Ip Man 4: The Finale, Jilid Pamungkas dengan Sekat Antagonis dan Protagonis Terlalu Tegas

Ip Man 4: The Finale menjadi babak pamungkas dari rangkaian perjalanan Sang Guru.

Diterbitkan 31 Desember 2019, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Tak terima, terjadi baku hantam dan sambil merem kita tahu siapa pemenangnya. Formula ini berulang dengan tokoh protagonis dan antagonis berbeda. Repetisi ini membuat Ip Man 4: The Finale makin ke belakang makin kehabisan gereget.

Penonton akhirnya makin santai sambil menanti babak akhir film ini menyajikan duel Ip Man dengan siapa, mengingat ada sejumlah tokoh antagonis yang dengan motivasi beragam.

Gep Yang Terlampau Kentara

Catatan lain yang membuat Ip Man 4: The Finale terasa klise, tokoh utama menjadi one man show. Segala konflik yang terjadi di film ini bermuara di pundaknya. Efek positifnya, penonton punya ikatan batin kuat dengan sang tokoh utama. Negatifnya, Ip Man yang bersahaja kurang dimanusiakan.

Beruntung, drama di keluarga kecilnya mampu menarik simpati kita. Kesan klise kembali menguat saat kami mendapati gep yang jelas antara barisan pemain bule dengan yang berwajah oriental. Ada garis pembeda yang tegas. Garis itu memperlihatkan para pemain bule di film ini digambarkan jahat. Kita tahu siapa kubu protagonisnya.

Satu-satunya bule yang baik hati bisa jadi orang Afrika-Amerika yang ndilalah punya ketertarikan pada seni bela diri Tiongkok. Haruskah ada garis pembeda setebal ini? Itulah pertanyaan yang sejak awal menggelayut di benak kami.

Meremas Hati

Soal akting, Donnie Yen tampak menyatu dengan Ip Man. Berkali-kali membintangi, kita melihat sosok Ip Man yang bersahaja, layak disebut jagoan namun tidak sok jagoan. Sempurna sebagai tokoh utama.

Di sisi lain, darinya pula kita melihat ketidaksempurnaan, yakni hubungannya dengan anak. Adegan di telepon berlangsung sikat, efektif membuat kami berlinang air mata.

Wilson Yip hanya butuh satu adegan untuk memperlihatkan bahwa jilid akhir ini dibuat dengan hati, menyatukan dua generasi lewat sebuah momen sedih. Akting Donny Yen dan Ye He di adegan ini berhasil meremas hati.

Pujian Untuk Kent Cheng

Pujian juga patut diberikan kepada Kent Cheng yang dulu mencuri perhatian lewat Chasing The Dragon. Sebagai sahabat sekaligus paman, kehadirannya mutlak diperlukan untuk menjembatani kebekuan hubungan ayah dan anak sekaligus mencairkan suasana. Usai menonton film ini, kami jadi kepikiran mencari sahabat sebaik Fatso.

Sebagai sebuah penutup, Ip Man 4: The Finale memberi sentuhan akhir yang ciamik dan melegakan dalam kemasan bersahaja. Waralaba Ip Man memperlihatkan konsistensi dalam mengemas babak-babak kehidupan Sang Guru. Sulit untuk memilih mana dari keempat jilid ini yang paling oke. Mengingat, keempatnya digarap sineas yang sama.

Wilson Yip tahu persis benang merah yang mestinya menghubungkan film demi film. Tema besar apa yang disajikan pada masing-masing jilid agar tak bertubrukan atau berat sebelah. 

Tanda Mata Terakhir

Jilid pertama tentu membekas mengingat yang pertama biasanya mudah dikenang oleh pikiran. Yang terakhir ini pun sulit diabaikan begitu saja. Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, Ip Man 4: The Finale tetap layak diapresiasi.

Ia memungkinkan audiens mendapat gambaran lebih utuh tentang seorang legenda yang kemudian melahirkan legenda lainnya. Dituturkan dengan ringkas, film ini berhasil membagi pilar drama dan aksi dengan adil. Inilah kunci yang membuat Ip Man 4: The Finale tetap berisi dan bisa dinikmati. Inilah tanda mata terakhir Ip Man untuk kita.

 

 

Pemain: Donnie Yen, Wu Yue, Kent Cheng, Vanness Wu, Danny Chan, Ye He, Vanda Margraf, Grace Englert

Produser: Raymond Wong, Wilson Yop, Donnie Yen

Sutradara: Wilson Yip

Penulis: Edmond Wong, Dana Fukazawa, Chan Tai Lee, Jil Leung Lai Yin

Produksi: Pegasus Motion Pictures

Durasi: 1 jam, 45 menit

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Hernowo AnggieTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan