Sukses

Rhoma Irama, Jagoan Berkelahi dari Bukit Duri

Cerita soal keberandalan Rhoma Irama remaja juga diakui oleh sang kakak, Benny Muharam. Usia keduanya memang tak berbeda jauh. Kakak beradik ini juga sama-sama berandal dan keduanya kebetulan kompak sejak kecil hingga sekarang.

"Usia kami tidak berselisih jauh,” kata Benny. Jika Rhoma dilahirkan di Tasikmalaya, maka Benny dilahirkan di Jakarta. Sang ayah yang tentara pejuang itu kemudian membawa keluarganya ke Tasik, tapi beberapa tahun kemudian kembali lagi ke Jakarta.

Saat itu Benny sudah masuk sekolah TK dan sudah punya adik baru lagi. Rhoma, Handi dan Ance adalah adik-adik Benny. Keluarga ini kemudian tinggal di Jalan Cicarawa, Bukit Duri, kemudian pindah ke Bukit Duri Tanjakan.
"Disitu, kami menghabiskan masa remaja sampai tahun 1971 dan kemudian pindah lagi ke Tebet," ujarnya.



Karena usia yang tidak berbeda jauh, mereka hampir selalu berangkat berdua-duaan. Menurut Benny, seperti juga menyanyi, Rhoma sejak kecil juga menaruh minat yang dalam pada bidang agama. Kebetulan orangtua di zaman itu selalu mengharuskan anak-anaknya untuk mengaji, baik ke surau atau ke rumah kyai. Dalam hal yang satu ini Benny mengaku sangat malas.

"Kalau Rhoma selalu mengikuti pengajian dengan tekun, sementara saya lebih suka main. Tapi kami selalu kompak, pulang pergi bersama dan setiap kali ditanya Oma selalu mengatakan pada Bapak ibu bahwa saya pun pergi mengaji," katanya.

Berangkat sekolah pun selalu bersama-sama. Dengan berboncengan sepeda keduanya berangkat maupun pulang ke sekolah di SD Kibono, Manggarai. Menurut Benny, sejak masih duduk di SD, bakat nyanyi adiknya itu sudah tampak menonjol.

"Oma paling rajin kalau disuruh maju ke depan kelas untuk menyanyi. Berbeda dengan murid-murid yang lain, setiap Oma dapat giliran menyanyi, tanpa malu-malu dia akan menyanyi dengan suara keras, sehingga terdengar di kelas-kelas lain. Ini menjadi perhatian anak-anak karena yang dinyanyikan Oma bukan lagu kebangsaan atau lagu anak-anak pada umumnya, tapi justru lagu-lagu India," ujar Benny.



Sayangnya, perhatian Rhoma terhadap musik, sangat mengganggu konsentrasi belajarnya. Pernah suatu hari ketika ia sedang belajar di kelas, di SMA Negeri VIII Jakarta, tiba-tiba ada beberapa temannya menjemputnya untuk bermain musik.

Rombongan pemusik yang mengendarai truk sampah itu tidak berani masuk lewat depan kelas tapi dari arah samping kelas. Mereka memberi kode pada Rhoma. Menyadari jika dirinya tidak mungkin diizinkan guru untuk pergi main musik, Rhoma pun tidak kehabisan akal. Ketika sang guru sedang menulis di papan tulis, maka ia pun langsung kabur lewat jendela kelas yang posisinya tidak terlalu tinggi.

Karena kebandelannya itulah maka Rhoma beberapa kali harus tinggal kelas, sehingga karena malu maka ia seringkali berpindah sekolah. Kelas 3 SMP dijalaninya di Medan. Ketika itu ia dititipkan di rumah pamannya. Tapi, tak berapa lama kemudian ia sudah pindah lagi ke SMP Negeri XV Jakarta. Bahkan sampai SMA pun, ia masih seringkali keluar masuk sekolah. Selain di SMA Negeri VIII Jakarta, ia juga pernah tercatat sebagai siswa di SMA PSKD Jakarta, St Joseph di Solo, dan akhirnya ia menetap di SMA 17 Agustus Tebet, Jakarta, tak jauh dari rumahnya.

"Untunglah saat dia sudah masuk sekolah itu bisa diurus sendiri dengan mudah, sehingga tidak selalu merepotkan orang tua," tutur Benny. Perpindahan sekolah itu tidak semuanya karena urusan musik, tapi juga karena kegemarannya membuat ribut. Kegemarannya adu jotos ini tidak hanya di luar sekolah, tapi juga di sekolah.



Ketika kedua orangtuanya masih tinggal di Bukitduri, hampir setiap kampung di daerah itu terdapat geng (kelompok anak muda). Di Bukitduri ada BBC (Bukit Duri Boys Club), di Kenari ada Kenari Boys, Cobra Boys, dan sebagainya. Dari Bukitduri Puteran, dan dari Manggarai banyak anak muda yang bergabung dengan Geng Cobra.

"Kami bermusuhan dengan mereka, sehingga keributan selalu hampir terjadi di setiap kami bertemu," kenang Benny bersama Rhoma. Satu hal yang cukup menonjol pada diri Rhoma sejak kecil menurut Benny, adalah dari segi kepemimpinan.

"Kalau anak-anak main perang- perangan, Oma selalu menjadi pemimpin kelompoknya, begitu juga saya. Biasanya kami berperang dengan menggunakan anggar dari bambu dan Oma tergolong jago dalam memainkan anggar bambu ini," katanya

Rhoma diketahui jago bermain silat. Tapi, bagi Benny, Oma maupun adik-adiknya, ilmu bela diri nasional ini tidaklah asing, karena sejak kecil mereka sudah mendapat latihan dari ayah mereka.

"Kami juga belajar silat dari banyak guru yang lain. Tapi karena saya lebih senang main bola, maka belajar silat tidak saya tekuni seperti oma. Selesai dari satu guru dia belajar dari guru yang lainnya lagi. Dia pernah belajar silat Cingkrik (paduan silat Betawi dan Cimande) pada Pak Rohimin di Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Dia juga pernah belajar silat Sigundel di Jalan talang, selain beberapa ilmu silat yang lain," pungkas Benny.



Menurut Benny, kenakalan Rhoma dikarenakan kejenuhan di rumah. "Untuk zaman itu, kondisi keluarga kami di Tebet tergolong cukup kaya dibanding dengan masyarakat sekitar. Kami selalu berpakaian bagus. Selain rumah yang cukup mentereng, ada beberapa buah mobil. Antara lain Impala, mobil yang tergolong mewah di zaman itu," ujarnya.

Benny pun menceritakan bahwa suasana rumah mereka cenderung bergaya feodal. Sehari-hari ayah dan ibu mereka berbicara dengan bahasa Belanda. Selain makan harus bersama-sama, anak-anakpun harus memenuhi disiplin di rumah yang cukup ketat.

"Sebagai anak muda, kami merasakan suatu kejenuhan. Mungkin karena itulah maka kami sempat berpikir untuk keluar dari rumah atau pergi merantau," ujar Benny.(Adt/bs)

Kisah Sebelumnya:
Nama Rhoma Irama Diambil dari Nama Grup Sandiwara Keliling
Rhoma Irama Kecil yang Hobinya Berkelahi