JF3 Talk! Vol 2: Mengupas Potensi dan Tantangan Industri Fashion Indonesia

JF3 Talk! digelar di Teras Lakon Sumarecon, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, baru-baru ini.

Diperbarui 18 Mei 2024, 21:32 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

"Kalau lihat sekarang, baju desainer tidak seperti dulu. Ratusan ribu sudah dijual biar laku, tidak ada untungnya, dan ini bikin persaingan tidak sehat," ungkapnya. 

Untuk membeli barang mewah saja, lanjut dia, akan terasa sulit bagi seorang desainer yang baru merintis.

"Dulu saya berangkat dari jual baju Rp1,5 juta, hanya ikut satu show kemudian di show berikutnya saya bisa jual baju saya sampai 15 juta," tuturnya.

 

Harapan untuk Masa Depan Industri Fashion Indonesia

Hartono Gan mengatakan bahwa dulu, desainer bisa dengan mudah memiliki barang mewah. Namun, sekarang hal itu sulit karena margin keuntungannya kecil. Dengan kondisi saat ini, Hartono Gan berharap industri fashion bisa lebih baik, setidaknya terkendali seperti dulu. 

"Karena dulu fashion bergerak seperti itu. Kalau dulu kita hanya fokus membuat karya yang nantinya akan disambut para fashion editor atau penulis yang akan mewartakan kita bagus atau tidak bagus, yang bisa menaikkan atau menjatuhkan seorang desainer," katanya.

 

Menguatkan Industri Fashion Indonesia

Dalam upaya menguatkan industri fashion Indonesia, berbagai elemen perlu bekerja sama. Pelaku industri, jurnalis, desainer, dan pendukung lainnya harus berperan aktif dalam membangun ekosistem yang sehat dan berdaya saing tinggi. Melalui upaya bersama, industri fashion Indonesia dapat berkembang dan menjadi salah satu pilar kekuatan ekonomi bangsa. 

Dengan potensi besar yang dimiliki, industri fashion Indonesia dapat mencapai standar internasional. Inisiatif seperti Pintu Incubator yang menghubungkan ekosistem fashion lokal dengan standar internasional menjadi langkah awal yang penting. Dengan demikian, industri fashion Indonesia tidak hanya dapat bertahan tetapi juga berkembang di kancah global.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ruly Riantrisnanto, Aditia SaputraTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan