Cara Aktor Eddie Karsito Memaknai Sumpah Pemuda 2023

Eddie Karsito menganggap Hari Sumpah Pemuda 2023 sebagai momentum pentingnya pemuda memahami fungsi situs sebagai warisan budaya.

Diperbarui 29 Oktober 2023, 23:16 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Komitmen semua pemangku kepentingan dibutuhkan untuk melindungi, dan mengelola berbagai situs warisan budaya. Komitmen tersebut sebagaimana tercantum di Konvensi Warisan Dunia 1972 oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).

“Konvensi tersebut mendorong adanya identifikasi, perlindungan, dan pelestarian warisan budaya yang dianggap memiliki nilai bagi kemanusiaan,” ujar Eddie Karsito pada acara renungan Hari Sumpah Pemuda 2023 dan Hari Ulang Tahun Ke-6 Rumah Budaya Satu-Satu (RBSS), di Perumahan Kranggan Permai, Jatisampurna, Kota Bekasi, Sabtu (28/10/2023).

Pada momentum renungan Hari Sumpah Pemuda 2023 dan HUT Ke-6 RBSS ini, Eddie Karsito mengajak kaum muda mau mempelajari beberapa aspek dari berbagai tapakan warisan yang dilestarikan karena nilai budayanya.

“Peninggalan sejarah tak boleh diabaikan. Sebab tak hanya sebagai identitas atau kepentingan ilmu pengetahuan. Tapi juga sebagai pengingat, bahwa tempat ini punya sejarah panjang yang tak ternilai,” ujar penggiat sosial, seni dan budaya ini.

Sebagai contoh, ungkap Eddie, di Kecamatan Jatisampurna Kota Bekasi banyak situs-situs penting sebagai tonggak sejarah identitas masyarakat di wilayah ini. Diantaranya berupa makam-makam ‘karuhun’ yang hingga kini terus dirawat dengan baik oleh para pewarisnya.

Eddie menyebut sejumlah petilasan yang ada di Kecamatan Jatisampurna. Diantaranya makam Sultan Awliya Ipin (Saipin), dan Pasarean Kebon Gandaria, di Kelurahan Jatirangga, serta Makam Mbah Raden, di Kelurahan Jatiraden.

Kraton Pasarean Selamiring Embah Uyut Kranggan, dan makam mbah Priadi Jaya Sampurna, mbah Raden Mas Wajah, dan aki Sajian, di petilasan Tarikolot, Kelurahan Jatisampurna Kota Bekasi.

“Mbah Priadi Jaya Sampurna, mbah Raden Mas Wajah, dan aki Sajian, adalah tokoh berpengaruh pada masanya dalam hal kehidupan sosial budaya, maupun dalam penyebaran agama Islam,” terang Ketua Umum Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan ini.

 

 

Mengenai Mbah Priadi Jaya Sampurna, dan Mbah Raden Mas Wajah

Masyarakat banyak yang tidak tahu, kata Eddie, bahwa Mbah Priadi Jaya Sampurna, dan mbah Raden Mas Wajah, keduanya adalah Awliya; Walijah asal Cirebon yang ikut menyebarkan ajaran Islam di Nusantara.

Mbah Raden Mas Wajah, atau dikenal juga sebagai mbah Sempak Wajah Penatagama memiliki nama asli Syeh Nur Alif.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Sementara aki Sajian adalah penduduk asli di kawasan yang kini disebut Kampung Kranggan, Jatikarya, Jatisampurna. Beliau merupakan pemuka masyarakat yang mewakafkan tanahnya kini dikenal sebagai makam Tarikolot. Syiar Islam mbah Priadi Jaya Sampurna, dan mbah Raden Mas Wajah di wilayah ini diperkirakan sekitar 450 tahun lalu. Pada masa awal perkembangan Islam di Cirebon yang disyiarkan Maulana Idhofi Mahdi atau yang dikenal Syekh Nurjati. Syekh Nurjati merupakan guru dari Syekh Siti Jenar, dan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Banyak tokoh masyhur belajar kepadanya. Sehingga kemudian Syekh Nurjati kerap disebut guru para wali.

Halaman
Show All
Hernowo Anggie, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan