Resensi Film Balada Sepasang Kekasih Gila, Menggugat Selera dan Perilaku Mereka Yang Ngaku Waras

Film Balada Sepasang Kekasih Gila karya sineas Anggy Umbara dibintangi Denny Sumargo dan Sara Fajira. Berikut resensinya.

Diperbarui 22 Agustus 2021, 06:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Beberapa adegan mengingatkan kami pada setidaknya dua film klasik Indonesia. Adegan pembunuhan yang dilakukan Lastri membuat kami teringat Penyesalan Seumur Hidup (Frank Rorimpandey, 1986).

Tak Memberi Jeda

Adegan Lastri diolok dan dilempari batu oleh anak-anak mengingatkan kami pada nasib Marissa (Ida Iasha) di Seputih Kasih Semerah Luka karya sineas Wim Umboh (1988). Tentu saja, Anggy Umbara tidak bermaksud meniru. Hanya kebetulan serupa.

Anggy Umbara tak memberi jeda penonton untuk relaks sejenak. Nyaris tak ada percikan komedi di sepanjang film. Agar Balada Sepasang Kekasih Gila tidak kelam-kelam amat, tata musik film ini diberi kesempatan “berkomedi” mengikuti polah dan interaksi tokoh dengan gangguan jiwa.

Film ini tak bermaksud memojokkan ODGJ. Sebaliknya, Han dan Anggy lewat naskah mengajak kita berempati kepada mereka yang selama ini dianggap tak waras atau kehilangan akal sehat.

 

Tiga Alasan

Pertama, kehilangan kewarasan bukan kemauan mereka. Tekanan hidup dan perilaku jahat orang di sekitar adalah faktor pemicu yang mengimpit kewarasan. Kedua, kadang selera mereka yang mengaku waras tak lebih baik dari yang dianggap gila.

Ini tampak saat Sara dan Jarot mengecek koleksi buku bekas di dalam boks. Isinya, dari Aku karya Suman Djaja hingga Bumi Manusia gubahan Pramoedya Ananta Toer. Pasangan ini lantas mempertanyakan keputusan orang waras yang membuang buku ini.

Ketiga, soal kepedulian. Jarot di tengah apes bertubi masih punya hati untuk menyelamatkan perempuan korban kekerasan. Ia masih punya semangat untuk bersikap sempurna dan khusyuk hormat kepada Sang Merah Putih. Bagaimana dengan kita yang mengaku waras?

Effort Pemain Utama

Sentilan-sentilan macam ini menyelamatkan Balada Sepasang Kekasih Gila dari jebakan drama klise yang mengeksploitasi penderitaan dan air mata. Ia masih punya martabat.

Apalagi, Denny Sumargo dan Sara Fajira menunjukkan effort lebih untuk menghidupkan dua karakter utama. Denny mengubah warna vokal. Riasannya saat rambut mulai gondrong dan makin kumal nyaris membuat kita tak mengenali sang aktor.

Sara Fajira masih punya sisi cantik di balik rambut yang mengembang dan daster ala kadarnya. Transformasinya dari gila, hampir gila, dan waras berpotensi mengundang simpati.

Terkoneksi

Tema Balada Sepasang Kekasih Gila barangkali agak berat dicerna, apalagi jika suasana hati kita lagi kusut. Siapkan pikiran yang santai dan suasana hati relaks untuk meresapi film ini. Sejatinya, Balada Sepasang Kekasih gila menyimpan banyak keresahan yang mungkin Anda rasakan.

Ia menyimpan banyak gugatan terkait fenomena sosial yang bisa jadi Anda pertanyakan. Film ini memotret kenyataan dan ketidakadilan yang mengkhianati harapan. Yang ini pun tentu terkoneksi dengan kita semua.

 

 

Pemain: Denny Sumargo, Sara Fajira, Vera Sharoon, Rachel Hersas, Wing Sayz, Nurul Melly

Produser: Agung Haryanto

Sutradara: Anggy Umbara

Penulis: Han Gagas, Anggy Umbara

Produksi: Canary Studios, KlikFilm Productions, Umbara Brothers Films

Durasi: 1 jam, 30 menit

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Hernowo AnggieTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan