Resensi Film The Conjuring 3: Cenayang Lorraine dan Ed Warren Lawan Iblis yang Bisa Baca Ayat-ayat Tuhan

The Conjuring 3 alias The Conjuring: The Devil Made Me Do It menampilkan fase penting dalam karier cenayang Ed dan Lorraine Warren.

Diterbitkan 02 Juni 2021, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Penglihatan Sang Cenayang

Wajar pula jika fase ini disebut ujian terberat dalam karier Ed-Lorraine. Dibuka dengan adegan eksorsis yang bombastis, kengerian dibangun lewat tata kamera yang dinamis plus riasan di wajah si bocah yang kemasukan setan. Seperti beruntusan dan meleleh.

Tubuhnya lantas kayang di atas meja. Plus, tata artistik berupa rumah dengan banyak ruangan dan perabot bernuansa retro menambah nuansa seram dalam film. Michael Chaves punya selera tersendiri dalam menuturkan kisah Ed-Lorraine kali ini.

Sejak awal, ia memberi klu berupa penglihatan yang didapat sang cenayang putri. Klu berupa kilasan adegan muncul di menit awal. Sayang, ia tak memberi dampak dan akhirnya dijelaskan sendiri oleh tokoh utama. Barulah penonton memperoleh titik terang.

Horor dan Investigasi Hukum

Mestinya, klu ini disimpan saja hingga pertengahan agar suasana honor dan investigasi hukum membuat audiens terus menerka. Kelemahan ini ditambah fakta bahwa tidak ada adegan jump-scare yang ikonis, yang selama ini menjadi ciri khas The Conjuring.

Kata ikonis patut digarisbawahi karena itulah yang akan jadi cendera mata bagi penonton. Masih ingat adegan tepuk tangan setan di tangga menuju rubanah kediaman Carolyn Perron (Lily Taylor)? Atau sosok Crooked Man dengan lagunya yang mengerikan di The Conjuring 2?

Hal yang sama tak kita dapat di jilid The Devil Made Me Do It. Michael hanya memberi kita oleh-oleh kisah sempalan yang berpotensi menjadi film sendiri yakni dua sahabat Katie (Andrea Andrade) dan Jessica (Ingrid Bisu).

 

Tiga Poros Cerita

Michael sedikit keteteran dalam menggerakkan tiga poros cerita yakni keluarga Glatzel, Danvers, dan babak akhir. Ketegangan kurang terasa menanjak, babak akhir tak setegang dua jilid sebelumnya.

Kunci untuk menikmati film ini yakni fokus pada chemistry Patrick Wilson dan Vera Farmiga. Sejak awal keduanya muncul, melihat pelipis Patrick yang mulai dihiasi kerutan saja kita seolah diingatkan betapa sepasang cenayang kesayangan ini telah melewati banyak hal.

Kisah yang disajikan dalam film ini, menguatkan rasa takut kehilangan di antara keduanya. Cara lain menikmati film ini, coba ingat ujaran klasik yang menyebut manusia bisa lebih seram daripada setan itu sendiri. Jika Anda meyakini ujaran ini, jelas Anda bisa menikmati menu utamanya.

 

 

Modal Utama Film Ini

Modal utama film ini bukan penampakan layaknya horor tulen umumnya, melainkan seni mengurai simpul rumit kasus pembunuhan berlatar kekuatan tak kasat mata. Proses eksorsis, investigasi, persidangan, hingga upaya baca pertanda membuat kita deg-degan.

Kredit juga patut diberikan kepada Ruairi O’Connor. Ekspresi ganjilnya, cara berjalan, dan tatapan matanya benar-benar bikin risi. Belum lagi saat kita membaca catatan kaki di akhir film soal sosok nyata Arne Johnson. Wuih, ngeri-ngeri sedap.

Bagi kami, jilid ini tak sebagus The Conjuring 1 dan 2, namun tetap menegangkan serta layak tonton di bioskop. Jangan lupa, patuhi protokol kesehatan selama di lingkungfan bioskop ya.

 

Main Tebak-tebakan yuk!

Sudah lama ya kita enggak main tebak-tebakan. Sebutkan penyanyi legendaris Hollywood yang arwahnya sempat dijumpai Lorainne Warren:

A. Frank Sinatra

B. Marilyn Monroe

C. Judy Garland

D. Elvis Presley

E. Jim Morisson

 

 

 

Pemain: Vera Farmiga, Patrick Wilson, Ruairi O’Connor, Sarah Catherine Hook, Julian Hilliard, Keith Arthur Bolden, Inggrid Bisu, Andrea Andrade

Produser: James Wan, Peter Safran

Sutradara: Muchael Chaves

Penulis: David Leslie Johnson-McGoldrick

Produksi: New Line Cinema, Warner Bros.

Durasi: 1 jam, 52 menit

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Meiristica NurulTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan