SHOWBIZ BLAK-BLAKAN: Aku Didepak Produser Sinetron Karena Minta Pulang Syuting Lebih Awal (bagian 4- Habis)

Di bagian terakhir Showbiz Blak-Blakan kali ini kisah tambah dramatis. Inilah babak paling menyakitkan dalam hidup pesinetron Cakra Wibawa.

Diterbitkan 03 April 2020, 20:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Mendengar respons Mas Budi, sebenarnya aku agak kecewa. Kesannya, kok rating dan share yang lagi turun lebih penting dariku. Lagipula seturun-turunnya Satu Cinta Dua Pilihan, masih dua digit, kok. Mendengar jawaban itu, aku beringsut mengambil naskah lalu membacanya dengan hati gondok.

Sepanjang hari itu, aku berakting sekenanya. Mas Budi tampak kesal tapi diam saja. Masa bodohlah. Jam 11 malam, Adinda Arahma dan Krisna Baginda pamit dari lokasi syuting. Aku dan Nadea masih ada beberapa adegan. Batinku seketika mendidih.

Sempat, ia mendekat dan mengabari, “Eh Kak, tadi siang Pak Hadi Sasongko datang, lo.” Aku tak merespons. Nadea yang menyadari aku lagi bad mood kemudian diam. Jam 12 lewat, aku duduk di teras rumah yang menjadi set lokasi rumah Baruno.

Gagal Memperbaiki Mood

Aku mendengar lagu-lagu favorit dari YouTube berlangganan. Apes, lagu-lagu di daftar putar akun YouTube-ku tak bisa memperbaiki mood. Saat dipanggil untuk mengeksekusi adegan puncak, yakni pertengkaran Baruno dan Amarta hingga saling tampar, aku lakukan sebisanya. Jam 3 dini hari, syuting selesai.

Aku pulang begitu saja, tanpa pamit ke Budi, Nadea, dan pemain lain. Tiba di rumah, aku tidur. Tanpa mandi, cuci muka maupun sikat gigi. Sekusut itu perasaanku. Jam 6 pagi aku terbangun karena Mbak Dania menelepon, memintaku ke kantor Motion Pictures sebelum ke lokasi syuting. Aku sanggupi.

Sampai di kantor, aku masuk ke ruangan Mbak Dania. Ruangan bersejarah saat aku teken kontrak tanpa membaca detail pasal demi pasal karena lagi butuh uang. Alangkah syok, saat mendapati di ruangan itu tak ada Mbak Dania. Yang ada Hadi Sasongko. Untuk sesaat aku terdiam. Ia mempersilakan aku duduk.

 

Akting Terburuk Sepanjang Masa

“Selamat pagi, Baruno. Pagi kemarin saya membatalkan acara keluarga karena Budi mengabari saya. Katanya, kamu minta pulang jam 11 malam kayak dua pemeran utama. Saya sanggupi dengan catatan saya harus ke lokasi syuting dulu,” kata Pak Hadi tanpa basa-basi.

>Aku yang baru saja duduk usai menjabat tangan Pak Hadi terpaku. Belum sempat kujawab sapa Pak Hadi, dia meletakkan bungkus rokok dan kembali memecah keheningan di ruangan itu.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

“Kamu tahu bagaimana perasaan saya melihat gestur dan dialog Baruno sepanjang hari kemarin? Selama 20 tahun saya menjadi produser sinetron, film, dan FTV, itu adalah akting paling buruk yang pernah saya lihat,” lanjut Pak Hadi, dengan mata memerah. “Benar, saya pernah memproduksi film receh Arwah Seorang Janda. Tapi jangan lupa, akting pemeran pendukungnya dinominasikan di beberapa festival film di negara ini. Cerita kadang masih bisa saya kompromikan, selama itu dibawakan dengan keren oleh pemain,” ujarnya.

Halaman
Show All
Anjali LTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan