Resensi Film Gara-gara Warisan: Dear Adam, Anak Pertama Pundaknya Memang Harus Kuat

Tiga film Indonesia dirilis pada Sabtu (30/4/2022). Salah satunya, Gara-gara Warisan yang menempatkan Muhadkly Acho sebagai penulis skrip dan sutradara.

Diterbitkan 02 Mei 2022, 17:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Hubungan orangtua dan anak, tema yang mudah terkoneksi dengan siapa saja. Ini modal emas Gara-gara Warisan. Apalagi, alurnya digerakkan pemain dengan jam terbang tinggi. Yayu Unru sebagai Dahlan adalah yang terbaik. Cinta tergambar jelas di sorot matanya saat menatap Lydia.

Penohonan dalam Film

Pun ketika berinteraksi dengan pasangan baru, kita melihat cinta tapi beda rasa. Kehilangan membuatnya sadar ada yang tak bisa diganti dan Yayu dengan reputasi meraih 2 Piala Citra mampu mengekskusi itu dengan apik.

Bagian drama dibangun dengan lumayan rapi. Kombinasi Oka-Indah-Ge tidak bisa dibilang buruk. Oka dengan emosi yang tertahan sejak awal menemukan momentum untuk meledak. Laras di tangan Indah adalah perpaduan idealisme dalam memandang hidup dan keyakinan.

Berprinsip tapi punya sisi lemah yang membuat karakter ini terasa manusiawi. Ge dengan rekanan Sheila Dara menjadi lebih utuh. Sheila memberi energi kepada Ge sehingga tokoh Dicky punya bahan bakar tambahan untuk melaju ke partai puncak yang emosional.

 

Pilar Komedi Versus Drama

Tokoh-tokoh pendukung pun tampil prima. Yang paling kentara, Lukman Sardi. Presense-nya sejak kali pertama muncul sembari buka kaca jendela mobil saja sudah mengisyaratkan energi negatif yang mesti diantisipasi. Ia paling jago soal beginian.

Gara-gara Warisan punya sejumlah catatan untuk Acho sebagai sineas debutan. Salah satunya, pembagian porsi drama dan komedi. Berupaya membagi dua sama rata. Saat dicermati, sejatinya tak semua lawakan yang dibawa Asci Resti, Lolox, Ence Bagus, dan Dicky berhasil.

Penempatannya pun ada yang malah menggerus departemen drama. Satu contoh, ketika Laras balik ke panti dengan berlinang air mata lalu memeluk seorang nenek yang tengah berbaring. Berharap ada waktu ekstra untuk adegan seemosional ini, nyatanya malah terputus untuk sketsa lain.

Beratnya Jadi Adam

Porsi komedi alangkah baiknya direduksi mengingat setiap anggota keluarga Dahlan bermotif dan kompleks. Butuh waktu tambahan bagi masing-masing tokoh untuk selesai dengan diri sendiri lalu menyelesaikan konflik satu sama lain.

Gara-gara Warisan adalah film keluarga. Jika ditonton oleh seluruh anggota keluarga, masing-masing akan punya titik peka yang berbeda dalam film ini. Titik peka saya sebagai anak sulung, jelas berada di Adam.

Dialah sulung yang diminta jadi contoh ideal soal pendidikan, standar sukses, dan harus mengalah dengan yang lebih muda. Sejujurnya dibutuhkan pundak ekstra kuat untuk menyangga ekspektasi plus kewajiban sebesar ini.

Adu Kuat

Melihat Adam, rasanya ingin menghampiri layar lebar, memeluknya dan bilang: Dear Adam, anak pertama pundaknya memang harus kuat. Baru 10 menit film bergulir, mata sudah berkaca-kaca melihat Adam kecil dengan beban besar.

Selebihnya adalah adu kuat antara hati penonton melawan konflik Gara-gara Warisan yang meruncing hingga menjelang menit akhir. Hasilnya? Saya “kalah” karena mewek dua kali.

 

Pemain: Oka Antara, Indah Permatasari, Ge Pamungkas, Yayu Unru, Ira Wibowo, Lydia Kandou, Ernest Prakasa, Marini

Produser: Chand Parwez Servia, Ernest Prakasa

Sutradara: Muhadkly Acho

Penulis: Muhadkly Acho

Produksi: Starvision Plus

Durasi: 119 menit

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Meiristica NurulTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan