Strategisnya Penggunaan Bahasa Daerah dalam Film untuk Pelestarian Budaya

Bahasa daerah dipergunakan dalam film yang bisa melestarikan budaya.

Diperbarui 19 Agustus 2023, 19:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Bayu merasa bangga bisa berbicara dalam Bahasa Jawa halus. Sementara, generasi Z cenderung menggabungkan Bahasa Jawa dengan Bahasa Indonesia. Oleh karena itu, Bayu mendorong para sineas dan produser untuk lebih aktif dalam memproduksi film berbahasa daerah.

Menegaskan pentingnya penggunaan bahasa daerah dalam perfilman, Bayu menjelaskan bahwa dalam kosa kata daerah, penonton dapat menemukan idiom dan dialek khas yang memperkaya pengalaman budaya. Dia berkomitmen untuk terus mengembangkan film berbahasa daerah dengan variasi dialek seperti Bahasa Jawa Ngapak, Bahasa Madura, dan lainnya.

Pelestarian Melalui Film

Susi Ivvaty berbagi pengalamannya tentang bagaimana film dapat menjadi sarana pelestarian bahasa daerah. Dia mengutip beberapa contoh seperti film "Siti" dan "Turah" yang menggunakan Bahasa Jawa, serta "Uang Panai" dengan bahasa Makasar-Bugis. Film "Yuni" misalnya, mengangkat cerita tradisi masyarakat Serang Banten dengan Bahasa Jawa Serang yang dicampur dengan Bahasa Sunda.

Susi menjelaskan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Serang yang berbicara dalam dialek Jawa dan Sunda mampu memahami satu sama lain. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa daerah menjadi perekat yang kuat dalam budaya.

Film, menurut Susi, perlu memanfaatkan bahasa daerah ketika bercerita tentang adat dan budaya khas suatu daerah. "Karena feelnya ada di dalam bahasa itu," tambahnya. Penggunaan bahasa daerah adalah cara untuk menghindari kepunahan bahasa.

Susi juga merindukan sosok Remy Silado, seorang seniman yang piawai dalam berbagai bahasa daerah dan asing. Remy Silado, yang meninggal tahun lalu, mendorong Susi untuk merawat dan menggunakan bahasa daerah.

 

Sukses dalam Berbagai Aspek

Edi Suwardi, mewakili Ahmad Mahendra dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi, mengakui bahwa semakin banyak film Indonesia yang menggunakan bahasa daerah. Dia menunjukkan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mendukung penggunaan bahasa daerah dalam berbagai media.

Dalam era digital yang semakin berkembang, produksi dan distribusi film menjadi lebih mudah dan beragam. Film-film berbahasa daerah seperti "Arisan! (The Gathering)," "Filosofi Kopi," dan "Tarian Lengger Maut" telah berhasil secara komersial dan membantu meningkatkan kesadaran akan pentingnya bahasa daerah dalam budaya Indonesia.

Edi menyimpulkan bahwa ke depannya akan semakin banyak film Indonesia yang menggunakan bahasa daerah dalam upaya melestarikan budaya daerah.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Aditia Saputra, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan