Nukila Evanty Tegaskan Dukungan Kepada Perempuan Rempang untuk Menjaga Identitas dan Kearifan Lokal  

Nukila Evanty melakukan kunjungan ke Sembulang, pulau Rempang, gugusan Kepulauan Riau. 

Diperbarui 11 Juni 2025, 16:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Pada awal Juni ini, Nukila Evanty selaku ketua Inisiasi Masyarakat Adat (IMA) melakukan kunjungan ke Sembulang, pulau Rempang, gugusan Kepulauan Riau. Sembulang adalah kesatuan dari perkampungan kecil yang berada disepanjang pesisir pantai utara melekung ke timur dan lurus ke selatan, sedangkan sebelah barat di buktikan dengan patok kampung tua yang telah di sahkan oleh pemerintah.

Perkampungan kecil yang dimaksud terdiri dari Sembulang Hulu, Tanjung Gemuk, Air Lingseng, Sembulang Tanjung, Tanjung Siayat, Kubu Kere, Pasir Menurun, Air Gemuruh, Pasir Merah, Tanjung Combon, Camping, Goba, Tanjung Temiang, Sei Buluh, Sungai Buluh, Dapur Enam dan Tanjung Banon. Karena tinggal di pesisir pantai, maka 90 persen masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan.

Menurut Nukila, Sembulang diibaratkan sebagai penjaga bagi seluruh kampung yang ada di pulau Rempang. Sembulang memiliki sejarah yang panjang, karena meski suku asli adalah Melayu, namun banyak juga orang Tionghoa yang pernah tinggal dan bahkan memimpin kawasan ini.

Kehadiran suku Tionghoa pun dapat kita buktikan dengan adanya catatan sejarah bahwa di Sembulang ini pernah dipimpin oleh Ancak Long. Ancak Long juga dikenal sebagai pedagang ternama di lingkungan masyarakat. Dimasa kepemimpinan Ancak Long, masyarakat setempat merasa terlindungi, karena dimasa itu terkenal dengan seringnya kedatangan perompak. Sebelum Ancak Long memimpin Sembulang, sejarah juga membuktikan adanya pemimpin terdahulu yang bergelar Bathin. Bathin pertama di Sembulang diemban oleh Awang Merah, dikenal dengan Bathin Merah yang berkedudukan di Goba. Goba menjadi pusat pemerintahan, dan ini dibuktikan dengan banyak makam-makam lama yang berada di sana.

 

Pasca Perang Dunia ke-II

Fakta lain tentang Sembulang, pasca Perang Dunia ke-II, Sembulang termasuk perkampungan yang ramai didatangi serdadu Jepang yang kalah perang. Sembulang juga menjadi basis tentara Jepang sementara menunggu penjemputan untuk kembali ke Jepang. Dalam perjalanan waktu, sejarah mencatat ada 128 orang serdadu Jepang yang wafat di pulau Rempang, termasuk Sembulang.

Demi menjaga keamanan negara dan masyarakat setempat, maka disepakati untuk mendirikan tugu, sebagai simbol adanya serdadu Jepang yang wafat di Sembulang.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Dalam kunjungan ke Sembulang kali ini, Inisiasi Masyarakat Adat menggelar pelatihan terkait penguatan perempuan Rempang dalam budaya, tradisi, adat istiadat dan kearifan lokal. Pelatihan ini diikuti 20 orang perempuan yang merupakan representatif sebagai pemimpin Rempang masa depan. Melalui pelatihan ini, kaum perempuan diajarkan tentang budaya dan tradisi masyarakat Rempang yang harus dilestarikan. Sebut saja, aneka tarian seperti tari persembahan, tari tepung tawar, pantun dan gurindam. Tak hanya itu, diajarkan cara membuat aneka kue tradisional seperti kue bangkit dan tepung gomak. Dan, yang tak boleh dilupakan adalah baju kurung dengan warna dominan kuning, merah dan hijau. “Melalui pelatihan ini, kami ingin kaum perempuan ini semakin mencintai adat istiadatnya dan mau melestarikannya,” kata Nukila.

Halaman
Show All
Aditia Saputra, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan