Perfect Crown Berakhir dengan Rating Tertinggi dan Permintaan Maaf soal Kontroversi Sejarah

Cerita dalam serial drakor Perfect Crown dinilai menyimpang dari sejarah Korea Selatan yang selama ini diketahui publik Korea.

Diterbitkan 17 Mei 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

"Kami dengan rendah hati menerima kritik Anda dan akan segera memperbaiki audio dan subtitle untuk bagian-bagian yang relevan dalam tayangan ulang, VOD, dan layanan OTT. Kami sekali lagi meminta maaf atas ketidaknyamanan ini. Ke depannya, kami akan berusaha untuk menghasilkan karya yang membalas kepercayaan pemirsa kami dengan rasa tanggung jawab yang lebih besar."

Distorsi Sejarah yang Disorot Publik Korea

Sepanjang penayangannya, Perfect Crown dikritik sejumlah penonton latar belakang sejarah yang kontroversial. Kritik tersebut termasuk kurangnya justifikasi untuk premis bahwa Korea Selatan abad ke-21 menjadi monarki konstitusional, dengan beberapa orang berspekulasi, 'Apakah Korea Selatan menjadi bekas kekuatan Poros?'.

Hal ini karena sistem kelas yang diadopsi dalam drama tersebut lebih menyerupai keluarga kekaisaran Jepang saat ini daripada Dinasti Joseon. Kenyataannya, status seorang ibu suri yang melahirkan seorang raja dalam keluarga Kerajaan Joseon lebih tinggi daripada seorang pangeran agung.

Namun, meskipun ada Ibu Suri Yoon I Rang, Pangeran Agung Ian bertindak sebagai wali raja muda untuk Raja Lee Yoon (Kim Eun-ho). Selain itu, adegan Yoon I Rang berlutut dan memohon di hadapan Pangeran Agung Ian dikritik sebagai sesuatu yang tidak mungkin terjadi dalam monarki konstitusional yang berakar pada Dinasti Joseon.

Tarik Menarik Pengaruh Korea dan China di Perfect Crown

Setelah penayangan episode ke-11, kontroversi mengenai Proyek Timur Laut juga menyebar. Masalah muncul karena selama upacara penobatan Pangeran Agung Ian, kerumunan meneriakkan "Cheon-se" (10.000 tahun), yang digunakan ketika negara bawahan tunduk pada sebuah kekaisaran, alih-alih "Man-se" (10.000 tahun), simbol negara merdeka.

Selain itu, sementara kaisar (raja) negara merdeka mengenakan "Sibi-myeon-ryu-gwan" (mahkota dengan 12 baris permata), Pangeran Agung Ian mengenakan "Gu-ryu-myeon-gwan," yang melambangkan negara bawahan di bawah seorang kaisar. Itu karena Perfect Crown sejak awal mengasumsikan bahwa Korea adalah negara bawahan di bawah kekuasaan Tiongkok.

Warganet mengungkapkan kekhawatiran bahwa penggambaran Korea Selatan sebagai negara yang secara sukarela menjadi negara bawahan dapat menumbuhkan kesalahpahaman bahwa sejarah Korea pernah menjadi negara bawahan. Lebih jauh lagi, mengenai Seong Hui-ju yang mengikuti metode upacara minum teh Tiongkok dan menolak mengenakan hanbok, beberapa bahkan mempertanyakan apakah itu merupakan upaya yang disengaja untuk meremehkan sejarah Korea.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Dinny MutiahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan