Liputan6.com, Jakarta - Viddsee Juree Awards Indonesia 2020, festival film pendek tahunan yang diselenggarakan untuk mendukung komunitas pembuat film di Asia, menunjuk 10 film pendek Indonesia sebagai finalis.
Film-film pendek Indonesia yang masuk nominasi Viddsee Juree Awards Indonesia 2020 ini merupakan hasil karya para sineas berbakat dari berbagai penjuru Tanah Air yang telah mendapatkan sejumlah penghargaan.
Genre dan topik pada sepuluh film yang menjadi nominasi Viddsee Juree Awards Indonesia 2020 ini pun cukup beragam serta memiliki unsur yang menghibur dan inspirasitif. Misalnya drama yang berfokus pada isu politik, korupsi, hubungan keluarga, serta komedi dan satir.
Deretan Sineas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3227217/original/016898600_1599111244-Vidsee_-_Parade_Film_Pendek_-_Poster_Generik_-_Thumbnail.jpg)
Untuk para sineas berprestasi, sebut saja Rofie Fauzie dan Luhki Herwanayogi yang pernah dinominasikan di Festival Film Indonesia.
Lalu ada Razny Mahardhika dan Iqbal Arieffurahman, dua pembuat film muda yang telah meraih berbagai penghargaan di banyak festival.
Kemudian Najam Yardo dan Sidharta Tata yang merupakan pembuat film asal Jogjakarta, serta Mohammad Ifhdal dari Palu.
Film-Film yang Masuk Nominasi
Untuk judul film terpilih, pertama ada Asa yang disutradarai oleh Loeloe Hendra. Film ini berkisah mengenai seorang gadis remaja yang tengah menghadapi situasi kehamilan tak diinginkan.
Kemudian terdapat juga Journey to Iftar karya Razny Mahardika, sebuah kisah ringan yang memotret hubungan ayah dan anak lelakinya.
Lalu ada Rendang of Death karya Muhammad Andri Abdi dari Percolate Galactic, sebuah animasi yang menangkap riuhnya pertengkaran di media sosial dengan gaya yang satir dan komikal di sebuah Rumah Makan Padang.
Film Dokumenter
Terdapat juga dua film dokumenter dalam daftar finalis ini. Pertama adalah Paguruan 4.0 karya Lyanta Laras Putri dan Abdi Firdaus, sebuah dokumenter yang mengkritisi sistem pendidikan Indonesia dan sudah memenangkan Program Dokumenter Eagle Awards 2019.
Film dokumenter kedua adalah 50:50 karya Rozie Fauzie yang menyorot komunitas transpuan Indonesia melalui kisah persona dari sudut pandang transpuan lanjut usia di rumah singgah.
Mewakili Kreativitas
“Seluruh film yang masuk pada tahun ini merepresentasikan kreativitas dan keberanian para pembuat film Indonesia, yang memegang peranan penting dalam menceritakan kisah lokal yang merefleksikan masyarakat Indonesia dan isu-isu yang harus didiskusikan,” ujar Arie Kartikasari selaku Content Community Manager Viddsee Indonesia melalui keterangan tertulis yang diterima Showbiz Liputan6.com.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4160798/original/079359000_1663319947-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296249/original/006576900_1784009127-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T124739.847.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5253327/original/062598000_1750044459-cek_fakta_dubes_jepang.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9325714/original/050754000_1786927542-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-17T074440.081.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3233681/original/078260400_1599704583-Juree_ID_2020_Carousel_banner_-_detailed_event_0c39a0e6c6d55ce6ac69ba0e1349d54a_large.jpg)