ARKIPEL 2025 Usung Tema Years of Living Dangerously, Refleksi Pidato Presiden Soekarno Tahun 1964

Arkipel Years of Living Dangerously 12th Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival dihelat mulai 30 Agustus hingga 14 September 2025.

Diterbitkan 27 Agustus 2025, 13:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • ARKIPEL Years of Living Dangerously 2025 akan digelar September, mengangkat tema geopolitik global.
  • Festival ini bertujuan membaca fenomena sosial-politik melalui film dokumenter dan eksperimental.
  • Rahmania Nerva akan menguratori film Turang (Bachtiar Siagian, 1957) dalam program “Bergerak dalam Cincin Api.”

Liputan6.com, Jakarta Kabar baik untuk para pencinta sinema Tanah Air. Pergelaran ARKIPEL Years of Living Dangerously - 12th Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival 2025 akan dihelat pada 30 Agustus hingga 14 September 2025.

Perhelatan sinema ini digelar di tiga tempat di Jakarta yakni Bioskop Forum Lenteng, Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia, dan Contemporary Art Gallery – Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur.

Sebagai informasi, tema “Years of Living Dangerously” yang dusung ARKIPEL tahun ini berefleksi dari Pidato Soekarno tahun 1964 berjudul “Tahun Vivere Pericoloso” atau TAVIP. Ini salah satu momen politik penting dalam sejarah Indonesia.

Soekarno melakukan pembacaan atas momentum otak-atik kekuatan imperialis di kawasan Selatan Global yang menuntut gerak bersama dalam kerangka revolusioner romantik, lewat rekontekstualisasi Konferensi Bandung, sebagai muara pemikiran dekolonisasi dan aktivisme.

Tahun ini sebagai 70 Tahun Konferensi Asia-Afrika, jadi momen tepat memikirkan ulang pencapaian untuk menyusun kekuatan Global Selatan, khususnya di ranah budaya, sinema secara spesifik. ARKIPEL Years of Living Dangerously memfiturkan sejumlah program.

 

Gudang Memori Kolektif

Salah satu yang disorot yakni Program Kuratorial Years of Living Dangerously yang terdiri 5 sesi dari 6 kurator. Manshur Zikri lewat program “Sinema Bunyi; Bunyi Sinema: Kesadaran dan Kebenaran” yang akan memutar 3 film Indonesia.

Dyah Nindyasari dan Syarifa Amira melalui program bertajuk “Gudang Memori Kolektif: Banjir Yang Menubuh Di Ingatan Warga Jakarta” akan memutar 7 film yang 6 di antaranya hasil proyek Futures of Listening.

 

Festival Film Asia Afrika 1958 hingga 1964

Lewat pernyataan tertulis yang diterima Showbiz Liputan6.com, Rabu/8/2025), tahun ini para kurator mempresentasikan film-film yang penting dalam sejarah sinema Indonesia di kancah global, yaitu yang berjaya sepanjang sejarah Festival Film Asia Afrika 1958 hingga 1964.

Anggraeni Widhiasih melalui program “Sinema dan Poiesis Solidaritas Resiliensi” akan memutarkan film Niguruma No Uta/Ballad of the Carts (Satsuo Yamamoto, 1959, Jepang). Pemutaran film ini didukung National Rural Film Association Jepang.

 

Turang Dan Semangat Solidaritas

Alifah Melisa menguratori program “Kartografi Sinematik Pulau Hainan” yang akan memutar Red Detachments of Women (Xie Jin, 1961, RRC). Keduanya film penting di Festival Film Asia Afrika di Jakarta pada 1964.

Rahmania Nerva akan menguratori film Turang (Bachtiar Siagian, 1957) dalam program “Bergerak dalam Cincin Api.” Turang jadi primadona dalam Festival Film Asia Afrika 1958 di Tashkent, Uzbekistan. Ini bukan tanpa sebab.

Pasalnya, Turang dianggap mewakili semangat solidaritas antar Negara Dunia Ketiga melawan kolonialisme lewat penggambaran perjuangan laskar rakyat Karo melawan Belanda di masa Agresi Militer II di Indonesia. 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Saksikan Sinetron Kisah Nyata Pagi Episode Jumat 3 Juli Pukul 08.00 WIB di Indosiar

Wayan Diananto, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan