Film Mandalika: Harmoni Logika dan Nurani Tayang, Bahas Alam, Waktu dan Tanggung Jawab Sosial

Film Mandalika: Harmoni Logika dan Nurani diputar dalam program Culture Night of Mandalika “Bau Nyale Short Movie Screening” di Nusa Tenggara Barat.

Diterbitkan 04 Februari 2026, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Film "Mandalika: Harmoni Logika dan Nurani" tayang di Festival Bau Nyale 2026.
  • Film ini menafsirkan Putri Mandalika sebagai pemimpin cerdas, bukan hanya korban.
  • Bertujuan edukasi budaya dan menarik minat wisatawan pada tradisi lokal.

Liputan6.com, Jakarta - Film Mandalika: Harmoni Logika dan Nurani ditayangkan dalam program Culture Night of Mandalika “Bau Nyale Short Movie Screening” di Pantai Kuta Mandalika, Nusa Tenggara Barat, 6 Februari 2026. Pemutaran film pendek ini bagian dari rangkaian Festival Bau Nyale.

Mandalika: Harmoni Logika dan Nurani mengulas legenda Putri Mandalika telah lama hidup dalam ingatan masyarakat Sasak sebagai kisah pengorbanan demi mencegah peperangan. Putri Mandalika simbol kebijaksanaan dan pengetahuan yang melahirkan tradisi Bau Nyale.

Bau Nyale lalu tumbuh sebagai tradisi yang dikaitkan dengan peristiwa tersebut, diwariskan lintas generasi, dan menjadi salah satu ritual budaya paling penting di Lombok hingga kini.

Lewat pernyataan tertulis yang diterima Showbiz Liputan6.com, Selasa (3/2/2026), Guru Besar Universitas Mataram NTB, Prof. Dr. H. Nuriadi, S.S., M.Hum., mengapresasi hadirnya Mandalika: Harmoni Logika dan Nurani sembari menyinggung kekuatan sinema. 

“Karya sinematik memiliki power sebagai medium pengetahuan, di dalamnya merangkum gagasan dalam narasi visual, lebih mudah dipahami, dan dianalisis. Film pendek ini dokumentasi budaya untuk ruang refleksi terkait tradisi autentik asal suku Sasak,” katanya.

Masyarakat suku Sasak mengisahkan Putri Mandalika bak titik temu antara legenda dan nilai hidup. Mandalika digambarkan pemimpin yang menghadapi konflik besar: perebutan kekuasaan yang mengancam kedamaian rakyat. Rakyat tak boleh dikorbankan.

Film pendek Mandalika: Harmoni Logika dan Nurani tak memosisikan Mandalika sebagai figur pengorbanan tragis. Sebaliknya, ia dibaca sebagai perempuan cerdas yang memahami alam, waktu, hingga tanggung jawab sosial.

Putri Mandalika

“Putri Mandalika tak dapat dibaca semata sebagai kisah pengorbanan, melainkan representasi kecerdasan kepemimpinan sosial masyarakat Sasak,” ungkap budayawan Sasak, Lalu Agus Fathurrahman.

Ia menambahkan, “Pemaknaan ini penting agar literasi budaya tidak bias dan berpijak pada konteks serta pengetahuan leluhur. Kisah Mandalika pun jadi refleksi kepemimpinan yang berakar empati pada manusia dan alam.”

Berbasis Edukasi Budaya

Pada akhirnya, banyak hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari kisah Putri Mandalika maupun film Mandalika: Harmoni Logika dan Nurani yang disambut hangat penonton dalam program Culture Night of Mandalika “Bau Nyale Short Movie Screening.”  

Kepala Dinas Pariwisata NTB, Ahmad Nur Aulia, menyambut hangat pergelaran Bau Nyale Short Movie Screening. Menurutnya, ajang ini bagian dari strategi pariwisata berbasis edukasi budaya.

 

Pengalaman Budaya Yang Utuh

“Kami ingin mengenalkan Bau Nyale sebagai pengalaman budaya yang utuh, berbasis pengetahuan dan nilai fundamental, sehingga dapat dipelajari oleh wisatawan domestik hingga mancanegara,” katanya.

Lebih lanjut, Ahmad Nur Aulia berharap film pendek Mandalika: Harmoni Logika dan Nurani menjadi pintu masuk guna menumbuhkan ketertarikan seni dan budaya secara lebih dalam.

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Richard Lee Beberkan Hasil Sidang Etik Kemenkes, Klaim Tak Terbukti Langgar Disiplin Profesi

Wayan Diananto, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan