Sejauh Mana AI Dipakai dalam Berkarya? Seniman dalam Here’s to the Dreamers 2026 Angkat Suara

Para seniman yang dipilih Apple dalam kampanye Here's to the Dreamers 2026 menggunakan AI dalam berkarya. Tapi ada batasan yang tak mereka lompati.

Diterbitkan 08 September 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Bagaimana Para Seniman Manfaatkan AI?

Lantas, bagaimana para seniman ini memanfaatkan kecerdasan artifisial dalam berkarya? Eddie Putera menyebut AI berperan sebagai alat bantu pada tahap awal, bukan pengganti tangan dan keputusan manusia.

"Saya biasanya membayangkan beberapa elemen dalam kepala saya, sebuah bangunan, kendaraan, karakter, dan suasana tertentu. AI membantu saya mengeksplorasi dengan cepat bagaimana elemen-elemen itu bisa bekerja bersama. Diorama akhirnya tetap saya buat dengan tangan sendiri, saya harus mengukur, memotong, memahat, mengecat, melapukkan, dan menata setiap komponen fisiknya," jelasnya.

Sementara Eka Gustiwana menjelaskan wilayah kerja AI dalam proses produksinya terbatas pada tahap teknis semata, tanpa menyentuh inti proses berkarya.

"Saya menggunakan AI untuk pra-produksi dan pasca-produksi, tapi sama sekali tidak untuk proses kreatifnya. Misalnya saya pakai stem extractor, AI Mastering Assistant di Logic, dan saya juga mengekstrak vokal sebagai placeholder," terangnya.

AI Sebagai Kolaborator hingga Ruang Riset

 

Adapun Trung Bao menggunakan AI di berbagai tahap proses kreatifnya, baik sebagai kolaborator teknis maupun ruang refleksi dan riset.

"Saya menggunakan AI di berbagai tahap, baik sebagai kolaborator teknis maupun sebagai ruang untuk riset, refleksi, dan percakapan. Di sisi teknis, itu membantu saya bergerak melalui kompleksitas dengan lebih efisien, sehingga saya punya lebih banyak waktu untuk memikirkan sisi kreatif seperti narasi dan struktur emosional karya," paparnya.

Alih-alih menumpulkan akal, Trung menjelaskan interaksinya dengan AI justru ia gunakan untuk mengasah pemikiran kritis, mengeksplorasi perspektif berlawanan. Bahkan terhadap apa yang ia percaya.

"Saya juga merasa AI berharga untuk menantang pemikiran saya sendiri. Saya memakainya untuk mengajukan pertanyaan yang lebih sulit, mengeksplorasi perspektif yang berlawanan, dan mengungkap titik buta dalam pemikiran saya sendiri. Tapi ini tidak boleh pernah menggantikan pengalaman dan percakapan nyata dalam hidup," pungkas Trung.

 

 

 

Proses Belajar dan Pengalaman Hidup Seniman

 

 

Trung juga menyoroti proses belajar dan membentuk perspektif pribadi sebagai seorang seniman.

"Seiring alat-alat ini menjadi semakin kuat, saya pikir perkembangan batin kita menjadi jauh lebih penting. Rasa ingin tahu, pengamatan, dan pemahaman atas pengalaman kita sendiri adalah hal-hal yang membentuk identitas individu, dan kualitas-kualitas itu butuh waktu jauh lebih lama untuk berkembang dibandingkan teknologi," ungkapnya.

Ia menambahkan, “Keputusan terakhir tetap harus berasal dari sang kreator. Kedalaman keputusan yang kita ambil lahir dari kekayaan pengalaman hidup yang kita jalani, yang terbentuk melalui refleksi diri, percakapan dengan orang lain, bahkan dialog dengan AI.”

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan