Film Musuh Dalam Selimut Siap Guncang Awal 2026 dengan Drama Kepercayaan dan Emosi Kompleks

Musuh Dalam Selimut menyajikan drama psikologis dengan konflik relasi rumit, emosi mendalam, serta kejutan cerita yang membekas hingga akhir film.

Diterbitkan 05 Januari 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

“Kita memang menjaga betul dari scene ke scene pergerakan emosinya. Memang kita berusaha bangun supaya orang tidak menebak bagaimana ending-nya. Kita jaga betul plot twist-nya,” ujarnya. Menurut Hadrah, kejutan cerita sengaja disimpan rapat agar penonton tetap berada dalam kondisi tegang dan penasaran.

Lebih jauh, ia menegaskan keinginannya agar penonton tidak hanya menyaksikan, tetapi ikut terlibat secara emosional.

“Kita pengennya orang menonton itu ikut terlibat, teridentifikasi langsung sama tokoh-tokohnya. Dia merasa menjadi si tokoh protagonis,” kata Hadrah. Ia menambahkan bahwa planting informasi disusun perlahan di setiap adegan, sehingga penonton ikut merangkai potongan cerita di dalam imajinasi mereka, bukan sekadar menerima drama secara linear.

Pendalaman Karakter Jadi Kunci Kekuatan Cerita

Selain cerita yang emosional, kekuatan Musuh Dalam Selimut juga terletak pada jajaran pemainnya. Sutradara menegaskan bahwa karakter-karakter di film ini tidak akan terasa hidup tanpa performa aktor yang tepat.

“Yang pasti di samping cerita yang kuat, kita yakin banget kalau tidak ada jajaran cast yang kuat juga, ini tidak akan ter-achieve semua yang kita mau,” ujarnya.

Ia pun mengapresiasi deretan pemain muda yang terlibat, mulai dari Yasmin Napper, Arbani Yasiz, Megan Domani, Fitriya Rashidi, hingga Cakrawala Airawan, yang dinilai menampilkan sisi berbeda dari peran-peran mereka sebelumnya.

Lebih lanjut, proses workshop menjadi ruang penting untuk memperdalam karakter.

 “Ketika workshop pun kita sangat excited banget mengulik background karakter di setiap karakter yang ada di dalam film ini,” katanya.

Menurut sang sutradara, Musuh Dalam Selimut tidak sekadar berkisah tentang cinta segitiga atau perselingkuhan, melainkan membicarakan manusia dan kesehatan mental. Ia menyoroti luka masa lalu, cara seseorang tumbuh, hingga alasan di balik tindakan yang melukai orang lain. Pendalaman detail-detail kecil itulah yang membuat setiap karakter terasa lebih kuat, meski tidak semuanya tertulis secara eksplisit di dalam skenario.

Dari Riset Sosial hingga Akhir Cerita yang Dipilih

Proses kreatif Musuh Dalam Selimut tak berhenti pada penyutradaraan dan akting para pemainnya. Di balik cerita yang emosional, penulis Cassandra turut memegang peran penting dalam meramu konflik yang terasa dekat dengan realitas sosial.

Ia mengungkapkan bahwa tahap pengembangan naskah melalui diskusi panjang sejak awal, termasuk membaca dinamika hubungan dan luka emosional yang kerap terjadi di masyarakat.

Cassandra mengakui, perjalanan menemukan bentuk cerita yang paling tepat tidak berjalan singkat. “Kalau versi, sebetulnya versi kita banyak banget. Kita itu punya ending banyak sampai akhirnya kita ketemu, oke, ini kayaknya yang paling pas untuk semua karakter,” ujarnya.

 Ia menambahkan, inspirasi karakter Susie lahir dari hal-hal yang sering dianggap sepele, namun menyimpan dampak besar.

 “Trigger-nya itu sebenarnya dari satu pertanyaan yang tolong jangan pernah ditanya ke perempuan manapun. Kita tuh nggak pernah tahu apa yang perempuan itu lagi alami, ternyata efeknya bisa sesakit itu,” jelas Cassandra.

Lebih lanjut, Cassandra menyebut proses pengembangan cerita dilakukan cukup lama demi mendapatkan emosi yang utuh.

“Kalau ditanya berapa lama develop ceritanya, yang pasti lumayan ya, lumayan,” katanya. Pendekatan tersebut membuat Musuh Dalam Selimut tidak sekadar menyajikan drama konflik, tetapi juga menghadirkan refleksi tentang luka batin, reaksi manusia, dan konsekuensi emosional yang tumbuh dari pengalaman sehari-hari, selaras dengan visi film sejak awal penggarapan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Zikrah Nur Amalah, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan