Jeritan Malam: Apa Yang Bikin Film Ini Beda dari Karya Rocky Soraya Sebelumnya?

Jeritan Malam dipoles Rocky Soraya, sineas yang telah melahirkan empat horor box office.

Diterbitkan 11 Desember 2019, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

The Doll menekankan kisahnya pada Anya (Shandy Aulia). Mata Batin berporos pada Alia (Jessica Mila) dan adik perempuannya. The Doll 2 dan Sabrina menampilkan tokoh Maira (Luna Maya). Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur jelas bertumpu pada karakter ikonis Suzzanna. Dalam Jeritan Malam, semua adegan mengacu pada logika berpikir dan keputusan-keputusan besar yang dibuat Reza.

Wulan memang berdampak dalam cerita tapi tak dominan. Ia muncul di awal untuk memotivasi tokoh utama. Hadir lagi di pertengahan untuk menguatkan cerita cinta dan mengantar tokoh utama ke fase titik balik. Di akhir, Wulan mengeksekusi babak penutup secara dramatis.

Empat Laki-laki, Empat Fungsi

Film ini menitikberatkan pada interaksi empat laki-laki. Ini yang membuat warna Jeritan Malam tampak lain. Melihat laki-laki diteror sensasinya beda dengan wanita yang dijadikan bulan-bulanan lelembut lalu membuat perlawanan.

Empati kita bisa jadi tak sedalam saat perempuan dijadikan penyintas. Dalam hal ini, keberanian Rocky mencoba hal baru layak dipuji. Pertalian empat pria di satu atap membuat penonton merasakan banyak emosi dari takut, was-was, bahkan terbahak.

Yang menarik empat laki-laki ini punya fungsi berbeda. Herjunot mengemban beban terberat. Winky medium yang memberi pertanda penting terkait misteri di mes jahanam itu. Indra Brasco pencair suasana. Fuad menjembatani Reza dengan sejumlah tokoh penting. Tak butuh banyak tokoh tapi semua punya peran krusial.

 

Sepi Darah

Kedua, tak seperti horor Rocky sebelumnya, Jeritan Malam relatif sepi darah dan tidak lebih sadis. Bisa jadi, karena film ini didasari kisah seseorang. Keabsahan dan kemiripan dua faktor yang wajib diperhatikan. Selain itu ada nuansa kultur. Yang diminta tumbal, bukan (visual) darah. Ketiga, Jeritan Malam menggulirkan cerita dari sudut pandang orang pertama dengan narasi lebih ceriwis.

Pesan film ini dalam format bahasa gambar sudah sejernih kristal. Setiap orang bebas memilih namun tak punya kebebasan memilih konsekuensi dari pilihan yang telah dibuat. Tim penulis naskah lebih dari sekali mengingatkan penonton agar tak mengikuti polah Reza.

 

Tentang Kehilangan

Padahal, tanpa peringatan ini pun penonton usia belasan telah merasakan sakitnya kehilangan. Dari kehilangan seseorang hingga kesempatan istimewa. Mungkin penonton kita tipe yang perlu ditegur secara lisan berkali-kali. Mungkin.

Jeritan Malam dengan rentang waktu hampir dua jam bukan sekadar perjalanan melawan setan. Lebih dari itu, film ini perjalanan spiritual memaknai eksistensi Tuhan dan setan, cinta (pasangan serta keluarga), maupun kehidupan. Yang tak terlihat bukan berarti tak ada. Yang tak terlihat tidak harus ditakuti, cukup dihargai keberadaannya.

Poin Plus

Penekanannya ada pada tokoh utama dan sudut pandangnya. Bukan pada setan dan mengapa ia memamerkan keberanian dengan memanfaatkan ketakutan manusia. Itu sebabnya, setan yang tampak tak seperti horor kebanyakan.

Lebih kalem karena yang ditonjolkan adalah eksistensi, bukan aspek kengerian. Beradu dengan Jumanji: The Next Level dan Rembulan Tenggelam Di Wajahmu, Jeritan Malam punya peluang untuk mencetak box office. Poin plus lain, desain poster film ini sukses mentransfer ketakutan bahkan sebelum penonton masuk studio. Berani mencoba?

 

 

Pemain: Herjunot Ali, Cinta Laura, Winky Wiryawan, Indra Brasco, Roy Marten, D’ Ratu, Fuad Idris

Produser: Sunil Soraya

Sutradara: Rocky Soraya

Penulis: Ferry Lesmana, Donny Dhirgantoro, Meta.morfosis

Produksi: Soraya Intercine Films

Durasi: 119 menit

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Hernowo AnggieTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan