Resensi Film Wrath of Man: Jangan Macam-macam Sama Bung Jason Statham, Nanti Kena Dor

Film Wrath of Man yang dibintangi Jason Statham laris manis. Ia memuncaki box office dunia dan mendominasi layar bioskop Indonesia.

Diperbarui 10 Mei 2021, 14:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Seperti Liam Nesson, film aksi apa pun asal dibintangi Jason Statham hampir bisa dipastikan ramai di bioskop. Termasuk, Wrath of Man yang tayang di Indonesia sejak 5 Mei 2021.

Wrath of Man yang menempatkan Jason Statham di garda depan disutradarai Guy Ritchie, nama besar yang menghasilkan sejumlah box office seperti Aladdin, Sherlock Holmes, dan The Man From U.N.C.L.E.

Warth of Man dipresentasikan dalam nuansa kelam dengan tensi ketegangan yang terus menanjak hingga babak akhir. Belum sempat menonton? Simak dulu resensi film Wrath of Man berikut ini.

 

Perampokan Mobil Lapis Baja

Wrath of Man dimulai dengan aksi perampokan mobil lapis baja milik Fortico Security yang mengangkut uang dari sejumlah bank dan perusahaan terkemuka. Beberapa pria bertopeng lengkap dengan senjata mengadang mobil ini. Terjadi baku tembak. Dua personel Fortico tewas.

Setelahnya, Fortico merekrut karyawan baru, Patrick Hill (Jason Statham). Lulus uji dengan skor minim 70, nyatanya ia mampu melumpuhkan sejumlah perampok yang mencoba menggasak uang dari mobil Fortico. Semua perampok didor tanpa ampun.

Kiprah H bikin takjub rekan sejawat dari Sweat Dave (Josh Hartnett), Dana (Niamh Algar) hingga mentornya sendiri, Bullet (Holt McCallany). Yang paling dikhawatirkan terjadi, yakni perampokan pada Black Friday.

Menyusup Gedung Fortico Security

Kepala geng rampok, Jackson (Jeffrey Donovan), melobi orang dalam agar bisa menyusup gedung Fortico Security. Targetnya, sapu seluruh uang di kantor tersebut. H sendiri tengah dibakar dendam. Putranya yakni Dougie (Eli Brown) tewas ditembak salah satu perampok.

Mengasup Wrath of Man layaknya membaca novel fiksi petualangan yang melibatkan sejumlah perampok. Ia terbagi dalam sejumlah bab yakni Roh Jahat, Bumi Hangus, Binatang Nakal dan Buruk, serta Hati Paru Ginjal Jantung.

Setiap bab mempresentasikan fase tokoh utama yang dikaitkan dengan kinerjanya di Fortico, latar belakang pribadi, interaksi dengan keluarga dan rekan kerja, hingga siapa yang dihadapinya.

 

Tonjokan Konflik

Repotnya membagi film ke dalam bab eksplisit, membuat setiap bab sama menariknya hingga penonton kesulitan menemukan mana yang paling seru. Roh Jahat bisa jadi yang paling rentan. Ia memuat tugas mahapenting yakni perkenalan tokoh namun harus tetap terasa tonjokan konfliknya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Bab pertama ini bisa jadi tak sekuat bab lain. Namun, Guy dengan lihai mengemas Patrick Hill menjadi pribadi eksentrik yang patut “dicurigai” penonton. Nilai pas-pasan kok dijadikan poros cerita? Setelahnya, adalah aksi-aksi dengan plot maju mundur. Dalam konteks film aksi dengan karakter tak terlalu banyak, maju mundurnya alur tak sampai membuat kepala terasa cekot-cekot.  

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan