Momen Soul Asylum Bantu Temukan Anak-Anak yang Hilang Lewat Video Musik Runaway Train

Rupanya video musik lagu "Runaway Train" dari Soul Asylum menyimpan sejarah dan keajaiban tersendiri berkat dipasangnya foto dan nama anak-anak yang hilang hingga beberapa di antaranya kembali ke rumah.

Diterbitkan 27 Mei 2025, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Polly Klaas, saat itu berusia 12 tahun, diculik dengan ancaman pisau saat sedang mengikuti pesta tidur di rumah ibunya. Ia kemudian ditemukan telah dibunuh. Pelakunya, Richard Allen Davis, divonis hukuman mati pada 1996.

“Saya banyak menghabiskan waktu dengan seorang pria bernama Ernie dari Missing & Exploited Children. Hal ini kemudian menjadi semacam misi pribadi buat saya,” kata Dave.

“Yang tragis adalah, waktu video itu dibuat, istilah seperti ‘perdagangan manusia’ belum umum, dan sistem peringatan seperti Amber Alert pun belum ada. Tapi sekarang kita sudah lebih maju, dan saya bersyukur bisa melakukan sesuatu saat itu,” ungkapnya.

Metafora Depresi yang Menyelamatkan Nyawa

Dalam wawancara terpisah bersama The Guardian, Dave Pirner mengungkap bahwa lagu Runaway Train awalnya ia tulis sebagai metafora dari depresi yang ia alami.

“Kami adalah band garage punk yang rekamannya di label independen dan naik van ke mana-mana. Tapi waktu itu, saya merasa pendengaran saya terganggu, semacam mengalami gangguan saraf, dan butuh istirahat dari kebisingan,” ungkapnya.

Ia pun mulai menulis lagu dengan gitar akustik. Lirik awalnya: “two souls laughing at the rain, one’s crazy and the other’s insane”. Namun setelah menyentuh tema pribadi, lirik utamanya datang begitu saja.

“Kalimat pertama ‘Call you up in the middle of the night’ itu tentang seorang teman di New York yang selalu bersedia mengangkat telepon saya, kapan pun saya menelepon,” terang Dave.

Dave Pirner mengungkap bahwa Runaway Train merupakan simbol dari perasaan putus kendali yang dirasakannya saat depresi. Lagu ini kemudian direkam dengan produser Michael Beinhorn, yang terkenal perfeksionis.

“Saya harus menyanyikan lagu itu sampai 100 kali. Tapi dia masih belum puas, akhirnya dia minta gitaris kami, Danny Murphy, yang mendampingi saya di ruang vokal agar saya lebih nyaman. Itu berhasil,” kenang Dave.

Pada proses produksi, drummer Grant Young sempat digantikan oleh Sterling Campbell, yang kemudian diminta ikut mengisi di lagu Runaway Train dan beberapa lagu lainnya. Tak hanya itu, Booker T dari grup legendaris MGs juga turut menyumbangkan permainan keyboard yang menurut Dave sangat sempurna.

Lagu ini menjadi single ketiga dari album Grave Dancers Union, dan sukses besar di pasaran. “Runaway Train seperti punya nyawanya sendiri. Lagu itu menutupi semua karya kami yang lain, tapi saya senang lagu itu punya resonansi yang dalam, bukan soal pesta atau seks, tapi soal kesedihan dan pengingat bahwa dunia tidak selalu indah, namun kita tidak sendirian,” Dave menambahkan.

 

Ide yang Mengubah Sejarah MTV

Sutradara video musik Runaway Train, Tony Kaye, yang juga dikenal lewat film American History X, mengungkap bahwa ide video ini datang ketika ia melihat poster wajah anak hilang di karton susu di pinggir jalan Los Angeles. “Saya langsung tahu: itu dia idenya!” katanya.

Kaye lalu menghubungi National Center for Missing and Exploited Children, yang memberikan daftar anak-anak untuk dimasukkan dalam video. Di akhir video, ditampilkan pesan: “Jika Anda melihat anak-anak ini, hubungi nomor ini.”

Namun sempat ada tekanan dari label rekaman. “Setelah ditayangkan di MTV, mereka menelepon dan bilang, ‘Belum ada anak yang kembali. Bisakah kita ganti wajah-wajah anak itu dengan gambar band saja?’ Tapi saya bilang, ‘Tunggu dulu.’ Dan akhirnya satu anak kembali, lalu satu lagi, dan terus bertambah. Ini berubah menjadi hal yang ajaib.”

Anak pertama yang kembali adalah Elizabeth Wiles, seorang remaja yang kabur bersama pria yang lebih tua. Ia mengenali dirinya saat menonton video musik di televisi bersama teman-temannya dan langsung menelepon ibunya.

Meski tidak semua cerita berakhir bahagia, Kaye percaya bahwa video ini adalah pencapaian besar. “Beberapa anak tidak kembali karena mereka sudah meninggal, tapi setiap kali satu anak ditemukan, kami menyunting ulang videonya dengan wajah baru," terang Dave.

"Dari 36 anak, kami berhasil menemukan 21. Dan saya percaya, ini mungkin adalah hal paling penting yang pernah terjadi dalam sejarah MTV, karena video musik ini menyelamatkan nyawa anak-anak,” tandasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ruly Riantrisnanto, Aditia SaputraTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan