Detektif Jubun Angkat Suara Soal Atlet Taekwondo Hilang 10 Tahun Ternyata Kabur karena KDRT

Detektif Jubun kerap menyelidiki kasus orang hilang membagikan pendapatnya. 

Diperbarui 19 Maret 2025, 15:26 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Baru-baru ini tengah viral di media sosial sepasang orang tua di Bandung, Jawa Barat yang mencari putrinya, seorang atlet taekwondo yang saat itu berusia 19 tahun lantaran hilang secara misterius. Meski sudah melapor polisi, putri yang bernama Fidya Kalaminda tetap tak ditemukan sejak 2015 silam. 

Nah, belakangan sosok putri yang dicari tersebut muncul di media sosial dan menjelaskan peristiwanya. Ternyata dirinya tidak hilang, melainkan kabur dari rumah karena tertekan dengan orang tuanya yang diduga melakukan kekerasan dan menjadikannya sebagai sumber penghasil uang.

Saat ini, Fidya sendiri sudah menikah dan memiliki seorang anak. 

Unggahan tersebut pun ramai diperbincangkan netizen. Banyak yang tadinya mengkritisi pihak berwajib yang tak bisa menemukan anaknya, berbalik memahami situasi yang dialami Fidya yang tertekan karena berseteru dengan orang tuanya. 

Melihat konflik tersebut, salah satu detektif swasta terkenal di Indonesia, Detektif Jubun yang kerap menyelidiki kasus orang hilang membagikan pendapatnya. 

Ia pun mencoba melihat fenomena secara garis besarnya yang didapatnya selama menyelidiki kasus orang hilang, atau anak kabur dari rumah.

"Sebenarnya ini bukan hal baru. Saya sangat sering juga mendapatkan pesan singkat berantai mengenai orang hilang (dinyatakan hilang) dengan narasi seolah-olah dikhawatirkan menjadi korban kejahatan, seringkali disertai dengan nomor telepon tercantum agar masyarakat bisa menghubungi apabila menemukan orang tersebut," kata Jubun saat dihubungi langsung.

 

Masalah Keluarga

Ia menyebutkan, masalah anak kabur seperti kasus Fidya seringkali adalah masalah keluarga, perselisihan dalam keluarga, biasanya masalah rumah tangga. Ketika terjadi perselisihan lantas pergi meninggalkan rumah.  

"Nah keluarga atau pihak yang ditinggalkan juga tidak bisa menerima diperlakukan demikian. Mungkin juga sebagai bentuk pelampiasan atas kekesalan yang ada, atau mungkin juga memang ada rasa khawatir atas keselamatan orang yang pergi tersebut, maka pihak keluarga membuat laporan polisi dan menyebarkan pesan berantai tersebut melalui pesan singkat bahkan melalui media sosial."

 

Mencari Anak Kabur

Jubun sendiri mengaku sering mendapatkan orderan dari klien untuk mencari anak yang kabur dari rumah, biasanya remaja karena mungkin sedang labil pada usia muda. Tidak jarang juga suami atau pasangan yang kabur dari rumah karena masalah rumah tangga.  

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

"Nah kemudian dilaporkan ke polisi dan disebarkan melalui pesan berantai. Masalah jadi runyam," kata Jubun. "Masalah itu timbul dari kedua belah pihak. Tidak bisa menyalahkan salah satu pihak. Biasanya sih karena kurangnya keterbukaan dalam berkomunikasi. Ada perbedaan paham yang memicu perselisihan. Cara didik orang tua yang terlalu keras."  "Orang tua cenderung merasa benar dan harus dituruti. Anak kan tidak bisa diperlakukan begitu juga. Namun si anak kan tidak harus pergi meninggalkan rumah hingga membuat orang tua khawatir. Jika mengalami masalah, bisa melibatkan saudara atau pihak keluarga yang lebih bijaksana untuk memediasi." Detektif yang juga seorang pemuka agama dan penasihat rumah tangga ini pun memberikan pesan kepada anak dan ortunya yang saling berselisih. "Jangan terlalu keras terhadap anak. Jadilah sebagai sahabat. Mungkin sebagai saran: bisa mengikuti seminar-seminar parenting. Sekarang kan bisa juga online melalui media yang ada," katanya.  "Untuk anak, kalau ada masalah, jangan sampai meninggalkan rumah. Ada banyak cara dan solusi. Setidaknya ajaklah orang yang bisa diajak berkomunikasi. Curahkan isi hatimu. Barangkali boleh juga berkonsultasi dengan saya. Silakan menghubungi saya," kata Jubun.   

Halaman
Show All
Tim ShowbizTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan