang bisa ditelusuri, seperti kata kunci pencarian, angka penjualan album, hingga capaian di platform digital. Perlu dicatat, popularitas lagu dan film tidak punya satu ukuran baku. Karena itu, "lebih populer" di sini berarti lagunya dikenal luas, bahkan oleh orang yang belum pernah menonton filmnya.

Di Indonesia, jejaknya terlihat dari pencarian di internet, penjualan album, hingga ramainya lagu di media sosial. Berikut adalah soundtrack film Indonesia yang lebih populer dari filmnya dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Rabu (7/10/2026).

1. "Surat Cinta untuk Starla" - Virgoun

Virgoun merilis lagu ini pada 2016 dan awalnya lagu tersebut berjalan pelan. Ia menulisnya untuk putrinya yang bernama Starla sebagai ungkapan kasih sayang seorang ayah. Film berjudul sama baru tayang pada 28 Desember 2017 dengan Jefri Nichol dan Caitlin Halderman sebagai pemeran utama. Melansir dari Wikipedia, judul film itu memang diambil dari lagu Virgoun.

Puncak popularitas lagu terjadi pada 2017. Dalam laporan Year in Search yang diumumkan Google Indonesia pada Desember 2017, "Surat Cinta untuk Starla" menjadi kata kunci yang paling banyak dicari di Indonesia. Posisinya bahkan berada di atas film horor Pengabdi Setan yang sedang ramai ditonton pada tahun yang sama. Data ini menunjukkan lagu lebih dulu melekat di ingatan publik dibanding filmnya.

2. "Badai Pasti Berlalu" - Soundtrack Film Badai Pasti Berlalu (1977)

Film garapan Teguh Karya ini tidak bisa disebut gagal. Melansir dari Wikipedia, film tersebut meraih empat penghargaan di Festival Film Indonesia, termasuk penata musik terbaik untuk Eros Djarot. Setelah filmnya sukses, musiknya direkam ulang bersama Chrisye, Berlian Hutauruk, dan Yockie Suryoprayogo, lalu dirilis sebagai album oleh Irama Mas pada 1977.

Namun, gaung albumnya terbukti lebih panjang. Catatan Wikipedia menyebut album ini terjual sekitar 9 juta kopi dalam kurun 16 tahun. Rolling Stone Indonesia juga menempatkannya di urutan pertama dalam daftar album Indonesia terbaik sepanjang masa. Lagu "Badai Pasti Berlalu" versi Berlian Hutauruk masuk peringkat ketiga dalam daftar lagu Indonesia terbaik versi majalah yang sama.

3. Album OST Alexandria - Peterpan

Film Alexandria tayang pada 2005 dan bercerita tentang Bagas yang memendam perasaan kepada sahabat masa kecilnya. Soundtrack-nya digarap Peterpan dan dirilis pada 18 September 2005. Album ini berisi lima lagu baru, antara lain "Tak Bisakah" dan "Langit Tak Mendengar", serta lima lagu lama yang diaransemen ulang, termasuk "Mungkin Nanti".

Wikipedia mencatat album ini sebagai salah satu album soundtrack terlaris di Indonesia dengan penjualan sekitar 1,3 juta kopi. Catatan lama Liputan6.com menyebut angka sekitar 1 juta kopi. Album tersebut juga meraih penghargaan Album Pop Group Ngetop di SCTV Music Awards 2006. Lagu "Tak Bisakah" bahkan dinominasikan sebagai lagu terbaik dalam film di MTV Indonesia Movie Awards 2006.

4. "Dealova" - Once

Lagu ini dinyanyikan Once, mantan vokalis Dewa 19, untuk film Dealova yang diadaptasi dari novel karya Dyan Nuranindya. Film tersebut dibintangi Jessica Iskandar, Evan Sanders, dan Ben Joshua. Ceritanya sederhana, tetapi lagu pengiringnya punya daya tarik yang jauh lebih besar.

Liputan6.com pernah mencatat bahwa lagu "Dealova" merajai tangga lagu Tanah Air, sementara filmnya tidak terlalu terkenal. Lagu itu pun masuk deretan lagu abadi yang masih sering dinyanyikan hingga sekarang. Bagi banyak pendengar, judul "Dealova" lebih identik dengan suara Once daripada dengan filmnya.

5. "Komang" - Raim Laode

Raim Laode merilis lagu "Komang" pada 17 Agustus 2022. Lagu ini bercerita tentang kisah cintanya dengan sang istri, Komang Ade Widiandari. Menurut keterangan yang dimuat di laman Telkomsel, lagu tersebut meraih lebih dari 120 juta penayangan di TikTok dan merajai berbagai tangga lagu digital.

Kepopuleran itu mendorong Starvision membuat filmnya. Melansir dari Antara, film Komang garapan sutradara Naya Anindita tayang pada Lebaran 2025 dengan Kiesha Alvaro dan Aurora Ribero sebagai pemeran utama. Pada kasus ini, urutannya terbalik, yakni lagu lebih dulu dikenal luas sebelum filmnya dibuat.

6. "Berakhir di Aku" - Idgitaf

Idgitaf merilis lagu ini pada 12 September 2024, dua pekan sebelum film Home Sweet Loan tayang pada 26 September 2024. Melansir dari Antara, film tersebut diadaptasi dari novel karya Almira Bastari dan disutradarai Sabrina Rochelle Kalangie. Idgitaf menyebut lagunya mewakili beban dan harapan keluarga yang diletakkan di pundak seorang anak.

Gaung lagu ini sampai ke dunia akademik. Dalam jurnal berjudul "Makna Kehidupan dalam Lirik Lagu Berakhir di Aku Karya Idgitaf" (Juni 2025) karya Ramli dan kawan-kawan, disebutkan bahwa lagu ini sempat masuk trending musik setelah dirilis. Pendengar, terutama generasi milenial dan Gen Z, merasa liriknya dekat dengan kehidupan nyata. Jurnal itu terbit dalam Behavior: Jurnal Pendidikan Bimbingan Konseling dan Psikologi Volume 2 Nomor 1.

7. "Harta Berharga" - Bunga Citra Lestari

Lagu ini menjadi soundtrack film Keluarga Cemara yang tayang pada Januari 2019. Melansir dari Wikipedia, lagu ini dirilis pada 2019 sebagai OST film tersebut. Menurut Good News From Indonesia, liriknya tetap sama seperti lagu tema serial lawasnya, hanya dinyanyikan dengan aransemen baru oleh Bunga Citra Lestari.

Akar nostalgia itulah yang membuat lagunya mudah diterima lintas generasi. Lagu ini sering masuk daftar rekomendasi lagu bertema keluarga, termasuk daftar yang disusun Gramedia untuk Hari Keluarga Internasional setiap 15 Mei. Banyak orang mengenalnya sebagai lagu keluarga, tanpa harus mengaitkannya dengan film.

Apa Itu Soundtrack Film dan Apa Bedanya dengan Musik Latar?

Soundtrack atau original soundtrack (OST) adalah lagu atau kumpulan lagu yang dibuat atau dipilih khusus untuk sebuah film. Lagu ini biasanya dinyanyikan penyanyi tertentu, dirilis sebagai single atau album, dan bisa didengarkan terpisah dari filmnya. Hal itu berbeda dengan musik latar atau scoring, yaitu musik instrumental yang mengiringi adegan dan jarang dinikmati terlepas dari filmnya.

Karena bisa dinikmati terpisah, soundtrack punya peluang hidup di radio, tangga lagu, dan platform streaming. Di sinilah sebuah lagu dapat menemukan pendengar yang tidak pernah masuk ke bioskop. Pendengar semacam ini kerap mengenal lagunya lebih dulu, baru kemudian mencari tahu film di baliknya.

Mengapa Soundtrack Bisa Lebih Populer dari Filmnya?

Ada beberapa alasan yang membuat sebuah soundtrack menembus popularitas filmnya. Pertama, lagu mudah dibagikan. Orang bisa mendengarkannya berulang kali di mana saja, sedangkan film harus ditonton di bioskop atau platform tertentu.

Kedua, musik bekerja langsung pada perasaan. Dalam buku Unheard Melodies: Narrative Film Music (1987), Claudia Gorbman membahas bagaimana musik dalam film membantu penonton terhubung secara emosional dengan cerita. Ketika lirik terasa pas dengan pengalaman pendengar, lagu itu bisa berdiri sendiri tanpa filmnya.

Ketiga, media sosial mempercepat penyebaran. Potongan lagu yang dipakai sebagai latar video dapat menjangkau jutaan orang dalam waktu singkat. Pemerintah sendiri menetapkan 30 Maret sebagai Hari Film Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 25 Tahun 1999, dan setiap peringatannya kerap menjadi momen mengenang kembali lagu-lagu soundtrack lawas.

Keempat, lagu mudah dipakai pada momen-momen pribadi. Pendengar bisa memutarnya saat pernikahan, perpisahan, atau perayaan keluarga tanpa perlu mengingat alur film. Karena itulah lagu seperti "Harta Berharga" dan "Surat Cinta untuk Starla" terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari pendengarnya.

Bagi pendengar yang ingin menelusuri lebih jauh, cara paling mudah adalah memulai dari lagu yang sudah akrab, lalu menonton filmnya. Pengalaman menonton sering terasa berbeda karena lagu itu sudah punya makna pribadi. Pendengar juga bisa membandingkan versi lagu di film dengan versi rilisan single, sebab aransemennya kerap tidak sama.

Tujuh lagu di atas memperlihatkan bahwa soundtrack punya umur dan jangkauan sendiri. Film boleh turun dari layar, tetapi lagu tetap diputar di kafe, radio, hingga ponsel pendengarnya. Itulah sebabnya soundtrack film Indonesia yang lebih populer dari filmnya akan terus bermunculan seiring berkembangnya cara orang menikmati musik.

 

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Sountrack Film Populer

1. Apa maksud soundtrack film yang lebih populer dari filmnya?

Artinya lagu tersebut dikenal luas, bahkan oleh orang yang belum pernah menonton filmnya.

2. Apa bedanya soundtrack dengan musik latar?

Soundtrack adalah lagu yang bisa dinikmati terpisah dari film, sedangkan musik latar adalah musik instrumental pengiring adegan.

3. Album soundtrack Indonesia mana yang tercatat laris?

Wikipedia mencatat album Badai Pasti Berlalu terjual sekitar 9 juta kopi, sedangkan OST Alexandria sekitar 1 juta hingga 1,3 juta kopi.

4. Apakah lagu "Komang" lebih dulu rilis daripada filmnya?

Ya. Lagu "Komang" dirilis pada 17 Agustus 2022, sedangkan filmnya tayang pada Lebaran 2025.

5. Di mana soundtrack film Indonesia bisa didengarkan?

Sebagian besar tersedia di platform streaming musik digital, meski ketersediaannya bisa berbeda untuk tiap lagu.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6